Survei Litbang ”Kompas”: Menghitung Potensi Pilkada Dua Putaran di Jakarta

Belum adanya pasangan calon gubernur yang unggul dengan jarak signifikan membuat Pilkada Jakarta berpotensi berlangsung dalam dua putaran.

05 Nov 2024 05:18 WIB · Politik & Hukum

Oleh Bestian Nainggolan - [email protected]

Peta persaingan di antara pasangan calon kepala daerah dalam Pilkada Jakarta yang tergambarkan dari hasil survei Litbang Kompas terbaru berlangsung sangat kompetitif.  Dari ketiga pasangan calon kepala daerah, dukungan pemilih terhadap pasangan Pramono Anung-Rano Karno dan Ridwan Kamil-Suswono tidak terpaut jauh. Sementara pasangan calon gubernur-wakil gubernur dari jalur independen, Dharma Pongrekun-Kun Wardana, tertinggal dan berjarak cukup lebar dengan kedua rival politiknya.

Berdasarkan hasil survei, Pramono-Rano mampu menguasai dukungan lebih dari sepertiga bagian pemilih (38,3 persen). Capaian itu membuat pasangan yang diusung PDI Perjuangan ini menduduki puncak persaingan.

Meski demikian, pasangan Kamil-Suswono juga mampu menghimpun dukungan yang cukup besar. Pasangan yang diusung 12 partai politik, antara lain Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Golkar, Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Demokrat, dan Partai Solidaritas Indonesia, itu menguasai dukungan 34,6 persen pemilih. Dengan menghitung besaran potensi margin of error survei, pasangan Kamil-Suswono masih terbilang berpeluang untuk menjadi pemuncak dukungan pemilih.

Paslon nomor urut 1 Ridwan Kamil-Suswono menyampaikan pesan-pesan dalam Deklarasi Kampanye Damai Pilkada Jakarta di lapangan Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat, Selasa (24/9/2024). Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Sedemikian ketatnya persaingan di antara kedua kandidat tersebut tergambarkan pula dari sisi loyalitas dukungan para pemilihnya. Baik pasangan Pramono-Rano maupun Kamil-Suswono sama-sama memiliki pendukung yang terbilang loyal (strong voter). Mereka adalah kalangan yang menyatakan sudah pasti akan pilihannya. Mereka mengaku tidak akan mengubah pilihan hingga pemungutan suara.

Hasil survei menunjukkan, tidak kurang dari 68,1 persen pendukung Pramono-Rano  tergolong loyal. Sisanya, kurang dari sepertiga bagian pemilih (31,9 persen), mengaku belum pasti akan pilihannya dan masih memungkinkan berpindah dukungan (swing voter).

Tidak hanya para pendukung Pramono-Rano, bagian terbesar dari pendukung Kamil-Suswono juga tidak kalah loyal. Tercatat sebesar 67,1 persen yang tergolong strong voter. Sisanya, kurang dari sepertiga bagian, kurang loyal. Proporsi ini juga tidak berbeda signifikan dengan jumlah swing voter pasangan Pramono-Rano.

Bakal calon gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berfoto bersama dengan pendukungnya saat Deklarasi Rumah Bersama Pramono-Rano di Gedung Joeang '45 , Jakarta, Rabu (11/9/2024). Acara ini dihadiri pasangan Pilkada DKI Pramono Anung dan Rano Karno yang hadir bergantian. Dalam pidatonya, Pramono mengatakan akan bersama Rano Karno akan meneruskan pembangunan dan perbaikan yang krusial bagi Jakarta, seperti permasalahan banjir. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO (RON) 11-09-2024

Tambahan dukungan 

Dengan besaran proporsi loyalitas dukungan yang dimiliki Pramono-Rano dan Kamil-Suswono, peta persaingan menjelang pemungutan suara, 27 November 2024, bakal semakin kompetitif. Di satu sisi, dua pasangan calon dihadapkan pada tantangan bagaimana menjaga agar kelompok pendukung yang tak loyal tidak berpindah pilihan pada para pesaingnya. Di sisi lain, guna memenangi persaingan, kedua pasangan cagub-cawagub itu juga harus mencari tambahan dukungan pemilih yang lebih besar lagi.

Persoalannya, selain dari perpindahan pilihan pemilih yang terbilang tidak loyal, dari mana potensi tambahan dukungan masih dapat terjadi?

Dengan mengkaji hasil survei, tambahan dukungan pemilih pada kedua pasangan calon ini memang masih memungkinkan terjadi. Sebab, sejauh ini diperkirakan 76,2 persen pemilih yang sudah menyatakan siapa calon yang akan mereka pilih. Artinya, masih terdapat sekitar 23,8 persen pemilih yang hingga kini belum mengungkapkan cagub-cawagub pilihannya. Dengan menguasai ruang dukungan pemilih yang tersisa, peluang tambahan dukungan suara pemilih masih terbilang terbuka bagi kedua pasangan.

Namun, persoalannya, dari kedua pasangan cagub-cawagub yang bersaing, siapa yang berpeluang meningkatkan surplus dukungan terbesar?

Bakal calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta Dharma Pongrekun dan Kun Wardana melakukan konferensi pers seusai mendaftarkan diri untuk Pilkada 2024 di KPU DKI Jakarta, Kamis (29/8/2024). Bakal calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta dari jalur independen mendaftarkan diri untuk bertarung di Pilakada DKI Jakarta 2024. KPU DKI Jakarta akan melakukan verifikasi kepada pasangan calon tersebut. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 29-08-2024

Terdapat beberapa kalkulasi tambahan dukungan pemilih yang berpotensi memenangkan pasangan cagub-cawagub yang bersaing. Langkah paling logis yang umum dilakukan adalah dengan mengalkulasi karakteristik sosial politik para pemilih yang belum menyatakan dukungan. Diharapkan, dengan mengetahui karakteristik sosial politik para pemilih yang belum menyatakan dukungan itu akan tergambarkan siapa kandidat yang berpeluang lebih banyak mendapatkan surplus dukungan. 

Mengacu pada hasil survei ini, kalangan yang belum menyatakan pilihan politiknya tersebar merata pada setiap kelompok identitas responden. Baik dari sisi jenis kelamin; identitas sosial, seperti latar belakang agama, suku bangsa, atau kelompok etnis; maupun latar belakang sosial ekonomi, mulai dari pendidikan hingga status sosial ekonomi pemilih, terbilang kurang signifikan perbedaannya. Artinya, baik pasangan Pramono-Rano maupun Kamil-Suswono memiliki peluang yang sama. 

Sebaran yang merata semacam ini berimplikasi pada elektabilitas setiap pasangan cagub-cawagub. Dengan mengacu model perhitungan potensi tambahan pendukung semacam ini, ekstrapolasi dukungan dapat dilakukan. Diperkirakan, tambahan dukungan pada pasangan Pramono-Rano sebesar 12 persen. Dengan demikian, elektabilitas pasangan ini meningkat menjadi 50,3 persen. Dengan pola kalkulasi yang sama, pasangan Kamil-Suswono mampu meraih 45,4 persen atau mendapatkan tambahan 10,8 persen  dari jumlah dukungan sebelumnya. Begitu juga pasangan Dharma-Kun, dengan tambahan sekitar 1 persen dukungan.

Infografik Proporsi Pilihan Pasangan Calon Kepala Daerah Jakarta

Pilkada Jakarta 2024 dua putaran

Berdasarkan kalkulasi di atas, jika tidak terjadi perubahan yang signifikan hingga pencoblosan suara, tampaknya pasangan Pramono-Rano berada di atas angin. Tambahan dukungan yang diraih semakin memperlebar jarak kemenangan dengan pesaing terdekatnya. Setidaknya, dengan mengikutsertakan perhitungan margin of error survei, proporsi pemilih pasangan ini berada pada rentang 46,8-53,8 persen.

Meski demikian, sekalipun tambahan suara dukungan itu cenderung menguntungkan Pramono-Rano, tak serta-merta menjamin kemenangan berada di tangan peraih suara terbanyak. Pasalnya, selama ini, kalkulasi kemenangan dalam Pilkada Jakarta mensyaratkan raihan suara 50 persen plus satu.

Dengan memperhitungkan potensi margin of error dari survei ini, sekalipun tampak mulai berjarak dengan pesaing terdekatnya, Kamil-Suswono (41,9-48,9 persen), keunggulan Pramono-Rano masih belum cukup terjamin. Dalam batas bawah margin of error survei ini, proporsi dukungan terhadap Pramono-Rano masih memungkinkan capaian elektabilitas di bawah 50 persen.

Guna meningkatkan dukungan yang lebih menjamin kemenangan, pasangan Pramono-Rano pun dihadapkan pada kondisi yang tidak mudah. Memang, sejauh ini Pramono-Rano diuntungkan oleh kuatnya loyalitas pemilih PDI-P. Dikatakan demikian lantaran sudah sekitar dua pertiga pemilih PDI-P (65,8 persen) mengaku menjatuhkan pilihannya pada Pramono-Rano.

Akan tetapi, peta persaingan yang dihadapi kini tidak lagi ringan lantaran problem terbesar yang dihadapi rival politiknya justru terjadi pada belum solidnya dukungan politik dari para pemilih partai pendukung Kamil-Suswono.

Sebagai gambaran, Kamil-Suswono belum sepenuhnya menjadi rujukan pilihan oleh pemilih partai-partai pendukungnya. Pasangan ini didukung PKS, Gerindra, Golkar, dan partai-partai lain yang tergabung dalam Koalisi Jakarta Baru untuk Jakarta Maju.

Bahkan, ironisnya, para pemilih PKS sejauh ini masih tampak belum loyal. Survei menunjukkan, hanya sekitar sepertiga bagian pemilih PKS (36,6 persen) yang mendukung Kamil-Suswono. Melihat sejarah pemilu di Jakarta, baru kali ini proporsi dukungan pemilih PKS terhadap calon gubernur yang didukung partainya terbilang rendah.

Proporsi dukungan tersebut bahkan tidak berjarak jauh dengan dukungan pemilih PKS kepada pasangan  Pramono-Rano (30,4 persen). Bagian terbesar  pemilih PKS lainnya, sekitar 28,6 persen, menyatakan belum punya pilihan atau menjawab rahasia.

Apabila dukungan PKS, partai yang menjadi pemenang pemilu legislatif di Jakarta, di kemudian hari semakin terkonsentrasi pada pasangan Kamil-Suswono, dengan sendirinya akan menjadi penghambat bagi langkah Pramono-Rano dalam memenangi pertarungan. Dalam kondisi demikian, peluang Pilkada Jakarta berlangsung dua putaran semakin terbuka. (Litbang Kompas)

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Group - Politik & Hukum ”Survei Pilkada Serentak 2024”. Melalui grup tersebut, Kompas akan mengirimkan rekomendasi bacaan terkait Survei Pilkada Serentak 2024. Klik di sini untuk mendaftar dan bergabung.


Kerabat Kerja

Penulis:

Bestian Nainggolan
 | 

Editor:

Marcellus Hernowo