Sunan Kudus, Menyiarkan Islam dengan Budaya (2)

Akulturasi budaya Islam dengan Hindu dan Buddha membuat penyebaran agama Islam yang dilakukan Sunan Kudus di Tanah Jawa mudah diterima masyarakat.

25 Mar 2025 09:38 WIB · Politik & Hukum

Oleh Ambrosius Harto Manumoyoso, Caecilia Mediana, Raynard Kristian Bonanio Pardede, Iqbal Basyari

… telah mendirikan Masjid Al-Aqsa dan Negeri Kudus (Al-Quds), khalifah zaman ini, ulama keturunan Muhammad… Jakfar Shadiq (Ja’far as-Shadiq) pada 956 Hijriah (1549 Masehi)…. 

Demikian petikan dari Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto. Salah satu magnum opus tentang wali sanga ini menukil inskripsi berbahasa Arab di atas mihrab; relung dinding Masjid Menara Kudus yang menunjukkan arah kiblat itu, sekaligus terjemahan dalam bahasa Indonesia. 

Inskripsi itu menjadi salah satu bukti tentang sosok bernama Jakfar Shadiq yang dikenal sebagai Sunan Kudus. Prasasti batu berkaligrafi itu juga menunjukkan fakta bahwa Jakfar Shadiq merupakan pendiri kompleks yang kini populer sebagai Masjid Menara Kudus.

Logo Liputan Lebaran 2025

Masjid Menara Kudus yang dibangun dari bata merah dan berhias mangkok atau piring keramik kuno dari dinasti Tiongkok itu selalu menjadi magnet masyarakat, terutama umat Islam. Tempat ibadah ini menempati area sekitar 5.000 meter persegi di Desa Kauman, Kecamatan dan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Keindahannya terpatri, seolah menjadi kaligrafi dalam hati semua orang yang pernah singgah, datang, shalat, zikir, meditasi, doa, lalu pergi dengan hidup yang tercerahkan.

”Saya amat bangga dengan peninggalan Sunan Kudus ini, sebagai warga, bukan sekadar dalam masa Ramadhan, saya selalu berusaha shalat berjemaah di Masjid Al-Aqsa ini,” kata Sugiyanto (55), warga Kudus yang ngabuburit atau menunggu buka puasa di Masjid Menara Kudus, Senin (17/3/2025) petang.

Menurut informasi pengelola dan pemelihara Masjid Menara Kudus, masjid ini dikunjungi oleh sekitar 2.000 orang. Bahkan, saat Lebaran atau musim liburan, jumlah pengunjung bisa melebihi 3.000 orang dalam sehari. 

Warga lokal seperti Sugiyanto meyakini bahwa Jakfar Shadiq membangun kompleks masjid sebagai pusat syiar Islam di Pulau Jawa pada era Kesultanan Demak. Selain itu, inskripsi menegaskan jenama surau, yakni Al-Aqsa yang didirikan di daerah bernama Al-Quds, yang merupakan bahasa Arab untuk Jerusalem. Nama kabupaten berpopulasi 835.000 jiwa ini bisa dimaklumi jika berasal dari penyebutan Al-Quds menjadi Kudus yang berarti suci. 

Masjid Menara Kudus atau Masjid Al-Aqsa Manarat Qudus, sebagai salah satu bangunan masjid tua di Indonesia, diperkirakan dibangun pada tahun 1549 oleh Sunan Kudus yang memiliki nama asli Jakfar Shadiq, terletak di Kudus, Jawa Tengah, Minggu (16/3/2025).
Masjid Menara Kudus atau Masjid Al-Aqsa Manarat Qudus sebagai salah satu bangunan masjid tua di Indonesia diperkirakan dibangun pada tahun 1549 oleh Sunan Kudus yang memiliki nama asli Ja’far Shadiq, terletak di Kudus, Jawa Tengah, Minggu (16/3/2025).
Masjid Menara Kudus atau Masjid Al-Aqsa Manarat Qudus sebagai salah satu bangunan masjid tua di Indonesia diperkirakan dibangun pada tahun 1549 oleh Sunan Kudus yang memiliki nama asli Ja’far Shadiq, terletak di Kudus, Jawa Tengah, Minggu (16/3/2025).
Masjid Menara Kudus atau Masjid Al-Aqsa Manarat Qudus sebagai salah satu bangunan masjid tua di Indonesia diperkirakan dibangun pada tahun 1549 oleh Sunan Kudus yang memiliki nama asli Ja’far Shadiq, terletak di Kudus, Jawa Tengah, Minggu (16/3/2025).
Masjid Menara Kudus atau Masjid Al-Aqsa Manarat Qudus sebagai salah satu bangunan masjid tua di Indonesia diperkirakan dibangun pada tahun 1549 oleh Sunan Kudus yang memiliki nama asli Ja’far Shadiq, terletak di Kudus, Jawa Tengah, Minggu (16/3/2025).
Masjid Menara Kudus atau Masjid Al-Aqsa Manarat Qudus sebagai salah satu bangunan masjid tua di Indonesia diperkirakan dibangun pada tahun 1549 oleh Sunan Kudus yang memiliki nama asli Ja’far Shadiq, terletak di Kudus, Jawa Tengah, Minggu (16/3/2025).
Masjid Menara Kudus atau Masjid Al-Aqsa Manarat Qudus sebagai salah satu bangunan masjid tua di Indonesia diperkirakan dibangun pada tahun 1549 oleh Sunan Kudus yang memiliki nama asli Ja’far Shadiq, terletak di Kudus, Jawa Tengah, Minggu (16/3/2025).
Peziarah sedang berdoa di makam Sunan Kudus di Kudus, Jawa Tengah, Minggu (16/3/2025).
Peziarah sedang berdoa di makam Sunan Kudus di Kudus, Jawa Tengah, Minggu (16/3/2025).

Di kompleks ini, tentu yang ikonik ialah menara dari susunan batu bata merah setinggi 18 meter. Di bagian atas menara yang menyerupai candi ini terdapat kentongan, beduk, serta kini ditambah pelantang suara untuk mengumandangkan azan.

Pada dinding menara dan gapura tak dijumpai ukiran atau relief tentang makhluk hidup. Di dalam dan sekitar lokasi belum pernah ditemukan arca atau patung.

Bagian tubuh hingga atap Masjid Menara Kudus serupa dengan Menara Kulkut di Bali. Seperti halnya Menara Kulkut, bagian itu juga berfungsi sebagai tempat menyampaikan pengumuman atau berita penting, misalnya waktu dimulainya bulan Ramadhan.

”Pada zaman Sunan Kudus mendirikan kompleks ini, dataran Kudus ke utara sampai Jepara dan ke timur sampai Pati dan sebagian Rembang diduga terpisah dengan Pulau Jawa sehingga ada selat. Menara berfungsi sebagai mercusuar atau pandu cahaya bagi kapal-kapal untuk labuh jangkar dan sandar,” kata Denny Nur Hakim selaku petugas Hubungan Masyarakat Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus.

Masjid Menara Kudus atau Masjid Al-Aqsa Manarat Qudus sebagai salah satu bangunan masjid tua di Indonesia diperkirakan dibangun pada tahun 1549 oleh Sunan Kudus yang memiliki nama asli Ja’far Shadiq, terletak di Kudus, Jawa Tengah, Minggu (16/3/2025).

Denny melanjutkan, sesuai inskripsi, masjid didirikan pada 19 Rajab 956 Hijriah atau 23 Agustus 1549. Sang pendiri ialah Jakfar Shadiq, dijuluki khalifah (Kesultanan Demak), menamai bangunan suci sebagai Al-Aqsa dan lokasi sebagai Al-Quds.

Lalu siapakah Jakfar Shadiq atau Sunan Kudus? Menurut Denny, yayasan yang mengelola dan melestarikan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus memercayai dan menawarksan narasi bahwa Jakfar Shadiq ialah putra Ustman Haji yang bergelar Sunan Ngudung. Ustman Haji ialah petinggi Kesultanan Demak dalam bidang kemiliteran dan keagamaan. Jabatan ini diteruskan oleh Jakfar Shadiq di era Sultan Trenggana (1521-1546).

Khazanah sejarah mencatat bahwa setelah Trenggana, masa berikutnya adalah masa kepemimpinan Sunan Prawoto (1546-1547) lalu Arya Penangsang (1547-1554). Setelah itu, pengaruh Kesultanan Demak meredup oleh keberadaan Kesultanan Pajang. Dilihat dari masa pembangunan Masjid Menara Kudus pada 1549, tampaknya Jakfar Shadiq mendapat tugas untuk menyebarkan Islam di daerah baru.

”Yang terang, kedatangan Sunan Kudus dan berhasil mengislamkan daerah ini menjadi bagian integral dalam penyebaran Islam,” ujar Denny.

Masjid Menara Kudus atau Masjid Al-Aqsa Manarat Qudus sebagai salah satu bangunan masjid tua di Indonesia diperkirakan dibangun pada tahun 1549 oleh Sunan Kudus yang memiliki nama asli Ja’far Shadiq, terletak di Kudus, Jawa Tengah, Minggu (16/3/2025).

Denny menambahkan, dengan membangun Masjid Menara Kudus seperti candi Hindu-Buddha, warga merasa bahwa agama baru yang ditawarkan Sunan Kudus bukan berkarakter menumpas, melainkan menerima secara terbuka keberagaman. Seiring waktu, secara alami, strategi kultural meningkatkan simpati dan peralihan agama warga menjadi mayoritas Islam.

Dosen Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Universitas Gadjah Mada, Rudy Wiratama, mengatakan, menara masjid bernuansa Jawa-Hindu merupakan bagian dari strategi Sunan Kudus untuk menyiarkan Islam kepada penduduk di kawasan Kudus. Sebab, pada masa lampau, daerah itu diduga disebut sebagai Tajug dengan populasi pemeluk Hindu, Buddha, dan atau keyakinan lokal (Kapitayan).

Jejak strategi Sunan Kudus dalam penyebaran Islam juga masih terawat hingga kini. Salah satunya, keengganan kalangan warga Kudus untuk menyembelih sapi saat Hari Raya Kurban atau sebagai konsumsi protein hewani. Secara turun-temurun, diceritakan bahwa Sunan Kudus menghormati kepercayaan warga Hindu yang mengagungkan sapi sebagai binatang suci.

Sunan Kudus melihat bahwa warga Hindu secara kultural membedakan sapi dan kerbau. Adapun kerbau dipandang bukan sebagai satwa suci, melainkan untuk bekerja membajak ladang, kebun, dan sawah sehingga kurban atau konsumsi dagingnya dapat diterima. Rudy pun cukup yakin bahwa Sunan Kudus merupakan sosok yang mendorong konsumsi kerbau, alih-alih sapi, sebagai pangan hewani.

”Pendekatan kebudayaan semacam ini terasa sejuk, merebut hati, dan membuat banyak orang berpindah keyakinan menjadi Islam,” ujarnya.

Masjid Menara Kudus atau Masjid Al-Aqsa Manarat Qudus sebagai salah satu bangunan masjid tua di Indonesia diperkirakan dibangun pada tahun 1549 oleh Sunan Kudus yang memiliki nama asli Ja’far Shadiq, terletak di Kudus, Jawa Tengah, Minggu (16/3/2025).

Guru Besar Ilmu Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Al Makin, mengatakan, Sunan Kudus merupakan sosok yang sangat toleran. Hal itu tecermin dari pendekatannya dalam menyiarkan Islam melalui akulturasi budaya setempat.

Beberapa di antaranya melalui arsitektur masjid yang identik dengan pura masyarakat Hindu di Bali. Sunan Kudus juga mengajarkan masyarakat untuk tidak mengonsumsi sapi yang merupakan hewan suci bagi umat Hindu.

”Ajaran yang dibawa Sunan Kudus membuat masyarakat menjadi lebih toleran karena mengakomodasi tradisi Hindu-Buddha dalam menyiarkan agama Islam,” ujarnya.

Strategi kebudayaan yang ditempuh Sunan Kudus tetap relevan dijalankan pada masa sekarang, yang masyarakatnya terbelah karena perbedaan ideologi politik dan agama. Pendekatan kultural Sunan Kudus yang sangat toleran dapat kembali menjadi inspirasi untuk mempererat, menyatukan, dan menguatkan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ambrosius Harto Manumoyoso, Caecilia Mediana, Raynard Kristian Bonanio Pardede, Iqbal Basyari
 | 

Editor:

Iqbal Basyari
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji