Sultan HB X meminta kepolisian mengusut kematian mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, Rheza Sendy Pratama (21). Korban meninggal dengan tubuh penuh luka.
01 Sep 2025 08:12 WIB · Politik & Hukum
YOGYAKARTA, KOMPAS — Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X buka suara terkait meninggalnya mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, Rheza Sendy Pratama (21), dengan kondisi tubuh penuh luka. Sultan meminta kepolisian untuk mengusut kematian Rheza yang disebut terlibat aksi beberapa hari terakhir.
”Saya sudah menyampaikan ke Pak Kapolda untuk melakukan identifikasi, penelitian yang lebih lanjut karena mereka yang punya kewajiban,” kata Sultan seusai bertemu dengan pimpinan perguruan tinggi di DIY, Minggu (31/8/2025) malam, di Yogyakarta.
Rheza merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta angkatan 2023. Rheza sedang menempuh pendidikan semester V di kampus tersebut.
Ayah Rheza, Yoyon Surono, menuturkan, awalnya dirinya mendapat informasi dari tetangga yang datang ke rumahnya pada Minggu pagi bahwa Rheza berada di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Yogyakarta. Mulanya, Yoyon mengira sang anak hanya terkena gas air mata.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/31/63b7c2e5b29e4bdd38d69902ad7f5aaf-20250831eng02.jpeg)
Akan tetapi, waktu Yoyon tiba di rumah sakit itu, sang anak telah terbujur dalam kondisi meninggal dunia. ”Saya tanya, yang antar (ke rumah sakit) siapa? Katanya (staf rumah sakit) dari unit kesehatan polda. Dua orang,” ujarnya.
Ketika memandikan jenazah Rheza, Yoyon mengaku melihat sejumlah luka, seperti bekas kekerasan di tubuh anaknya itu, antara lain di bagian leher, perut, kepala, punggung, tangan, dan kaki.
Namun, Yoyon mengatakan, keluarga tidak bersedia jenazah Rheza diotopsi meskipun kepolisian memintanya melakukan hal tersebut. ”Kami keluarga sudah pasrah. Apa pun yang terjadi, ini musibah. Jadi, kami enggak mau otopsi,” ujarnya.
Yoyon juga mengaku belum tahu persis kronologi peristiwa yang menimpa anaknya itu. Hanya saja, dia mendapat informasi hal itu diduga terkait aksi demonstrasi di dekat Markas Polda DIY pada Minggu pagi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/31/f08898cab5d58c4456ec99881e781975-1001012531.jpg)
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Amikom Yogyakarta Alvito Afriansyah menyatakan, pihaknya belum memperoleh informasi lengkap terkait kronologi peristiwa yang menimpa Rheza. ”Kami belum investigasi secara menyeluruh sehingga kami belum tahu apa sebetulnya yang terjadi,” ujarnya.
Menurut Alvito, secara kelembagaan, BEM Amikom tidak ikut dalam aksi demonstrasi di Yogyakarta, baik yang terjadi pada Jumat (29/8/2025) hingga Sabtu (30/8/2025) pagi maupun pada Sabtu malam-Minggu pagi. Demonstrasi itu terkait kematian Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas setelah dilindas kendaraan taktis polisi saat unjuk rasa di Jakarta pada 28 Agustus 2025.
Namun, Alvito mengatakan, selama ini cukup banyak mahasiswa Amikom yang turut bersuara ketika ada hal-hal yang tak tepat terkait kebijakan-kebijakan pemerintah. Meski bukan anggota BEM, Alvito menyebut, Rheza merupakan salah satu mahasiswa yang cukup aktif menyuarakan aspirasi masyarakat di lapangan.
Alvito mengatakan, Rheza hadir dalam unjuk rasa pada Sabtu malam hingga Minggu pagi. Dia pun berharap bisa mendapatkan keterbukaan dari berbagai pihak, terutama yang hadir di lokasi saat itu dan melihat langsung kejadiannya sehingga BEM Amikom bisa menyuarakan keadilan bagi Rheza.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/31/c1f5d88ff24ce51dd584c03964989e30-20250831eng01.jpeg)
Sementara itu, pada Minggu malam, Kepala Polda DIY Inspektur Jenderal Anggoro Sukartono berkunjung ke rumah keluarga Rheza di Kabupaten Sleman, DIY. Dalam kesempatan itu, Anggoro bertemu langsung dengan keluarga Rheza.
”Kedatangan kami sebagai belasungkawa, turut berdukacita, atas meninggalnya almarhum Rheza,” kata Anggoro.
Anggoro menyebut, dalam pertemuan itu, pihak keluarga menyampaikan telah menerima dan ikhlas dengan kematian Rheza. Meski demikian, dia menambahkan, apabila keluarga ingin agar ada proses hukum terkait kematian Rheza, kepolisian siap melakukan penyelidikan.
”Kami juga sudah menyampaikan maksud kedatangan, apabila keluarga akan mempertanyakan sampai kepada proses hukum, kami siapkan semua proses hukum, mulai dari penyelidikan hingga penyidikan,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/30/f2fcdfc6b556b94ac2ba678cd6c51269-20250830DRA5033.jpg)
Menurut Anggoro, berdasarkan komunikasi yang dilakukan, keluarga menolak ekshumasi atau penggalian makam Rheza untuk dilakukan pemeriksaan terhadap jenazah korban. ”Kalau nanti keluarga di kemudian hari berubah pikiran dan ingin mempertanyakan proses hukum terhadap meninggalnya Rheza, kami siap untuk melakukan penyidikan,” tuturnya.
Dia juga berharap, apabila ada masyarakat yang memiliki informasi yang bisa membantu pengusutan kematian Rheza, hal itu bisa disampaikan kepada kepolisian.
Saya sudah menyampaikan ke Pak Kapolda untuk melakukan identifikasi, penelitian yang lebih lanjut, gitu aja, karena mereka yang punya kewajiban
Penulis:
Haris Firdaus, Mohamad Final DaengEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto