Survei Litbang ”Kompas” Pilkada Sumut: Penyebab Rendahnya Loyalitas Pemilih PDI-P

Sekalipun tidak didukung PDI-P, Bobby Nasution-Surya justru panen dukungan dari pemilih ”banteng”. Apa penyebabnya?

07 Nov 2024 06:00 WIB · Politik & Hukum

Oleh Bestian Nainggolan - [email protected]

Hasil survei Litbang Kompas Oktober 2024 mengungkapkan potensi keunggulan pasangan calon gubernur Muhammad Bobby Afif Nasution-Surya atas Edy Rahmayadi-Hasan Basri Sagala yang cukup berjarak di Sumatera Utara. Saat ini sebesar 44,9 persen dukungan berhasil dikuasai Bobby-Surya.

Pesaingnya, Edy-Hasan, menguasai 28 persen dukungan pemilih. Di samping proporsi suara pemilih yang sudah terdistribusi pada kedua pasangan calon gubernur itu, hasil survei menunjukkan pula masih terdapat sekitar 27,1 persen pemilih yang belum menyatakan pilihan.

Lebih jauh, hasil survei juga menguak bahwa keunggulan sementara pasangan calon gubernur Bobby-Surya terhadap Edy-Hasan terjadi di sebagian besar wilayah, dengan beberapa variasi besaran konsentrasi penguasaan. Dengan membagi 33 kabupaten dan kota yang terdapat di seluruh Sumatera Utara dalam tiga wilayah pertarungan politik, semua mampu dikuasai Bobby-Surya.

Pada wilayah yang tergolong kawasan Medan Raya, yang meliputi kawasan seputaran pusat pemerintahan seperti Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Tebing Tinggi, sebanyak 43,1 persen pemilih dikuasai Bobby-Surya. Di wilayah yang dalam Pemilu Legislatif 2024 masuk Daerah Pemilihan (Dapil) Sumut I ini, rival politiknya, Edy-Hasan, tertinggal hingga 12,8 persen.

Hasil survei juga mengungkapkan keunggulan terbesar Bobby-Surya diperoleh di 19 kabupaten dan kota yang tergolong Dapil Sumut II. Pada wilayah seperti Tapanuli Utara, Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal,  Labuhan Batu, hingga berbagai kabupaten dan kota di Nias terkuasai lebih dari separuh bagian pemilihnya. 

Persaingan paling kompetitif terjadi di 10 kabupaten dan kota lainnya yang masuk Dapil Sumut III. Pada wilayah Tanjungbalai, Batu Bara, Asahan, Simalungun, Pematang Siantar, Langkat, Binjai, Karo, Dairi, hingga Pakpak Barat, pasangan Bobby-Surya didukung 36,8 persen pemilih. Edy-Hasan mampu mengimbangi dengan meraih dukungan 30,7 persen pemilih.

infografik Sebaran Pemilih Berdasarkan Daerah Pemilihan (kabupaten/kota) dalam Pilkada Sumatera Utara

Ironisnya, keunggulan sementara Bobby-Surya ini disokong oleh para pemilih PDI-P dan terjadi pada hampir setiap  kawasan yang pada pemilu lalu menjadi benteng kemenangan PDI-P. Sebaliknya, pasangan calon gubernur yang diusung PDI-P, Edy-Hasan, justru kurang mendapatkan dukungan di wilayah kandang banteng.

Memang, Pilkada Sumut kali ini terbilang sarat drama politik. Terjadinya perpecahan politik antara PDI-P dan mantan Presiden Joko Widodo berimbas pada karier politik Bobby sebagai bagian dari keluarga Joko Widodo.

Bobby bahkan dipecat sebagai kader partai dan tidak diusung sebagai calon gubernur oleh PDI-P. Sebaliknya, pada pilkada kali ini,  PDI-P justru mengusung petahana gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, yang uniknya pernah menjadi seteru politik PDI-P dalam Pilkada Sumut 2018.

Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi memberikan sambutan saat hadir sebagai undangan di Rapat Koordinasi Pemenangan PDIP Sumut, di Medan, Jumat (26/8/2022). Komunikasi politik mulai menghangat menjelang Pilkada 2024.

Dualisme pilihan PDI-P di Sumut

Perpecahan politik yang terjadi menguji loyalitas para kader ataupun barisan pendukung partai. Dalam Pilkada Sumut kali ini, terkonsentrasinya sebagian besar pemilih PDI-P pada pasangan Bobby-Surya ketimbang Edy-Hasan menunjukkan sisi dualisme yang kini dihadapi para pemilih PDI-P.

Berdasarkan hasil survei, hampir separuh bagian dari pemilih PDI-P (49,5 persen) di Sumut mengaku menjadi pemilih Bobby-Surya. Sebaliknya, hampir sepertiga bagian saja (30,1 persen) yang menjadi pemilih Edy-Hasan. 

Dari sisi sebaran wilayah, menjadi semakin ironis lagi tampak. Pada wilayah yang menjadi kantong pemenangan PDI-P dalam pemilu legislatif lalu kini justru memenangkan Bobby-Surya ketimbang Edy-Hasan.

infografik Sebaran Pemilih PDI-P Berdasarkan Daerah Pemilihan (kabupaten/kota) dalam Pilkada Sumatera Utara

Pertarungan politik paling kompetitif terjadi di Dapil Sumut I yang sekaligus juga menunjukkan dualisme pilihan yang terjadi. Dapil Sumut I dapat dikatakan sebagai salah satu benteng banteng terkuat. Tidak kurang dari 20,5 persen pemilih PDI-P ada di wilayah ini.

Pada daerah pemilihan inilah PDI-P masih terbilang unggul ketimbang rival politiknya, Golkar. Sementara pada kedua dapil lainnya, penguasaan PDI-P melorot, tidak menjadi pemenang.

Kendati menjadi wilayah pemenangan PDI-P, Bobby-Surya unggul tipis, mampu meraih dukungan 44 persen dari total pemilih PDI-P di Dapil I. Sebaliknya, Edy-Hasan meraih dukungan hingga 36 persen dari pemilih PDI-P. Sisanya, masih sebesar 20 persen dari pemilih PDI-P yang belum menyatakan dukungan.

Pada wilayah pertarungan politik lainnya, Dapil II dan Dapil III, penguasaan dukungan pemilih PDI-P oleh Bobby-Surya semakin tinggi. Pada Dapil II, separuh bagian pemilih PDI-P (51,4 persen) tertuju pada Bobby-Surya. Hanya sekitar 28,6 pemilih PDI-P saja yang menyatakan sebagai pemilih Edy-Hasan.

Pada wilayah Dapil III yang meliputi beberapa kabupaten seputaran Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, hingga Nias itu lebih dari separuh bagian pemilih PDI-P (51,5 persen) tertuju pada Bobby-Surya. Pada wilayah yang memiliki jejak historis cukup lekat dengan keluarga besar Bobby Nasution ini,  tampak sulit berpaling pada pasangan yang diusung partai mereka, Edy-Hasan.

Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Djarot Saiful Hidayat menyampaikan pidato pada safari politik bakal calon presiden dari PDIP Ganjar Pranowo di Gedung Serbaguna Sumatera Utara, Medan, Minggu (11/6/2023). Ganjar menyebut akan meneruskan program pemerintahan Joko Widodo.

Loyalitas pemilih PDI-P di Sumut

Selain penguasaan wilayah kandang ”banteng”, pasangan Bobby-Surya pun mampu membangun loyalitas pemilih yang terbilang tinggi. Sejauh ini, hampir tiga perempat bagian dari pemilih Bobby-Surya terbilang loyal, mengaku tidak akan berpindah pilihan kepada pasangan calon gubernur lainnya. Pada sisi sebaliknya, kadar loyalitas yang relatif lebih rendah (70,1 persen) pada para pemilih Edy-Hasan.

Apabila dipilah berdasarkan pilihan partai politik, loyalitas pemilih yang terbangun pada pasangan Bobby-Surya ini justru tertinggi pada kalangan pemilih PDI-P. Dalam hal ini, sebanyak 82,2 persen dari total pemilih PDI-P yang mengaku menjatuhkan pilihan pada Bobby-Surya bersifat loyal dan tidak akan mengubah pilihannya. Kondisi yang lebih rendah pada para pemilih PDI-P yang mengaku memilih Edy-Hasan, tercatat sebesar 64,3 persen. 

Pengalihan dukungan dan loyalitas pemilih PDI-P kepada Bobby-Surya yang notabene bukan pasangan calon gubernur yang didukung partai ini mengindikasikan rapuhnya efektivitas garis kebijakan politik partai terhadap para pemilihnya. Menjadi persoalan yang krusial, terutama kondisi demikian justru terjadi pada partai yang terbilang ideologis semacam PDI-P dengan jejak historis yang terbilang panjang di Sumut.

Jika merujuk pada hasil survei, sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang menjadi dasar pertimbangan bagi para pemilih PDI-P untuk memilih pasangan Bobby-Surya ataupun pasangan Edy-Hasan yang didukung partai mereka. 

Pasangan Bobby-Surya bagi para pemilih PDI-P memiliki sisi-sisi positif, antara lain sisi kemampuan ataupun pengalaman dari pasangan ini dalam menjalankan pemerintahan. Selain itu, sisi personalitas juga menjadi salah satu daya tarik pada pasangan ini.

infografik Loyalitas Pilihan Pemilih PDI-P pada Setiap Pasangan Calon Gubernur Sumut

Identitas sosial pemilih Sumut

Akan tetapi, berbagai pertimbangan yang relatif mirip juga tertuju pada pasangan Edy-Hasan. Sisi personalitas dan kemampuan pasangan ini juga menjadi daya tarik bagi pemilih PDI-P. Artinya, persoalan kapasitas dan penerimaan sosok bukan menjadi faktor pembeda pilihan bagi para pemilih PDI-P.

Pandangan lain, hasil survei juga menunjukkan kurang signifikannya dukungan politik tokoh (political endorsement) dalam pola persaingan kedua pasangan calon gubernur. Dukungan Megawati Soekarnoputri, misalnya, hanya menjadi pertimbangan sekitar 29,2 persen pemilih PDI-P di Sumut.

Tidak jauh berbeda juga terjadi pada faktor Joko Widodo. Survei menunjukkan, hanya sekitar 31,6 persen pemilih PDI-P saja yang mempertimbangkannya. Sebaliknya, mayoritas mengaku tidak mempertimbangkan dukungan sosok mantan presiden itu.

Menantu Presiden Joko Widodo, Bobby Nasution, menyampaikan sambutan setelah mendapatkan rekomendasi dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sebagai calon wali kota Medan 2020, Selasa (11/8/2020). Bobby mendapatkan rekomendasi secara resmi dalam acara pengumuman 75 pasangan calon dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang akan bertarung di pemilihan kepala daerah atau Pilkada 2020 dari Kantor DPP PDIP, Jakarta, Selasa (11/8/2020). Acara tersebut disiarkan secara daring di sejumlah plafrom media sosial PDIP. Sebagian pasangan yang dicalonkan tersebut juga mengikuti seecara daring dari daerah masing-masing. Pengumuman ini adalah gelombang III setelah sebelumnya pemberian rekomendasi pada 19 Februari dan 17 Juli 2020.Kompas/Heru Sri Kumoro11-08-2020

Ketimbang faktor sosok dan juga dukungan politik, para pemilih PDI-P di Sumut tampaknya lebih terikat pada faktor lain seperti kesamaan identitas sosial. Disimpulkan demikian, hasil survei cenderung menunjukkan jika faktor identitas sosial seperti suku bangsa ataupun kelompok etnis dan faktor agama menjadi lebih relevan sebagai pembeda pilihan. 

Dalam hal ini, pemilih PDI-P beridentitas sosial kesukuan seperti Jawa, Batak Toba, Karo, Nias, dan Jawa terkonsentrasi pilihannya pada Bobby-Surya. Begitu juga para pemilih PDI-P yang berlatar belakang agama selain Islam.

Kondisi demikian, yang tidak banyak terkonsentrasi pada pasangan Edy-Hasan ini menjadi tidak berbeda dengan gambaran umumnya para pemilih di Sumut. Faktor identitas sosial tetap menjadi pertimbangan pemilih. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Bestian Nainggolan
 | 

Editor:

Andreas Yoga Prasetyo