Tahun 2024 Ditutup dengan Rekor Suhu Terpanas

Dampak perubahan iklim mencengkeram dunia pada tahun 2024, dengan dampak nyata dari puncak gunung ke kedalaman laut serta pada masyarakat, ekonomi, dan lingkungan.

01 Jan 2025 12:21 WIB · Humaniora

Oleh Ahmad Arif

JAKARTA, KOMPAS — Pergantian tahun ditandai dengan catatan suram tentang kondisi pemanasan global. Tahun 2024 telah menjadi yang terpanas sepanjang sejarah pencatatan dan 10 tahun terakhir secara akumulatif menjadi dekade terpanas.

”Hari ini saya dapat melaporkan secara resmi bahwa kita baru saja mengalami satu dekade panas yang mematikan. Sepuluh tahun terpanas yang pernah tercatat telah terjadi dalam sepuluh tahun terakhir, termasuk 2024,” kata Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres dalam pesannya menyambut Tahun Baru 2025.

Dia mengingatkan, apa yang terjadi sepanjang 2024 merupakan bentuk nyata dari jalan menuju kehancuran iklim. ”Kita harus keluar dari jalan menuju kehancuran ini—dan kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu,” ujarnya.

Data Copernicus Climate Change Service menunjukkan, suhu permukaan udara rata-rata global pada bulan November 2024 meningkat 1,62 derajat celsius di atas suhu praindustri.

Quote

Hari ini saya dapat melaporkan secara resmi bahwa kita baru saja mengalami satu dekade panas yang mematikan. Sepuluh tahun terpanas yang pernah tercatat telah terjadi dalam sepuluh tahun terakhir, termasuk 2024.

Hal ini menjadikannya sebagai bulan ke-16 dalam periode 17 bulan ketika suhu permukaan udara rata-rata global meningkat 1,5 derajat celsius di atas suhu praindustri. Data untuk bulan Desember belum tersedia, tetapi diperkirakan melanjutkan rekor terpanas.

Kondisi lapisan es di Puncak Jaya, Papua pada 14 November 2024. Pemanasan global menyebabkan luasan maupun ketebalan es di salah satu dari tujuh puncak tertinggi di dunia ini menyusut drastis dan diprediksi bakal hilang sepenuhnya sebelum tahun 2026.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) di bawah PBB akan menerbitkan angka suhu global terkonsolidasi untuk tahun 2024 pada Januari 2025 dan laporan lengkapnya tentang keadaan iklim global 2024 pada Maret 2025. Namun, dari data sementara, sepanjang 2024 telah memecahkan rekor tahun terpanas.

Sepanjang tahun 2024, serangkaian laporan dari komunitas WMO menyoroti laju perubahan iklim yang cepat dan dampaknya luas pada tiap aspek pembangunan berkelanjutan.

Curah hujan yang memecahkan rekor didokumentasikan serta banjir yang dahsyat, gelombang panas yang menyengat dengan suhu melebihi 50 derajat celsius, dan kebakaran hutan dahsyat.

Laporan World Weather Attribution menemukan, perubahan iklim menambah 41 hari panas pada 2024 yang membahayakan kesehatan manusia dan ekosistem. Perubahan iklim juga mengintensifkan 26 dari 29 peristiwa cuaca yang menewaskan sedikitnya 3.700 orang dan membuat jutaan orang mengungsi.

Anomali suhu permukaan udara global tahunan (°C) relatif terhadap tahun 1850–1900 dari tahun 1940 hingga 2024. Estimasi untuk tahun 2024 bersifat sementara dan berdasarkan data dari bulan Januari hingga November.

Peringatan dan harapan

Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menggambarkan tahun 2024 sebagai peringatan yang seharusnya menyadarkan umat manusia untuk berubah.

”Tahun (2024) ini kita menyaksikan curah hujan yang memecahkan rekor dan kejadian banjir serta hilangnya nyawa di banyak negara, yang menyebabkan kesedihan bagi warga di tiap benua,” ungkapnya. Setiap fraksi derajat pemanasan penting dan meningkatkan secara ekstrem iklim, dampak, dan risiko.

Terlepas dari kenyataan suram, tahun 2024 mencatatkan kemajuan penting dengan diadopsinya Pakta untuk Masa Depan (Pact for the Future), perjanjian mempromosikan pelucutan senjata, reformasi keuangan, kesetaraan jender, dan inovasi teknologi yang etis. Perjanjian ini disepakati pada September 2024.

Sekalipun hasilnya banyak dikritik, Konferensi Iklim PBB atau COP29 baru-baru ini juga membahas cara-cara meningkatkan pendanaan bagi negara-negara miskin guna mendukung mereka dalam mengatasi dampak cuaca ekstrem.

Para peserta Konferensi Perubahan Iklim (COP) ke-29 di Baku, Azerbaijan membuat konten untuk media sosial di depan pintu masuk konferensi di Baku Stadium, Selasa (12/11/2024). COP29 Baku digelar pada 11-22 November 2024.

Negara-negara berkembang bertanggung jawab atas sejumlah kecil emisi karbon historis. Namun, seperti yang disoroti oleh penelitian WMO, merekalah yang paling terdampak cuaca ekstrem.

Sebagai tanggapan atas Seruan Aksi Sekretaris Jenderal untuk Mengatasi Panas Ekstrem, sekelompok pakar yang mewakili 15 organisasi internasional dan 12 negara berkumpul di kantor pusat WMO pada Desember 2024. Pertemuan itu untuk memajukan kerangka kerja terkoordinasi guna mengatasi ancaman panas ekstrem yang meningkat.

Dengan ditetapkannya pada tahun 2025 sebagai Tahun Internasional Pelestarian Gletser, WMO dan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) bersepakat memprioritaskan upaya melindungi kriosfer, wilayah beku Bumi, yang penting untuk mengatur suhu global.

Selain itu, WMO tengah memajukan inisiatif seperti Global Greenhouse Gas Watch yang bertujuan untuk meningkatkan pemantauan fluks bersih gas rumah kaca secara global.

Pada tahun 2027, organisasi ini juga bertujuan untuk memastikan perlindungan universal dari peristiwa lingkungan berbahaya melalui sistem antisipasi yang menyelamatkan nyawa yang saat ini dikembangkan dalam program Early Warnings for All.

”Jika menginginkan planet yang lebih aman, kita harus bertindak sekarang. Itu tanggung jawab kita. Itu tanggung jawab bersama, tanggung jawab global,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Arif
 | 

Editor:

Evy Rachmawati