Persaingan antara Ridwan Kamil-Suswono dan Pramono-Rano Karno makin kompetitif di Pilkada Jakarta. Pilkada Jakarta kali ini tanpa persaingan isu identitas sosial.
05 Nov 2024 05:12 WIB · Politik & Hukum
Oleh Bestian Nainggolan - [email protected]
Kompetitifnya persaingan di antara pasangan calon kepala daerah dalam Pilkada Jakarta tergambarkan dari hasil survei Litbang Kompas yang diselenggarakan pada 20-25 Oktober 2024, sebulan menjelang pemungutan suara pilkada pada 27 November 2024.
Dari ketiga pasangan calon (paslon) kepala daerah, persaingan paling ketat terjadi antara Pramono Anung-Rano Karno dan Ridwan Kamil-Suswono. Sementara paslon dari jalur independen, Dharma Pongrekun-Kun Wardana, berjarak cukup lebar dengan kedua rival politiknya.
Berdasarkan hasil survei, kali ini Pramono-Rano mampu menguasai lebih dari sepertiga dukungan (38,3 persen) pemilih di Jakarta. Capaian itu membuat pasangan yang diusung PDI-P ini menduduki puncak persaingan. Namun, tidak berjarak signifikan, Ridwan-Suswono mendekat dengan menguasai dukungan 34,6 persen pemilih.
Ketatnya persaingan di antara kedua paslon itu tergambarkan pula dari sisi kadar loyalitas dukungan para pemilihnya. Pramono-Rano dan Ridwan-Suswono sama-sama punya pendukung yang terbilang loyal (strong voter).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/06/5c463b00-799b-4d71-8a41-899a290e4b7e_jpg.jpg)
Dikatakan loyal lantaran para pemilih menyatakan sudah pasti akan pilihannya, tidak akan berubah hingga pemungutan suara. Hasil survei menunjukkan, lebih dari dua pertiga bagian pemilih dari kedua paslon terbilang loyal. Sisanya, kurang dari sepertiga bagian kurang loyal (swing voter) atau yang masih dapat berpindah pilihan hingga saat pemungutan suara mendatang.
Sekalipun kadar loyalitas dukungan pemilih terbilang tinggi, masih berpotensi membuka ruang perubahan. Pasalnya, hasil survei ini juga mengindikasikan masih terbuka peluang peningkatan dukungan di antara paslon yang bersaing memperebutkan suara dari kalangan yang belum menjatuhkan pilihan (undecided voter).
Merujuk hasil survei, sejauh ini sekitar tiga perempat bagian pemilih saja yang sudah menyatakan siapa calon yang akan mereka pilih. Sisanya, masih terdapat 23,8 persen pemilih yang belum mengungkapkan paslon pilihannya.
Di balik ketatnya persaingan di antara kedua paslon, ajang Pilkada Jakarta kali ini menampilkan wajah politik yang berbeda ketimbang pilkada sebelumnya. Apabila pada Pilkada DKI Jakarta 2017 menguak persaingan politik yang sarat dengan muatan identitas sosial, seperti agama, suku bangsa, dan cenderung membelah masyarakat secara diametral, kali ini hal itu nyaris tidak tampak.
Hal ini terlihat dari latar belakang pendukung setiap paslon yang kini tidak lagi signifikan perbedaannya. Dari sisi latar belakang agama, misalnya, proporsi dukungan terhadap Pramono-Rano dan Ridwan-Suswono dalam survei kali ini tak tampak perbedaannya.
Dari identitas suku bangsa ataupun kelompok etnis, memang ada konsentrasi pemilih berlatar belakang suku bangsa yang agak berbeda pada kedua paslon. Pemilih berlatar suku Betawi, misalnya, agak terkonsentrasi pada Pramono-Rano.
Sementara itu, pemilih yang bersuku Sunda cenderung terkonsentrasi kepada Ridwan-Suswono. Namun, tak berarti pendukung Pramono-Rano terbilang minim yang bersuku Sunda. Begitu juga besaran dukungan kepada Ridwan-Suswono dari pemilih bersuku Betawi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/04/3f6f1cc4-7186-4747-ae8c-882005f8b29f_png.png)
Keragaman dukungan para pemilih paslon semakin diperkuat oleh tidak terkonsentrasinya pemilih bersuku bangsa lain yang bermukim di Jakarta. Pemilih berlatar belakang suku Jawa, yang terbilang paling banyak proporsinya di Jakarta, atau kelompok suku lain, seperti China, Batak, Bugis, dan Minang, cenderung tersebar pada kedua paslon.
Selain identitas keagamaan dan suku bangsa, pemilahan latar belakang dukungan yang didasarkan pada latar belakang pilihan politik pemilih pun menunjukkan perbedaan yang kurang signifikan.
Pemilih yang saat pilkada sebelumnya mengaku memilih Anies Baswedan kali ini pilihannya cenderung tersebar pada tiap-tiap paslon. Apa yang terjadi pada para pemilih Basuki Tjahaja Purnama juga tidak banyak berbeda. Kali ini, konsentrasi dukungan pemilih Basuki tak tertuju hanya kepada salah satu paslon.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/04/8dd9ecf2-f649-4508-a7d4-d78d77b3c9ea_png.png)
Sekalipun konsentrasi dukungan berbasis identitas sosial tidak menjadi faktor pembeda yang signifikan, tidak berarti pola dukungan yang terbentuk terbilang sama pada setiap paslon.
Dari sisi latar belakang pendidikan, misalnya, konsentrasi pemilih berpendidikan dasar agak tertuju kepada Pramono-Rano. Adapun kaum berpendidikan tinggi kepada Ridwan-Suswono.
Pemilahan identitas berdasarkan status sosial ekonomi pemilih pun mengindikasikan perbedaan pola dukungan. Kelompok sosial ekonomi bawah cenderung terkonsentrasi kepada Ridwan-Suswono. Sementara pada kelompok pemilih kategori menengah bawah pada Pramono-Rano.
Variasi perbedaan konsentrasi dukungan pemilih terjadi pula pada latar belakang usia pemilih. Kaum pemilih muda cenderung terkonsentrasi pilihannya kepada Ridwan-Suswono. Pasangan ini mendapatkan dukungan kalangan muda atau kelompok generasi Z yang terbilang signifikan jumlahnya. Sebaliknya, hasil survei juga menunjukkan, semakin tua kategorisasi usia dan generasi, semakin terkonsentrasi pilihannya kepada Pramono-Rano.
Setiap kesamaan dan perbedaan karakteristik dukungan kepada tiap-tiap paslon yang ditunjukkan survei kali ini membuat peta persaingan kian kompetitif. Sisi positifnya, siapa pun yang berhasil menghimpun dukungan pemilih yang lebih besar, warga Jakarta memulai babak baru politik yang tidak lagi dihadapkan pada ancaman keterpilahan dukungan berbasis identitas sosial. (Litbang Kompas)
=============================================================
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Group - Politik & Hukum ”Survei Pilkada Serentak 2024”. Melalui grup tersebut, Kompas akan mengirimkan rekomendasi bacaan terkait Survei Pilkada Serentak 2024. Klik di sini untuk mendaftar dan bergabung.
Penulis:
Bestian NainggolanEditor:
Marcellus Hernowo