Sekitar 22.000 prajurit tambahan akan dikerahkan bersama tank Abrams M1A2T, HIMARs, dan rudal permukaan-ke-udara Sky Sword.
09 Jul 2025 19:23 WIB · Internasional
TAIPEI, RABU — Mengantisipasi serangan dari China, Taiwan memulai latihan perang paling masif yang pernah dilakukan, Rabu (9/7/2025). Tahap awal latihan militer tahunan ini fokus pada simulasi jika terjadi serangan terhadap pusat komando militer beserta infrastrukturnya.
Latihan yang akan digelar selama 10 hari ini sekaligus menguji strategi dan sistem komando militer Taiwan saat mendesentralisasikan komando jika diserang dan komunikasinya lumpuh. Latihan kemudian akan diperluas untuk menilai kesiapan tempur Taiwan jika musuh mengerahkan kekuatan penuh untuk merebut Taiwan.
”Selama beberapa tahun terakhir, kami belajar dari situasi di Ukraina dan realistis memikirkan apa yang mungkin akan dihadapi Taiwan dalam pertempuran sesungguhnya. Panglima harus memikirkan masalah apa yang mungkin dihadapi pasukan dan yang perlu disampaikan ke bawahan mereka,” kata seorang pejabat senior pertahanan Taiwan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/09/5085f9e7881a06495884091b81199b03-Taiwan_Air_Force.jpg)
Dalam latihan tahunan Han Kuang ini akan dikerahkan sekitar 22.000 prajurit cadangan serta sejumlah alutsista canggih, seperti drone dan tank Abrams M1A2T. Untuk pertama kalinya akan diikutsertakan Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS) baru buatan Lockheed Martin.
Selain itu, Taiwan juga akan mengerahkan sistem rudal permukaan-ke-udara Sky Sword yang dikembangkan Taiwan. Sekitar 300 pasukan mulai mendapatkan pembekalan di Kota Taoyuan untuk mempelajari mortir dan senapan.
Latihan militer yang akan dilakukan antara lain melawan respons Penjaga Pantai China dan kapal-kapal milisi maritim yang selama ini mengganggu kapal-kapal Taiwan di sekitar gugusan pulau lepas pantai yang dekat dengan pantai China. Latihan militer Taiwan akan mencakup penguatan pelabuhan dan kemungkinan titik pendaratan China di Taiwan. Fokus latihan juga akan tertuju pada simulasi latihan anti-pendaratan dengan pasukan dari semua angkatan bersenjata.
Selain itu, diperkuat pula antisipasi serangan siber dan kampanye disinformasi. Taiwan menganggap dua hal itu sebagai tindakan ”zona abu-abu” berintensitas tinggi yang kemungkinan akan mendahului serangan China. Kementerian Pertahanan Taiwan menyebutkan ada kekhawatiran China dapat menyerang dengan kedok pelecehan.
Kementerian Pertahanan Taiwan mengimbau masyarakat agar bersabar dengan segala gangguan pada penerbangan atau lalu lintas jalan dan tidak memercayai informasi palsu yang disebarkan tentang latihan militer itu. Upaya itu untuk merespons pernyataan China tentang latihan militer Taiwan.
”Latihan Han Guang tidak lain hanyalah tipuan dan tipu daya dari otoritas Partai Progresif Demokratik yang berupaya mengikat rakyat Taiwan ke dalam kereta kemerdekaan Taiwan dan merugikan Taiwan demi kepentingan egois satu pihak. Apa pun senjata yang digunakan, mereka tidak bisa melawan pedang anti-kemerdekaan PLA. Sejarah penyatuan kembali tanah air tidak terelakkan,” ujar juru bicara Kementerian Pertahanan China, Jiang Bing, Selasa.
China juga sudah mengambil tindakan untuk mengganggu persiapan latihan militer Taiwan. Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan, pesawat dan kapal Pasukan Pembebasan Rakyat China beroperasi di sekitar wilayah udara dan laut Taiwan dengan dalih ”patroli kesiapan tempur gabungan”.
Angkatan bersenjata Taiwan menggunakan langkah-langkah intelijen, pengawasan, dan pengintaian gabungan untuk memantau situasi secara ketat dan mengirimkan pesawat misi, kapal, dan sistem rudal berbasis pantai untuk merespons dengan tepat. Elemen-elemen pertahanan sipil juga akan diuji, termasuk pembuatan stasiun-stasiun pasokan darurat serta penggunaan tempat perlindungan serangan udara Taiwan yang baru-baru ini diperluas.
Kontrol ekspor
China telah memberlakukan kontrol ekspor, Rabu, terhadap delapan perusahaan yang terkait dengan militer Taiwan. China pernah menggunakan taktik serupa sebelumnya, termasuk memberikan sanksi kepada perusahaan-perusahaan AS yang membantu industri pertahanan domestik Taiwan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/23/aee54cdd-aaeb-4da8-9ae3-4d8a274a0f3b_jpg.jpg)
Perusahaan-perusahaan kedirgantaraan dan pembuatan kapal ditambahkan ke daftar kontrol ekspor oleh Kementerian Perdagangan China. Perusahaan-perusahaan itu antara lain pemasok pertahanan Aerospace Industrial Development Corporation, produsen pesawat nirawak Jingwei Aerospace Technology Co., dan CSBC Corporation, perusahaan pembuat kapal terbesar di Taiwan.
Peraturan baru tersebut, yang berlaku segera, melarang ekspor ”barang-barang dengan penggunaan ganda” ke perusahaan-perusahaan yang terdaftar, yang dapat digunakan untuk keperluan sipil dan militer.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Taiwan, Chiao Fu-chun, menepis dugaan tersebut dengan mengatakan bahwa industri pertahanan di Taiwan telah mengecualikan semua komponen buatan China dari rantai pasokan mereka. Taiwan sejak lama telah berupaya agar semua manufaktur dilakukan di Taiwan.
Selama ini China memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan intensif memberi tekanan militer di sekitar Taiwan selama lima tahun terakhir. Tekanan itu antara lain berupa latihan perang dan patroli harian. China sering menyatakan dapat menggunakan kekuatan untuk mengambil alih Taiwan. Sejak Rabu pagi, Taiwan mendeteksi 31 serangan pesawat China dan tujuh kapal angkatan laut. Sekitar 24 pesawat melintasi garis tengah yang menjadi pembatas tidak resmi antara kedua belah pihak.
Ketika ditanya tentang latihan perang Taiwan dan penggunaan HIMARS yang dipasok AS, juru bicara Kemlu China Mao Ning mengatakan, China konsisten dengan sikapnya, yaitu sangat tegas menentang hubungan militer AS dan Taiwan. ”Upaya Taiwan mencari kemerdekaan melalui kekuatan atau mengandalkan (aktor-aktor) asing tidak akan pernah berhasil,” kata Mao.
Kementerian Pertahanan China mengatakan, latihan militer Han Kuang Taiwan tidak lebih dari sekadar gertakan. Sebaliknya, Taiwan mengatakan ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Taiwan bertekad mempertahankan dirinya sendiri. Presiden Taiwan Lai Ching-te menolak klaim kedaulatan China, dengan mengatakan bahwa menjadi hak rakyat Taiwan memutuskan masa depannya. (REUTERS/AFP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari