BYD menguasai 22,2 persen pangsa pasar global untuk penjualan kendaraan listrik. Selanjutnya, Tesla 10,3 persen dan Wuling 4 persen.
23 Mar 2025 10:07 WIB · Ekonomi
Pabrikan mobil listrik asal China, BYD, menduduki tahta tertinggi sebagai mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) di dunia. BYD jauh melampaui pesaingnya, seperti Tesla, Wuling, BMW, Volkswagen, dan Mercedes-Benz.
Mengutip laman Autovista, pasar kendaraan listrik (EV) global mencatat pertumbuhan dua digit sepanjang 2024. Jika digabungkan antara kendaraan listrik (BEV) dan hibrida plug-in (PHEV) mencapai lebih dari 17,29 juta unit pada tahun 2024. Artinya, pasar kendaraan listrik global tumbuh 26,1 persen dibandingkan dengan tahun 2023.
Data terbaru dari EV Volumes (bagian dari Autovista Group), BEV mencatat volume registrasi pengiriman sebanyak 10,8 juta kendaraan, sedangkan PHEV mencapai 6,49 juta kendaraan. Sepanjang 2024, BEV menguasai pangsa pasar kendaraan listrik global terbesar mencapai 62,5 persen dan PHEV menguasai 37,5 persen.
Urutan pertama atau yang menguasai pangsa pasar global, yaitu jenama BYD dengan total mencapai 3,84 juta kendaraan, baik itu kendaraan listrik jenis BEV maupun PHEV. BYD menguasai 22,2 persen dari seluruh penjualan kendaraan listrik di pasar global atau naik 1,2 persen poin dari tahun 2023.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/06/cc72eb4c253785e512c0efe2a669d2bb-Off_The_Charts_Year_By_The_Numbers_126367258.jpg)
Urutan kedua diduduki jenama asal Amerika Serikat, Tesla, yang berhasil menjual 1,78 juta unit atau menguasai 10,3 persen pangsa pasar. Penguasaan pangsa pasar Tesla secara global turun 1,2 persen dari tahun ke tahun (year of year/yoy). Pada 2023, pangsa pasar Tesla mencapai 13,2 persen.
Urutan ketiga, diduduki Wuling, pabrikan asal China, dengan menguasai 4 persen pasar global atau sebanyak 688.415 unit.
Sementara itu, BMW berada di posisi keempat. Meski menjadi salah satu merek terkemuka di Eropa, BMW hanya menguasai 3,1 persen pasar EV global dengan penjualan sebanyak 535.586 kendaraan.
Selanjutnya, Li Auto berada di posisi kelima dengan menguasai 3 persen pasar global atau mencatat penjualan mencapai 526.353 unit. Di posisi keenam, Geely dengan menguasai 2,7 persen pangsa pasar atau berhasil menjual 458.473 unit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/17/45081b43-f48c-4433-b57b-789997e0a342_jpg.jpg)
Sementara itu, Volkswagen (VW) mengalami penurunan penjualan sehingga harus duduk di posisi ketujuh dengan pangsa pasar 2,6 persen atau sebanyak 454.631 unit. Di urutan kedelapan, Aito dengan penjualan mencapai 386.817 unit sehingga menguasai 2,2 persen pangsa pasar global.
Di posisi kesembilan, Mercedes-Benz menguasai 2,2 persen pangsa pasar global dengan penjualan mencapai 374.311 unit. Posisi kesepuluh, yaitu Aion, dengan penjualan mencapai 373.906 unit atau menguasai 2,2 persen pangsa pasar global.
Memasuki 2025, secara global, penjualan kendaraan listrik menunjukkan peningkatan yang cukup pesat. Rho Motion, lembaga riset kendaraan listrik, mengungkapkan bahwa jumlah kendaraan listrik yang terjual secara global pada Februari 2025 sebanyak 1,2 juta unit.
Pasar kendaraan listrik tumbuh hampir 50 persen dibandingkan dengan Februari 2024, tetapi turun 3 persen dibandingkan dengan Januari 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/17/7d8461b2-42aa-49e7-9d2d-335ae48b6732.jpg)
Manajer Data Rho Motion Charles Lester, dalam siaran persnya, mengatakan, penjualan kendaraan listrik secara global dengan peningkatan 50 persen itu sebagian besar pertumbuhannya dari China yang terus mengalami kebangkitan kendaraan listrik.
”Merek domestik mereka, BYD, tidak menunjukkan tanda-tanda akan memperlambat ekspansi domestik dan internasional mereka,” kata Lester.
Dalam dua bulan pertama 2025, BYD telah menjual sekitar 130.000 kendaraan listriknya. Sementara itu, di Eropa, mobil listrik tenaga baterai juga menunjukkan tren lonjakan 29 persen. Sementara di Amerika Utara pertumbuhannya lebih stabil sebesar 20 persen.
Pabrikan BEV terbesar di AS, Tesla, mengalami awal tahun yang sulit dengan penjualan pada Januari di Eropa turun 47 persen dan di China turun 15 persen. Penjualan Tesla di Perancis, Jerman, Inggris, dan Belgia mengalami penurunan 63 persen.
Berdasarkan data Asosiasi Produsen Mobil Eropa (ACEA), penjualan Tesla pada Januari 2025 hanya 9.945 kendaraan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/03/06/1492d842-423f-442b-8caf-da081be02667.png)
BYD yang menguasai pangsa pasar global juga terlihat di Indonesia. Secara total penjualan mobil listrik sepanjang 2024 naik 161 persen dibandingkan tahun sebelumnya 2023.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), mencatat ada 44.557 kendaraan yang didistribusikan dari pabrik ke diler atau wholesales. Data pada 2024 itu meningkat dari tahun sebelumnya pada 2023, yaitu 17.058 unit.
BYD mendominasi pasar Indonesia melalui sembilan model dengan penjualan total 15.429 kendaraan. Dari sembilan model itu, mobil terlaris jatuh kepada BYD Seal Premium Extended Range sebanyak 3.125 unit dan BYD Alto 3 Superior Extended Range sebanyak 3.068 unit.
Kompatriot lainnya yang telah dahulu masuk ke Indonesia, Wuling, berada di posisi dua dengan penjualan 13.117 unit. Dari total delapan model, Wuling Cloud 460 KM yang paling banyak diminati 3.521 unit dan Wuling Bingou 410 KM DC sebanyak 3.483 unit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/14/44c1553d3cec7033bbd9296c516ab1ce-IMG_5856.jpg)
Pabrikan China lainnya yang menguasai pasar Indonesia, yaitu Chery dengan total penjualan 5.010 unit melalui empat modelnya. Chery Omoda E5 merupakan model paling diminati, yaitu 4.250 unit.
Selanjutnya, Morris Garage, jenama asal Inggris yang mencatat total 3.193 kendaraan. Dari enam modelnya, 4 EV Magnity CK D menjadi yang terlaris sebanyak 2.301 unit dan ZS EV Magnity sebanyak 766 unit.
Lalu, Hyundai, pabrikan asal Korea, dengan total penjualan 2.803 unit. Dari total 16 model, Hyundai Ioniq 5 Signature Extended paling diminati, yaitu 1.299 unit dan Hyundai Kona EV Signature Extended Two Tone 718 unit.
Jenama yang ikut menguasai pasar Indonesia, yaitu Aion dari China, terjual 1.240 unit dengan tiga model. Aion Y Plus Exclusive menjadi model yang paling diminati sebanyak 657 unit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/17/ec463f16-c402-428d-9c45-4ba2f7bd7c96.jpg)
Sementara jenama dari Eropa, seperti BMW (Jerman) dan Citroën (Perancis), tak ketinggalan ikut menguasai pasar Indonesia. Tercatat ada 679 unit BMW diminati di Indonesia. BMW IX1 eDrive20 AT menjadi yang paling terlaris dengan terjual 295 unit. Sementara Citroen yang membawa The New Citroën Ë-C3 All Electric mencatat penjualan sebanyak 361 unit.
Adapun merek lainnya yang ikut meramaikan pasar otomotif kendaraan listrik di Indonesia antara lain Kia, Lexus, Mitsubishi Fuso, Mitsubishi Motor, DFSK, Mercedes Benz, Mini, Volvo Cars, Toyota, Seres, Nissan, dan Neta.
Pada 2025, kendaraan listrik di Indonesia terus tumbuh. Terbaru, pada Februari 2025, Gaikindo mencatat total ada 7.659 unit penjualan (wholesales). BYD masih mencatat penjualan tertinggi di Indonesia sebanyak 2.513 unit.
Disusul Wuling sebanyak 1.520 unit dan Chery sebanyak 1.371 unit. Sementara itu, pendatang baru asal China, Denza, mencatat penjualan yang cukup impresif mencapai 937 unit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/08/25/d36d7c00-d9fe-4b76-848c-81739c38f3e3.jpeg)
Menurut pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, dominasi BYD secara global termasuk di Indonesia pada 2024 hingga awal 2025 disebabkan oleh kombinasi strategi industrial yang matang, efisiensi rantai pasok, dan dukungan kuat dari Pemerintah China.
”BYD memiliki keunggulan rantai bisnis vertikalnya karena memproduksi sendiri komponen kunci, seperti baterai dan motor listrik, sehingga menekan biaya dan meningkatkan kontrol kualitas,” kata Yannes saat dihubungi, Sabtu (22/3/2025).
Salah satu hal lainnya yang membuat BYD banyak dilirik adalah menawarkan portofolio varian BEV yang lebih luas, mulai dari entry level hingga kelas premium. Dari berbagai varian kelas itu, BYD menawarkan desain interior dan eksterior yang menarik dengan tersemat fitur dan teknologi yang canggih. Dari berbagai portofolio itu, harga BYD bisa sangat kompetitif dibandingkan merek lainnya.
”(BYD) menggunakan blade battery yang lebih murah dan etis secara rantai pasok. Ini juga membuat harga total BYD semakin murah,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/17/0656262c-ffb7-4310-8584-c02f2af42d55.jpg)
Sementara itu, pabrikan seperti Tesla menurun karena ada interaksi kompleks dari faktor pasar, operasional, dan kondisi makroekonomi global yang tertekan sehingga merontokkan daya beli pasar di berbagai negara.
Belum lagi jika ditambah perang dagang AS dengan China, membuat masyarakat China dan banyak negara di luar G7 bergeser ke produk BEV yang performanya dianggap melebihi Tesla.
”Situasi ini semakin membuat Tesla kehilangan daya tariknya. Karena di samping tantangan rantai pasok parts Tesla yang terganggu akibat kebijakan dagang dan politik USA, saat ini banyak produk kendaraan listrik lebih murah, varian desain, dan teknologi yang makin canggih,” kata Yannes.
”Jangan lupa, banyak desainer produk kelas dunia bergabung dengan dengan China. Mulai eks senior designer Rolls Royce, BMW, Audio, dan lainnya, yang membuat produk China bersaing dari sisi teknologi, desain produk, harga, dan bahkan jaminan purnajual,” lanjutnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/04/71d2a148-fc05-4dcb-bd46-17af12b0c5f4_png.png)
Lalu bagaimana dengan potensi pasar kendaraan listrik di Indonesia?
Menurut Yannes, masih ada potensi untuk pasar mobil listrik di Indonesia bertumbuh. Hal itu tak lepas karena Indonesia berada dalam fase transisi menuju era kendaraan listrik. Potensi itu juga terlihat setidaknya dari data Gaikindo yang mencatat pertumbuhan kendaraan listrik yang positif.
”Saya memperkirakan pangsa pasar mobil listrik atau BEV 2025 nasional meningkat 70.000 unit pada 2025 atau sekitar 8 persen dari proyeksi total penjualan seluruh mobil di Indonesia,” kata Yannes.
Potensi pasar kendaraan listrik di Indonesia bisa mencapai target bahkan bisa lebih tinggi dari perkiraan jika makroekonomi Indonesia stabil dan infrastruktur kendaraan listrik terus ditingkatkan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/13/f78092c4-f697-40b1-aeb8-283c99b49ac8_jpg.jpg)
Alasan konsumen Indonesia masih banyak yang belum melirik kendaraan listrik karena infrastruktur seperti pengisian daya atau stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) belum merata dan menjangkau luas ke daerah-daerah.
Kendaraan listrik yang diminati di Indonesia tidak hanya sekadar segmen perjalanan dalam kota selain di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi), tetapi juga perjalanan luar kota yang jaraknya jauh.
Infrastruktur lainnya, pengembangan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) industri baterai lokal yang harus didukung pemerintah melalui insentif fiskal dan nonfisik yang berkelanjutan sehingga bisa menekan harga kendaraan listrik.
Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara mengatakan, pertumbuhan kendaraan listrik secara global dan di Indonesia, khususnya merupakan tren untuk menuju target net zero emission. Sementara itu, terkait persaingan antarmerek China dan Eropa/AS memunculkan kompetisi dari sisi harga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/15/f760614a-949a-41bd-bcaf-856e8d6f5ba0_jpg.jpg)
Terutama di Indonesia, harga menjadi sangat penting. Merek asal China banyak menjadi pilihan karena harganya yang lebih terjangkau.
”Masyarakat Indonesia itu adalah konsumen yang sangat price sensitive. (Merek) mana yang terjangkau. China karena volumenya besar dan juga punya cara untuk menekan biaya, riset yang mendalam, dan menawarkan konsep-konsep baru sehingga harganya kompetitif,” kata Kukuh.
Kukuh meyakini pada 2025 pertumbuhan kendaraan listrik atau hibrida akan tetap akan menjanjikan. Meski begitu, daya beli masyarakat Indonesia tetap menjadi tantangan. Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia positif, hal itu akan sejalan dengan peningkatan pertumbuhan kendaraan listrik.
Jadi, merek kendaraan listrik apa yang akan dipilih untuk mengisi garasi rumah Anda?
Penulis:
Aguido AdriEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari