Menjelang ulang tahun kelahirannya, saya membaca ulang korespondensi kami. Sungguh mengharukan.
17 Jan 2025 18:30 WIB · Opini
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/10/065cd46e-5600-4d4e-bf3a-a10d71d8b947.jpg)
Tidak lama lagi kelahiran Pramoedya A Toer (6 Februari 1925-30 April 2006) akan diperingati berbagai kalangan. Sulit menemukan tokoh intelektual sebangsa dengan prestasi dan sekaligus kontroversi sebesar beliau. Mungkin tidak ada orang Indonesia lain yang karya tulisnya dipuja, dicetak-ulang, dan diterjemahkan seluas karya-karya beliau, sekaligus dilarang, dibakar, dan dikecam di negeri sendiri. Pram dipenjara oleh pemerintah kolonial Belanda, pemerintah Soekarno (Demokrasi Terpimpin), dan oleh pemerintah Soeharto (Orde Baru).
Sudah berlimpah bahasan tentang karya tulisnya, pengalaman hidup, pandangan dan sepak terjangnya, juga wawancaranya. Khazanah pustaka luar biasa itu layak terhimpun dalam perpustakaan di berbagai wilayah di Tanah Air. Bila perlu, dilengkapi berbagai publikasi yang anti terhadapnya. Di tengah hamparan pustaka yang tersebar luas itu, catatan pendek dan personal ini ibarat sebutir debu.
Saya beruntung bisa berkenalan langsung dengan Bung Pram, begitu panggilan akrabnya. Ia selalu ramah menerima kunjungan saya lebih dari sekali. Kami mengobrol beberapa jam secara santai di halaman depan rumah, di ruang tamunya, juga di kamar kerjanya. Semua itu terjadi sekitar 40 tahun lalu.
Saya lupa tanggal-tanggalnya. Yang jelas masa itu (pertengahan 1980-an) militerisme Orde Baru di puncak kejayaan. Pram masih dikenai tahanan kota 13 tahun setelah ditahan lebih dari 14 tahun tanpa diadili. Konon pada masa itu rumahnya diawasi intel. Menjumpai Pram di sana menguji keberanian saya melawan efek teror negara berslogan antikomunis dan anti-Soekarno.
Saya lupa apa saja yang kami bicarakan dalam beberapa perjumpaan itu. Untungnya, sejumlah surat-menyurat saya dengan beliau masih saya simpan. Menjelang ulang tahun kelahirannya, saya membaca ulang korespondensi kami. Sungguh mengharukan.
Saya mulai bersurat dengan Pram kira-kira setahun sebelum pertama kali bertamu ke rumahnya. Lewat jasa pos, saya memperkenalkan diri dan mengirimkan sebuah naskah esai saya untuk dikomentari. Tidak terduga, beliau sudah membalas empat hari kemudian. Tidak tanggung-tanggung, surat jawabannya setebal delapan halaman, ditik satu spasi di atas kertas berukuran A5.
Surat balasan itu dibuka begini: ”Bung Ariel, sesungguhnya tak pernah terduga masih ada seorang dari jajaran universitas mau menyurati saya. Disertai dengan referat pula.” Usia saya 30 tahun, tetapi perasaan saya seperti remaja yang disapa seorang idolanya dari dunia musik atau olahraga. Pram tidak suka berbasa-basi. Hingga kini saya masih heran. Masak, sih, waktu itu belum ada orang lain dari universitas di Tanah Air yang menulis surat atau menjumpainya? Tetapi, kejutan tidak terhenti di situ.
Ia membaca makalah saya. Menurut dia, makalah saya itu ”sebuah telaah sastra yang pertama kali saya baca sampai tamat dalam 20 tahun belakangan ini. Kritik atau saran perbaikan yang diharapkan? Wah! Saya ini orang Orla, seorang non-konformis, tidak peduli orang suka atau tidak suka pada pendapatnya.” Kemudian dia melancarkan sejumlah kritik blak-blakan tetapi penuh simpati atas makalah saya.
Bisa dipahami jika selama ditahan Orde Baru (1965-1979) Pram tidak membaca ulasan sastra. Tetapi, di luar dugaan saya jika ia tidak membaca sampai habis ulasan sastra apa pun lima tahun sesudah dilepaskan dari tahanan di Pulau Buru. Dalam sisa suratnya ia berbagi pandangan tentang berbagai persoalan di Tanah Air dan dunia, termasuk pengalaman hidup pribadinya. Sejak itu kami saling berkirim surat pos.
Surat kedua dari Pram (enam halaman) tidak kalah mengejutkan. Ia menjawab permintaan saya akan masukan untuk rencana saya meneliti kaitan sastra dan media cetak. Saya tidak berharap dia punya waktu atau perhatian serius memenuhi permintaan itu. Saya sendiri mengajukan permintaan itu sekadarnya sebagai alasan untuk melanjutkan komunikasi. Yang ditawarkan Pram berlipat kali lebih besar dari yang saya harapkan.
”Sebelum peristiwa I965 telah mulai saya rintis mengumpulkan cerpen Bung Karno”, katanya. ”Waktu itu saya memang bisa mengerahkan sejumlah mahasiswa. Tenaga itu sekarang tidak ada pada saya. Kalau Bung mau di bawah nanti akan saya sampaikan beberapa hal.” Ia memberi petunjuk langkah awal untuk saya. Ia juga menawarkan akses ke sejumlah cerpen dan surat Bung Karno dari koleksinya.
Dengan terharu dan berat hati, tawaran kehormatan itu saya tolak. Saya merasa terlalu kerdil dan tidak siap diberi kepercayaan sebesar itu. Apalagi ketika ia menyebut nama seorang sarjana Indonesia yang pernah ”datang ke rumah untuk melihat koleksi cerpen [tersebut] tetapi tidak saya luluskan”. Sampai sekarang pun saya belum paham bagaimana Pram bisa memberikan kepercayaan sebesar itu kepada seorang anak muda yang baru dikenalnya hanya lewat dua pucuk surat.
Panjang lebar ia menggambarkan kekagumannya pada sosok Bung Karno. Padahal, ia pernah dipenjara oleh pemerintahan Bung Karno. Pram menulis buku nonfiksinya yang terkenal, Hoakiau di Indonesia (1960). Isinya mengkririk kebijakan rasis pemerintah (PP No 10/1959).
Karena saya menolak tawarannya, surat berikutnya dibuka dengan pernyataan ”saya kecewa”. Bukan saja Pram kecewa atas penolakan saya, tetapi terhentinya penelitian yang pernah dirintisnya. Pram mengeluh keterbatasan tenaga dan mobilitas sendiri serta minimnya dukungan pihak lain. Ia mengeluhkan usianya yang semakin lanjut. Sementara itu ”terlampau banyak yang harus dikerjakan”, katanya.
Walau kecewa, Pram tidak berhenti berbaik hati. Ia mengirimkan naskah ketikan buku Sang Pemula yang belum diterbitkan. Buru-buru saya menulis dua versi resensi atas buku itu sebelum diterbitkan. Segera setelah bukunya terbit (1985) dan belum dilarang, kedua versi resensi itu saya kirimkan ke dua koran terbesar nasional. Kedua resensi saya ditolak, disertai surat penjelasan tersirat bahwa redaksi koran tidak mau mengambil risiko politiknya.
Terima kasih, Bung Pram, atas sumbanganmu bagi anak semua bangsa di bumi manusia yang satu ini (meminjam dua judul novelmu). Jasamu tak ada duanya. Jasamu abadi.
Penulis:
Ariel HeryantoEditor:
Dwi AS Setianingsih