Survei Litbang "Kompas": Menakar Pengaruh Jokowi di Pilkada Jateng

Pengaruh Jokowi tidak sebesar saat menjabat presiden, seberapa kuat memengaruhi pilihan di Pilkada Jateng?

04 Nov 2024 02:00 WIB · Politik & Hukum

Oleh Yohan Wahyu -

Presiden ke-7 Joko Widodo saat diwawancarai wartawan sesudah menerima tamunya, Menteri Toleransi dan Koeksistensi Uni Emirat Arab Nahyan bin Mubarak Al Nahyan, di kediaman pribadinya, kawasan Sumber, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (23/10/2024).

Keberadaan mantan presiden Joko Widodo tidak serta merta bisa memberikan dampak elektoral kepada pasangan calon tertentu yang berlaga di pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Tengah. Pengaruh orang terdekat seperti keluarga justru lebih banyak menjadi pertimbangan.

Kesimpulan ini terbaca dari hasil survei pilkada Jateng yang diselenggarakan Litbang Kompas pada 15-20 Oktober 2024.

Mantan Presiden Jokowi yang sejak 20 Oktober 2024 sudah tidak lagi menjabat, dipersepsikan tidak memiliki pengaruh yang cukup kuat sebagai bahan pertimbangan pemilih menentukan sikap saat pemungutan suara pemilihan gubernur Jateng pada 27 November nanti.

Setidaknya jika melihat hasil survei, responden cenderung terbelah ketika ditanya apakah dukungan mantan presiden Jokowi kepada salah satu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur di Jateng akan menjadi pertimbangan mereka menentukan pilihan.

Sebanyak 43,9 persen responden menyatakan akan mempertimbangkan dukungan Presiden ke-7 Indonesia tersebut.

Sikap ini dibayangi oleh sebanyak 42,4 persen responden lainnya yang menyatakan sebaliknya, mereka tidak akan mempertimbangkan dukungan Jokowi. Sisanya, sebanyak 13,7 persen responden menjawab tidak tahu.

Isu soal dukungan Jokowi terhadap salah satu pasangan calon ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak masih aktif sebagai presiden, isu berkembang Jokowi memang lebih dekat kepada salah satu pasangan calon, yakni pasangan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen.

Pasangan ini diusung oleh Koalisi Indonesia Maju Plus, yakni terdiri dari 9 partai politik, seperti PKB, Gerindra, Golkar, Nasdem, PKS, PAN, Demokrat, PSI, dan PPP.

Tingkat Elektabilitas Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah di Pilkada 2024

Terakhir, ada harapan pasangan Luthfi-Taj Yasin untuk menjadikan Jokowi sebagai juru kampanye mereka. Harapan itu disampaikan oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Jateng Sudaryono dalam rapat koordinasi pemenangan partai koalisi Pilgub Jateng 2024-2029 di Sukoharjo (Kompas.id 28/10/2024).

Hasil survei merekam, kondisi terbelahnya pemilih terhadap pengaruh dukungan Jokowi tidak saja tergambar dari total responden.

Jika dilihat dari kelompok responden pemilih kedua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, kondisinya sama-sama terbelah dalam memandang pengaruh mantan presiden tersebut.

Hanya saja di kelompok pemilih Luthfi-Taj Yasin cenderung lebih banyak yang mempertimbangkan pengaruh Jokowi dibandingkan di kelompok pemilih Andika Perkasa–Hendrar Prihadi.

Potensi pengaruh Jokowi memang terlihat lebih terasa ada di kelompok pemilih Luthfi-Taj Yasin.

Dari kelompok pemilih ini, separuh lebih dari mereka (50,7 pesen) mengaku memang mempertimbangan dukungan Jokowi saat mendukung pasangan Luthfi-Taj Yasin. Sisanya, sebanyak 44,7 persen menyatakan sebaliknya.

Sementara itu kondisi agak berbeda terlihat di kelompok responden pemilih pasangan Andika–Hendrar. Pemilih dari pasangan yang diusung PDI-P ini cenderung lebih banyak tidak mempertimbangan dukungan Jokowi di pilkada Jateng ini.

Hal ini disampaikan oleh 52,1 persen bagi dari kelompok pemilih Andika-Hendrar. Sisanya, sebanyak 39,9 persen cenderung mempertimbangkan dukungan Jokowi.

Pemilih mengambang

Peluang pengaruh Jokowi bisa mendatangkan insentif elektoral pada pasangan calon tertentu, terutama kepada pasangan Luthfi-Taj Yasin, justru bisa saja didapatkan pada kelompok pemilih mengambang. Di kelompok pemilih ini, pengaruh Jokowi masih mereka pertimbangkan.

Meskipun secara porsi juga terbelah, di kelompok pemilih mengambang, menjadikan dukungan Jokowi di pilkada Jateng sebagai pertimbangan memilih gubernur diakui oleh sebanyak 42,1 persen responden.

Porsi mereka yang mempertimbangkan dukungan Jokowi di kelompok pemilih mengambang ini jauh lebih tinggi dibandingkan yang mengaku tidak akan mempertimbangkan pilihan politik Jokowi. Mereka yang tidak mempertimbangkan terekam sebanyak 34,5 persen.

Jika melihat kecenderungan dari data survei ini, tampak pengaruh Jokowi memang masih cukup kuat, terutama di pemilih-pemilih yang sejalan dengan arah dukungan Jokowi di pilkada.

Sebaliknya, mereka yang cenderung memilih pasangan calon di luar arah dukungan mantan presiden tersebut, cenderung tidak mempertimbangkan lagi faktor Jokowi.

 

Pasangan Andika Perkasa - Hendrar Prihadi dan pasangan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen saat mengikuti sesi debat terbuka di Marina Convention Center, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/10/2024).

Pemilih PDI-P

Kecenderungan pemilih Andika–Hendrar yang lebih banyak tidak mempertimbangkan pengaruh Jokowi dalam menentukan pilihan di Pilkada Jateng sejalan juga dengan sikap pemilih PDI-P.

Dari kelompok pemilih partai berlambang kepala banteng mulut putih ini, sebagian besar (48 persen) tidak menjadikan sosok Jokowi sebagai pertimbangan menentukan pilihan calon gubernur.

Sikap ini dibayangi oleh kecenderungan sebanyak 38,9 persen pemilih PDI-P yang memang mengaku masih mempertimbangkan pengaruh Jokowi dalam menentukan siapa pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jateng yang dipilih.

Hal ini makin menegaskan memang ada irisan antara sebagian pemilih PDI-P dan pemilih loyal Jokowi di Pemilihan Presiden 2019.

Infografik Apa Persoalan Utama Jawa Tengah?

Lebih tingginya loyalitas pemilih PDI-P kepada arah partai mengusung pasangan Andika-Hendrar juga tergambar dari sikap mereka yang menyatakan bahwa Jateng adalah basis dari utama partai politik ini.

Setidaknya hal ini juga tertangkap dari hasil survei di mana mayoritas responden pemilih PDI-P (80,3 persen) menganggap Jateng sebagai basis wilayah partai ini.

Tentu, loyalitas ini menjadi tantangan bagi pasangan Luthfi-Taj Yasin sekaligus Jokowi jika benar-benar akan mencoba merebut dominasi PDI-P di pilkada tahun ini.

Faktor keluarga

Kecenderungan terbelahnya penyikapan responden pada pengaruh Jokowi dalam memilih di pilkada Jateng, sedikit banyak juga tak lepas dari perilaku pemilih di wilayah ini yang justru menjadikan pilihan anggota keluarga sebagai bahan pertimbangan.

Hampir seperlima bagian dari total responden menjawab keluarga sebagai faktor yang paling banyak menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan di pilkada.

Sikap ini juga tampak dari kelompok pemilih Andika–Hendrar, Luthfi-Taj Yasin, maupun mereka yang mengaku belum menentukan pilihan (undecided voters). Hal ini makin menegaskan hal-hal yang menjadi pertimbangan pemilih menentukan pilihan politik memang tidak tunggal.

Pada akhirnya pengaruh Jokowi bisa saja menjadi faktor penentu, tetapi kekuatannya belum bisa untuk memastikan apakah mampu menyumbang elektoral di pilkada nanti.

Pilkada Jateng akan menjadi ujian seberapa kuat dan efektif pengaruh Jokowi di masa ia tidak lagi menjabat sebagai presiden. (LITBANG KOMPAS)

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Group - Politik & Hukum ”Survei Pilkada Serentak 2024”. Melalui grup tersebut, Kompas akan mengirimkan rekomendasi bacaan terkait Survei Pilkada Serentak 2024. Klik di sini untuk mendaftar dan bergabung.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yohan Wahyu
 | 

Editor:

Andreas Yoga Prasetyo