Barcelona belum pernah sekali pun mencatatkan nirbobol di Liga Champions musim ini. Walakin, Hansi Flick tetap bersikukuh bermain dengan garis pertahanan tinggi.
06 Nov 2025 12:42 WIB · Olahraga
AFP
BRUGGE, KAMIS — Sebagai klub raksasa dengan segudang prestasi di Liga Champions Eropa, mencetak gol bukanlah perkara sulit bagi Barcelona. Namun, mewujudkan capaian nirbobol agaknya jadi hal yang nyaris mustahil bagi mereka. Hasil imbang 3-3 kontra Club Brugge menegaskan masalah konsisten Barca yang terus diremehkan Hansi Flick.
Sudah menjalani empat laga Liga Champions, tetapi masih belum ada catatan nirbobol bagi Barca. Total 12 gol sudah dilesakkan Barca dalam empat laga itu. Hanya saja ketajaman di lini depan tidak seiring dengan kinerja lini pertahanan yang telah kemasukan tujuh gol. Menghadapi klub sekelas Brugge pun Barca harus bersusah payah demi menyelamatkan hasil imbang.
Kinerja lini pertahanan memang belum berhasil sepenuhnya diselesaikan Pelatih Hansi Flick. Filosofi menekan dengan garis pertahanan tinggi kembali menjadi bumerang yang tidak hanya menggagalkan Barca meraih nirbobol, tetapi juga kemenangan. Mayoritas gol Brugge yang dilesakkan Nicolo Tresoldi dan Carlos Forbs (dua gol) berasal dari skema yang memanfaatkan kelengahan garis pertahanan tinggi Barca.
Forbs yang punya kecepatan serta keterampilan dalam menggiring bola menjadi momok menakutkan bagi pertahanan Barca. Dengan kecepatannya, ia mampu lolos dari perangkap offside lalu menyumbangkan satu asis kepada Tresoldi dan mencetak dua gol.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/06/fd71aee448cd6e18138c518a65080ea3-wires_photo_12_.jpg)
Garis pertahanan tinggi yang musim lalu bisa memperdayai para lawan Barca kini bukan sesuatu yang menakutkan lagi. Banyak tim sudah menemukan cara mengatasinya, termasuk Brugge. Sepanjang laga, Barca hanya mencatatkan satu jebakan offside yang sukses.
”Ini tentang intensitas saat kami sedang tidak menguasai bola. Kami perlu lebih waspada karena hanya dengan dua atau tiga umpan, mereka (Brugge) bisa menciptakan bahaya,” kata Flick.
Permainan menekan Barca memang membuat Brugge kesulitan menguasai jalannya laga. Statistik passes per defensive action (PPDA) menunjukkan Brugge hanya mencatatkan rerata 7,9 operan sebelum bola berhasil direbut. Jumlah itu amat kontras dengan nilai PPDA Barca yang mencapai 20,4. Itu berarti para pemain Barca setidaknya bisa melepaskan 20,4 operan sebelum direbut.
Meski kalah dalam hal mengontrol jalannya laga, Brugge cukup cerdik memanfaatkan kelemahan pertahanan Barca lewat skema serangan balik. Akibat itu pula upaya Barca mencatatkan nirbobol pertama di Liga Champions lagi-lagi menemui kegagalan.
”Kami seharusnya bisa memenangi pertandingan. Ini perasaan yang campur aduk. Kebobolan begitu banyak gol adalah tanggung jawab semua orang di dalam tim,” ucap gelandang Barca, Fermin Lopez.
Meski pendekatan garis pertahanan tingginya terus menuai kritik belakangan ini, Flick tetap bergeming. Menurutnya, kesalahan Barca tidak bisa sepenuhnya ditimpakan pada lini belakang, tetapi juga tengah.
”Ini bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang apa yang terjadi di lini tengah. Itulah yang sedang kami coba analisis sekarang dan kami jelas perlu meningkatkannya di area itu. Kami akan melakukannya,” kata Flick.
Walau garis pertahanan tinggi Barca sangat rentan dieksploitasi lawan, Flick menyatakan akan tetap menerapkan taktik serupa. Pelatih asal Jerman itu berpegang pada jati diri Barca yang dikenal dengan permainan menyerang serta menekan.
”Kami adalah Barca dan kami ingin memainkan sepak bola kami. Kami bisa saja mengubah segalanya, tapi saya bukan pelatih seperti itu. Kami akan bermain sesuai DNA kami. Kami tidak akan bertahan di area pertahanan sendiri dan mengandalkan serangan balik untuk menang 1-0. Kami bisa bertahan di sepertiga akhir atau melanjutkan filosofi kami. Kami akan melakukan yang terbaik,” tuturnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/06/1d35d71bf53de26fd3f28b85d826c671-wires_photo_13_.jpg)
Dengan filosofi itu, ”Blaugrana” tetap menjadi tim yang produktif sebagaimana musim lalu. Kebobolan tiga gol dari Brugge, Barca sanggup membalas melalui Ferran Torres, Lamine Yamal, dan gol bunuh diri Christos Tzolis. Ketangguhan keluar dari ketertinggalan, kata Flick, menjadi salah satu poin positif timnya pada laga ini.
Meski bisa mencetak gol yang menyelamatkan Barca dari kekalahan, Ferran merasa sangat tidak puas dengan penampilan timnya. Ia berpandangan, Barca tidak seharusnya langsung kebobolan setelah mencetak satu gol.
”Itu sesuatu yang perlu kami evaluasi. Kami masih di awal musim, itu sesuatu yang perlu terus kami tingkatkan. Kami akan melakukannya agar bisa mencapai hasil yang baik di akhir musim,” ujarnya.
(Reuters)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto