Hilirisasi produk tambang di Tanah Air masih sebatas pengolahan dan pemurnian mineral karena belum hadirnya dukungan dari ekosistem industri.
09 Jan 2025 21:23 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Iklim investasi yang kurang bersahabat hingga kualitas sumber daya manusia masih menjadi persoalan klasik yang menghambat industrialisasi. Padahal upaya peningkatan nilai tambah mineral di dalam negeri lewat program hilirisasi memerlukan dukungan sektor industri, terutama manufaktur.
Penasihat Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro, mengungkapkan, pekerjaan rumah terbesar untuk mengoptimalkan dampak program hilirisasi terhadap eksplosivitas pertumbuhan ekonomi nasional adalah dukungan industrialisasi untuk ekosistem hilirisasi yang kompleks.
Ia mencatat terdapat sejumlah persoalan yang perlu diselesaikan pemerintah untuk kembali memaksimalkan kontribusi sektor industri terhadap perekonomian, salah satunya adalah masalah perizinan kepastian hukum yang mengganjal negara menangkap setiap peluang investasi.
”Keluhan yang paling banyak disampaikan investor dari berbagai bidang masih berkutat pada hal klasik dari lamanya perizinan sampai kepastian hukum. Padahal pertumbuhan industri manufaktur butuh investasi,” ujar Bambang dalam diskusi panel bertajuk MINDialogue di Jakarta, Kamis (9/1/2024).
”Sementara ekosistem manufaktur yang semakin kompleks dapat meningkatkan dampak hilirisasi terhadap perekonomian nasional sehingga bisa keluar dari middle income trap,” lanjutnya.
Kebanyakan negara di dunia yang berhasil keluar dari jebakan negara penghasilan menengah, lanjut Bambang, memanfaatkan sektor industri manufaktur untuk menjadi negara maju. Khusus Indonesia yang memiliki kekayaan mineral tambang, idealnya industrialisasi manufaktur di Tanah Air berbasis sumber daya alam dan mineral.
Menurut Bambang, jika industrialisasi di Tanah Air berjalan optimal, hilirisasi mineral tidak hanya akan berhenti di fasilitas smelter seperti yang terjadi saat ini. Namun, berlanjut hingga produk paling hilir sehingga dampak hilirisasi terhadap putaran roda ekonomi bisa semakin besar, dengan manfaat yang menetes ke setiap lapisan masyarakat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/09/8e3e41a1cc60f2b932af001ebf1ceb34-Screenshot_20250109_195742_YouTube.jpg)
Akademisi dan pengamat kebijakan publik, Andrinof Chaniago, menyebut peningkatan nilai tambah mineral harus disertai dengan penguatan industri dalam negeri. Makna hilirisasi di Indonesia yang ada sejauh ini belum sepenuhnya mencapai cita-cita hilirisasi itu sendiri. Hasil hilirisasi mineral di Indonesia belum berupa barang atau produk akhir.
”Hilirisasi di Indonesia itu hanya sebatas mineral mentah dicuci, diolah, dan dimurnikan, tapi kemudian diekspor. Baiklah itu sudah memenuhi kategori hilirisasi. Sayangnya, itu belum masuk kategori industrialisasi,” ujarnya.
Produk hilirisasi, lanjut Andrinof, idealnya harus menjadi bahan baku industri yang ada di dalam negeri. Pola pikir hilirisasi mineral harus diperkuat menjadi industrialisasi. Langkah mengekspor produk hilirisasi tambang ia nilai sama saja dengan memperkuat industrialisasi negara tujuan ekspor.
Akan sangat disayangkan jika tidak terjadi penambahan nilai dari bahan baku yang menjadi produk turunan dari hilirisasi MIND ID
Sementara itu, Direktur Utama MIND ID, Hendi Priyo Santoso, mengungkapkan kecemasannya terkait kapasitas daya serap industri manufaktur dalam negeri yang dapat mumpuni mendukung program hilirisasi yang dijalankan perusahaan tambang.
Sebagai holding BUMN pertambangan, lanjut Hendi, MIND ID memiliki komitmen untuk terus menjadi tulang punggung hilirisasi mineral pertambangan di Tanah Air. Namun, kondisi yang terjadi saat ini adalah produk turunan tambang yang anggota holding MIND ID hasilkan tidak terserap dengan baik di level manufaktur.
Menurut dia, akan sangat disayangkan jika tidak terjadi penambahan nilai dari bahan baku yang menjadi produk turunan dari hilirisasi perseroan, mengingat MIND ID sangat mendukung tumbuhnya iklim perindustrian manufaktur yang membuat barang produk jadi.
”Program hilirisasi tidak dapat berjalan sendiri, tetapi harus disertai dengan program industrialisasi. Maka dari itu, dia mengharapkan adanya dukungan dari berbagai pihak untuk bisa membuat roda hilirisasi dan industrialisasi berjalan seutuhnya,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/11/20/d28bc12d-ae60-4e96-ae4b-8063cb5176d6_jpg.jpg)
Dalam kesempatan yang sama, Menteri BUMN Erick Thohir menuturkan hilirisasi harus dilakukan secara proporsional sesuai dengan potensi dan sumber daya yang dimiliki oleh Indonesia.
”Kadang kita sering meloncat sebelum menginjak, padahal hilirisasi harus dilakukan dan diperhitungkan secara proporsional, mulai dari apa saja potensi dan sumber daya yang kita punya, kemudian sebesar apa market kita, lalu apakah (hilirisasi) bisa berjalan sendiri atau butuh ekosistem,” ujar Erick.
Ia mencontohkan, aksi korporasi perusahaan tambang pelat merah yang berkaitan dengan hilirisasi selalu dilakukan secara kalkulatif. Perusahaan akan mendeteksi terlebih dahulu potensi dan cadangan tambang sebelum menganalisis dan memutuskan opsi produk turunan dari mineral tambang.
Setelah itu, perusahaan BUMN tambang juga akan menentukan mitra yang tepat dikarenakan hilirisasi memerlukan dukungan ekosistem yang besar dan kompleks. Adapun produk turunan akan ditentukan untuk mendukung program yang dijalankan pemerintah untuk memastikan adanya permintaan pasar.
”Jadi BUMN itu bagian dari besarnya ekosistem (hilirisasi) yang kompleks. Sebelum memproduksi produk turunan, harus dipastikan industrialisasi yang sudah ada bisa tidak menyediakan bahan bakunya. Kemudian ketika terjadi kelebihan produksi tambang, bagiamana policy maker akan membuat keputusan supaya size of market bisa applicable,”ujarnya.
Sementara itu, Hendi menuturkan, seluruh anggota holding MIND ID telah melakukan kegiatan hilirisasi. Ia mencontohkan seperti di PT Timah, smelter yang dimiliki perusahaan dapat memproses komoditas timah menjadi tin powder dan tin solder. Kemudian kolaborasi antara PT Antam dn PT Inalum yang sudah dapat mengolah bijih bauksit hingga menjadi aluminium.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/23/030050b7-da66-4aab-b3ba-ccf12498bf1c.png)
Menurut Hendi, sebelum kolaborasi hilirisasi ini dilakukan, Inalum harus mengimpor bahan baku untuk memproduksi aluminium. Namun, saat ini dengan keberadaan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, integrasi hulu hingga hilir dapat berjalan beriringan.
Selain itu, lanjut Hendi, PT Vale Indonesia, juga telah melakukan kegiatan hilirisasi di sektor nikel dengan membangun sejumlah proyek smelter. Adapun PT Freeport Indonesia memiliki visi menjadi salah satu perusahaan tembaga terintegrasi hulu-hilir terbesar di dunia.
Visi tersebut diejawantahkan lewat fasilitas pemurnian bijih tembaga di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur, kendati saat ini fasilitas itu sedang memasuki perbaikan akibat insiden kebakaran yang terjadi di akhir 2024 lalu.
Penulis:
Dimas Waraditya NugrahaEditor:
Muhammad Fajar Marta