Sungai Garoga Dilestarikan Warga, Dihancurkan Perusahaan Sawit

Warga menjaga kelestarian Sungai Garoga dengan sistem lubuk larangan. Namun, akibat ulah perusahaan sawit, sungai justru memuntahkan petaka.

12 Des 2025 08:00 WIB · Lingkungan

KOMPAS/PANDU WIYOGA

Oleh Pandu Wiyoga

Di bawah sengatan matahari yang membakar, Sahrul Nasution (60) memilah puing di antara reruntuhan rumah kakak iparnya. Ia mencari serpihan logam dan apa pun yang sekiranya bakal laku dijual. Ia tersenyum menyapa para sukarelawan bencana yang melintas, meskipun sebenarnya hatinya sudah remuk.

”Kalau rumah awak (saya) yang di samping situ, tetapi sudah enggak kelihatan lagi. Roboh tertimbun lumpur dan kayu-kayu,” ujarnya, Kamis (11/12/2025).

Pada 25 November 2025, banjir bandang menyapu tempat tinggal Sahrul di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Bencana itu mengakibatkan 47 orang tewas dan 22 hilang. Desa Garoga kini disebut ”desa yang hilang” karena hampir semua rumah warga hancur diterjang banjir.

Rumah Sahrul membelakangi Sungai Garoga dan menghadap ke jalan aspal yang menghubungkan Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah. Sungai Garoga airnya jernih dan mengalir dangkal di antara batu-batu yang indah.

Sahrul Nasution (60) memungut sisa-sisa logam dari rumah kakaknya yang hancur diterjang banjir bandang di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Kamis (11/12/2025).

”Siapa yang enggak kenal cantiknya sungai kami? Ikannya banyak dan sebesar lengan begini. Kalau kita angkat batu di sungai, pasti ada udangnya di bawah,” ujar warga lain, Rahmat Lubis (46).

Sahrul mengangguk sepakat. Sungai itu adalah tempat bermain ketika dia kecil. Ia biasa berenang hingga berkilo-kilo meter jauhnya ke arah hilir. Air sungai selain jernih juga bersih sehingga anak-anak tak pernah sakit perut jika meminumnya.

Sungai Garoga menjadi sumber pengairan bagi sawah warga. Selain itu, warga menyambung pipa dari hulu sungai untuk mengalirkan air bersih untuk minum dan memasak. Oleh karena itu, sejak beberapa tahun lalu, warga mulai sadar pentingnya melestarikan sungai yang menjadi sumber kehidupan mereka.

”Kami bikin sungai itu jadi lubuk larangan. Ikannya cuma boleh diambil satu kali saja, waktu Idul Fitri,” kata Rahmat.

Jika ada warga yang mengambil ikan di luar waktu yang disepakati, mereka bakal dikenai denda antara Rp 5 juta dan Rp 10 juta, tergantung jumlah ikan yang mereka ambil. Selain berhasil menjaga ekosistem sungai, sistem lubuk larangan juga membuat pariwisata di Desa Garoga dan sekitarnya menggeliat.

Rahmat menuturkan, lubuk larangan di Sungai Garoga baru akan dilonggarkan pada bulan Ramadhan. Warga desa sekitar boleh memancing sepuasnya dengan membayar Rp 100.000. Baru pada H+7 Idul Fitri, warga akan bersama-sama memanen ikan yang telah mereka lindungi selama satu tahun.

”Sistem lubuk larangan bagus untuk menjaga populasi ikan jurung. Jangan sampai ikan khas Sumut itu hilang dari sungai kami,” kata Rahmat.

Warga memilah baju-baju bantuan di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Kamis (11/12/2025).

Siklus sungai

Warga lain, Hasanudin Pasaribu (76), mengatakan, sejak dulu Sungai Garoga memang sering meluap, terutama ketika puncak musim hujan pada November-Desember. Namun, air yang menggenangi rumah warga biasanya hanya setinggi mata kaki.

”Seingat aku, banjir paling besar itu (terjadi) pada 1958, waktu aku masih kelas II di Sekolah Rakyat. Itu pun banjirnya enggak sampai setinggi lutut,” tuturnya.

Itu dibenarkan Sahrul yang puluhan tahun tinggal di tepian sungai. Banjir sebelumnya tidak pernah membawa lumpur dan kayu-kayu ke desa.

Tim SAR Gabungan menggunakan potongan kayu yang terbawa banjir bandang untuk membuat jembatan darurat di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Rabu (10/12/2025). Bencana mengakibatkan 47 orang tewas dan 22 hilang di desa itu.

”Kalau yang sekarang ini akibat penebangan kayu di hulu sana. Kehancuran ini kita-kita sendiri yang menyebabkan, akibat ulah manusia,” katanya.

Sahrul tersenyum getir saat bercerita bahwa ia menguping konferensi pers Badan Reserse Kriminal Polri di atas Jembatan Garoga pada 10 Desember 2025. Ia ingin tahu perusahaan mana yang bertanggung jawab atas bencana yang menimpa kampungnya.

”Ada empat lokasi kan, pak, yang mereka gunduli. Wajarlah kalau sungai ini marah, manusia jahat sekali sama dia, pohon-pohon sebesar itu ditumbangkan,” ujarnya.

Tumpukan kayu di yang terbawa banjir bandang menimbun rumah warga di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Rabu (10/12/2025). Bencana mengakibatkan 47 orang tewas dan 22 hilang di desa itu.

Kebun sawit

Direktur Tindak Pidana Tertentu Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri Brigadir Jenderal Mohammad Irhamni di Batang Toru, Rabu (10/12/2025), mengatakan, Desa Garoga berada di antara dua aliran Sungai Garoga. Pada 25 November lalu, tumpukan kayu menutup dua jembatan di kedua aliran sungai sehingga air meluap.

”Dampaknya sangat fatal, banjir menyapu seluruh perumahan yang diapit kedua sungai serta permukiman di kiri dan kanan sungai,” kata Irhamni.

Meluapnya air di daerah aliran sungai atau DAS Garoga mengakibatkan 47 orang tewas dan 22 orang hilang. Selain itu, lebih kurang 1.000 rumah warga hancur diterjang banjir bandang.

Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Mohammad Irhamni saat memberikan keterangan pers terkait penyebab banjir bandang di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Rabu (10/12/2025). Bencana mengakibatkan 47 orang tewas dan 22 hilang di desa itu.

Berdasarkan citra satelit, ada 110 titik pembukaan lahan di DAS Garoga. Tim telah mendatangi empat titik di antaranya dan menemukan pembukaan lahan seluas 6-30 hektar. Empat titik itu berada di lereng bukit yang amat curam sehingga ketika hujan lebat material lumpur dan kayu langsung terbawa aliran air ke badan sungai.

”Di kilometer 8, kami menemukan alat berat, 2 ekskavator, dan 1 buldoser. Kami sudah menemukan dua alat bukti adanya pidana, maka ini akan kami formalkan menjadi penyidikan untuk mencari siapa pelaku yang harus bertanggung jawab,” ujarnya.

Ia menyebutkan, pembukaan lahan di empat titik di DAS Garoga dilakukan oleh perusahaan sawit. Ia menegaskan, aparat tidak akan berhenti untuk mengusut 106 titik penggundulan lahan lain sesuai pantauan lewat citra satelit.

Sahrul yang mendengar hal itu kehilangan kata-kata untuk menggambarkan kemarahannya. Ia tak menyangka ada manusia yang tega menggunduli berhektar-hektar hutan untuk ditanami pohon sawit. ”Sudah jelas yang diharapkan warga, ditutup total sajalah PT (perusahaan) itu,” kata Sahrul.


Kerabat Kerja

Penulis:

Pandu Wiyoga
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase