WAWANCARA

Tak Sekadar Hiburan, Siaran Langsung Piala Dunia Diharap Ungkit Harapan

Setelah absen lama, ”TVRI” kembali menyiarkan secara langsung Piala Dunia. Lembaga penyiaran publik itu menjadi pemegang tunggal hak siar gelaran akbar edisi 2026.

19 Feb 2026 16:53 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar, Prasetyo Eko Prihananto, Adi Prinantyo

Setelah absen menyiarkan Piala Dunia sejak edisi 1998, TVRI kembali menyiarkan langsung turnamen sepak bola terakbar ini untuk edisi 2026. Lembaga penyiaran publik ini pertama kali membawa Piala Dunia ke rumah-rumah masyarakat Indonesia pada 1970.

Pada Piala Dunia 2026 ini, TVRI akan menjadi pemegang tunggal hak siar, baik untuk free to air (televisi terestrial), over-the-top (streaming), hingga radio dan kegiatan off air. TVRI mengklaim kesiapan penyiaran Piala Dunia 2026 telah mencapai hampir 90 persen. Sejak proses bidding pada April 2025, mereka telah melakukan pembenahan menyeluruh, terutama pada aspek infrastruktur dan sumber daya manusia.

Direktur Utama TVRI Iman Brotoseno dalam wawancara dengan Harian Kompas di Jakarta, Rabu (18/2/2026), mengatakan, siaran Piala Dunia melalui TVRI adalah hadiah dari Presiden kepada masyarakat agar dapat menyaksikan turnamen akbar ini secara meluas.

Namun, diharapkan manfaat yang didapat nantinya tak berhenti pada aspek hiburan saja, tetapi bisa menggerakkan ekonomi lokal. Kegiatan nonton bareng (nobar), terutama yang melibatkan usaha kecil dan menengah (UMKM), akan difasilitasi dan dipermudah.

Siaran ini juga diharapkan menjadi bagian dari upaya pemulihan bagi warga yang terdampak bencana. Momentum Piala Dunia 2026 juga menjadi strategi panjang TVRI untuk mengembalikan posisinya di masyarakat, sebagai lembaga penyiaran publik relevan bagi masyarakat.

Berikut wawancara dengan Iman Brotoseno yang berlangsung di kantor TVRI Pusat:

Sejauh mana persiapan TVRI melakukan siaran langsung Piala Dunia 2026?

Sejak proses bidding bulan April 2025, sejak itu kami sudah mempersiapkan semua persiapan yang terkait dengan infrastruktur dan SDM. Jadi, intinya kami ingin terbaik, dan sampai sekarang saya rasa sudah sangat siap.

Kami sudah bisa memastikan bahwa siaran TVRI nanti akan diterima oleh seluruh masyarakat. Bahkan, kami sudah melakukan uji coba juga. Jadi, waktu drawing bulan Desember kemarin itu kami sudah melakukan uji coba dengan FIFA karena mereka sudah mengirimkan feed-nya. Terus kami juga sudah melakukan semacam simulasi dengan studio di sini. Dan, itu berjalan lancar.

Jadi, artinya hampir dipastikan ketika nanti Piala Dunia penyiriman feed dari FIFA akan bisa diterima oleh TVRI dan bisa disiarkan. Kalau dipersentasekan mungkin persiapan saat ini saya rasa sudah hampir 90 persen. Jadi, tinggal beberapa aspek minor saja. Terutama berkait dengan studio.

Jadi, kami akan membangun studio baru yang mestinya jauh lebih representatif dan nuansanya lebih kekinian. Dan kami juga sesuaikan dengan tema Piala Dunia kali ini.

Diperkirakan bulan Maret sudah selesai karena tanggal 26 Maret kami akan menyiarkan pertandingan persahabatan Perancis melawan Brasil. Jadi, menjelang Piala Dunia ini ada beberapa pertandingan persahabatan yang disiapkan oleh FIFA.

Untuk pertandingan playoff kualifikasi disiarkan juga?

Playoff kami siarkan juga. Tanggal 26 Maret sampai Mei itu ada pertandingan persahabatan dan pertandingan playoff yang mungkin waktunya bersamaan.

Jadi, ya kami sekaligus melakukan simulasi terkait dengan dua kanal, TVRI Sport dan TVRI Nasional. Jadi, kami akan mencoba melakukan simulasi bagaimana ketika ada pertandingan yang bersamaan.

The UEFA Playoff tree is shown on a screen next to Manolo Zubiria, Chief Tournament Officer for the FIFA World Cup 2026, left, and host Melanie Winiger during the FIFA World Cup 2026 playoff draw in Zurich, Switzerland, Thursday, Nov. 20, 2025. (Claudio Thoma/Keystone via AP)

Berapa personel yang disiapkan untuk program Piala Dunia ini?

Kira-kira untuk yang berangkat ke Meksiko, Amerika, dan Kanada enggak terlalu besar. Ya, saya rasa antara 15 dan 18 orang. Tapi itu di luar kontributor kami yang di Amerika.

Kami merekrut beberapa teman-teman dari VOA untuk menjadi reporter kami di sana. Masalahnya ada tiga negara dan kami harus memastikan bahwa setiap negara akan di-cover dengan serius oleh TVRI.

Jadi, kami tidak hanya menyiarkan pertandingan, tetapi juga menyiarkan semua aspek yang terkait dengan pesta olahraga itu. Mungkin ada kehidupan masyarakatnya, mau ada misalnya persiapan tim-timnya, entah itu di kamp latihannya, kemudian juga dengan masyarakat yang tinggal di sekitar stadion, atau suporternya. Kami pastikan masyarakat di Indonesia nanti akan menerima konten-konten yang lengkap.

Program-program apa saja yang disiapkan, baik untuk on air dan mungkin program off air?

Intinya gini, kami akan membangun sebuah ekosistem siaran selama 24 jam, itu tidak hanya pertandingan. Ada dokumenter, kami juga membeli dari FIFA, dokumenter mengenai tim-tim yang bertanding di Piala Dunia.

Kemudian juga ada mengenai web series, kami juga akan membuat web series mengenai tarkam. Jadi, ya, kami angkat aspek kelokalan-nya, lokalitasnya tarkam, ini biar menarik, kami buat web series-nya. Kemudian juga ada, misalnya, podcast dengan pandit-pandit football.

Dan, ini yang menarik, setengah jam atau satu jam sebelum pertandingan, tapi ini tergantung dengan pelatih, FIFA memberikan kesempatan boleh mengambil suasana ruang ganti tim. Ketika mereka berkumpul, pelatih memberikan instruksi, arahan, strategi, bahkan dia marah-marah ke pemainnya itu bisa kami ambil.

FIFA memberikan kesempatan untuk itu, dan itu kalau ada, saya rasa pertama kali. Karena sebelumnya kan di Indonesia selalu pertandingan saja, tapi suasana di ruang ganti enggak pernah terekspos gitu. Sakral banget dulu.

Menara TVRI (tengah) di antara  gedung-gedung tinggi di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Jadi, memang akan banyak sekali yang akan bisa ditampilkan. Juga ada kuis pastinya. Kemudian ada berita bola, terkait dengan siaran Piala Dunia.

Intinya kami akan bangun sebuah ekosistem tidak hanya penyiaran pertandingan selama 90 menit itu. Itu yang kami harapkan, ini karena momentum buat TVRI untuk bisa menghadirkan tayangan-tayangan yang disukai oleh masyarakat.

Selain tujuan hiburan, mungkin manfaat apa yang bisa didapat dari siaran Piala Dunia yang mungkin dicapai oleh TVRI?

Ini perlu kami tegaskan lagi bahwa ini merupakan sebuah hadiah dari Presiden. Jadi, Presiden memberikan hadiah kepada masyarakat untuk menonton Piala Dunia secara gratis melalui TVRI. Tentu saja kami berterima kasih terhadap hadiah dari Presiden karena beliau juga memiliki perhatian yang sangat besar terhadap pembinaan persepabolaan Indonesia sejak dulu ya.

Ketika beliau memberi arahan untuk mengambil siaran Piala Dunia, untuk memberikan hiburan kepada masyarakat. Tapi, sebenarnya kami tidak hanya melihat dari segi hiburan. Karena di sini yang pertama adalah memastikan bahwa seluruh masyarakat di Indonesia bisa memperoleh haknya untuk mendapatkan akses informasi, hiburan, dan sebagainya.

Untuk beberapa di wilayah terkait dengan terdapat bencana itu bisa menjadi bagian dari upaya pemulihan. Ada semangat pemulihan, optimisme untuk bangkit kembali. Kami membayangkan bahwa nanti ada nobar di sana juga.

Dan ketika kita bicara nobar artinya tidak hanya ada aspek kegembiraan, tapi juga ada aspek untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di sini. Di sini juga bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi, ya.

Jadi, dari pukul sebelas malam sampai pukul satu siang itu (saat pertandingan waktu Indonesia) kita bisa lihat banyak sekali aktivitas yang bisa berkaitan dengan nobar itu. Terutama dengan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) ya. Orang bisa berjualan, bahkan kita bisa kaitkan dengan, misalnya, habis shalat subuh kita nobar, nanti sarapan dengan UMKM dan sebagainya.

Saya juga sudah mendapat bukan penugasan, semacam kerja sama dengan Badan Pusat Statistik, kami nanti akan memetakan bagaimana Piala Dunia bisa meningkatkan perekonomian lokal. Nanti kami akan bikin semacam penelitian juga. Before dan after-nya, terkait dengan peran Piala Dunia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal.

A cyclist rides past a countdown to the 2026 FIFA World Cup inaugural match between Mexico and South Africa in Mexico City on December 5, 2025. The draw for the 2026 World Cup, held this Friday in Washington, shaped an unprecedented group stage: 48 teams distributed into 12 groups of four teams each, with the hosts United States, Mexico and Canada seeded in Groups D, A and B, respectively. (Photo by Yuri CORTEZ / AFP)

Dan syukur-syukur secara skala nasional akan meningkat. Memang itu peran-peran yang kami harapkan dari Piala Dunia. Tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga berperan aktif dalam meningkatkan perekonomian.

Kami tidak mau mengulangi kejadian empat tahun lalu, ibu-ibu pemilik warung di Sumatera Utara disamperi pemilik hak siar untuk membayar denda. Silakan, UMKM, pemilik warteg, warung, warung kopi, warung jamu, silakan (nobar). Tapi kalau yang untuk hotel, restoran, pasti ada mekanisme tersendiri.

Artinya posisi TVRI sebagai lembaga penyiaran publik itu betul-betul difungsikan terkait dengan siaran langsung Piala Dunia ini?

Betul. Jadi, TVRI melihat bagaimana pentingnya Piala Dunia ini. Pertama memastikan masyarakat bisa menerima siaran internasional secara inklusif. Dan dipastikan merata semua bisa menerima siaran itu sampai ke pelosok, melalui jaringan terestrial.

Dan yang kedua juga adalah ini kan strategi jangka panjang TVRI untuk memastikan bahwa lembaga penyiaran publik ini, memosisikan sebagai lembaga penyiaran publik yang kokoh, yang positif, relevan, dan bermanfaat buat masyarakat.

Termasuk di sini kita bicara bagaimana membangun ekosistem, tidak hanya hiburan. Jadi, TVRI tidak hanya memberikan hiburan tapi juga memberikan ekosistem kemitraan dengan masyarakat untuk jangka panjang.

Terkait dioptimalkannya fungsi TVRI sebagai lembaga penyiaran publik itu tentu monetisasi mungkin tidak se-ambisius seperti TV swasta?

Ya, memang kami kan rezim penyerapan, seperti kementerian lembaga, bukan mencari untung rugi. Artinya apa yang sudah diberikan pemerintah diserap secara optimal.

Tapi, tentu saja pemerintah berharap ada aspek sosial yang bisa mungkin disamakan dengan nilai uang. Jadi, seperti kepuasan masyarakat, kepuasan masyarakat untuk menerima tontonan, kemudian juga pertumbuhan ekonomi lokal itu mungkin bisa disetarakan dengan nilai uang.

Memang, kami juga tidak menutup mata terhadap penerimaan, misalnya iklan. Karena kami tahu ini kan pesta empat tahun sekali, ya, banyak brand perusahaan yang ingin bekerja sama. Tapi, sesuai arahan Bapak Presiden bahwa ini memang harus bisa dinikmati secara meluas oleh masyarakat.

Dirut tvri iman brotoseno

Artinya sebetulnya momen siaran langsung Piala Dunia ini di satu sisi bisa dikategorikan sebagai momen untuk branding kembali TVRI?

Sebenarnya ini momen buat TVRI untuk kembali menjadi salah satu TV yang kembali dicintai oleh masyarakat. Bagaimana perhatian publik kembali ke TVRI pada momen ini. Dan kami harus membangun momen ini, jangan sampai habis Piala Dunia selesai kembali lagi seperti dulu.

Kami harus berpikir ini momen tepat. Bagaimana kami membuat program yang lain, segala macam. Kalau kami lihat ini panjang, tidak hanya Piala Dunia bulan Juni-Juli ini, tapi kami mendapatkan juga Piala Dunia Putri 2027, sampai Piala Dunia U-17 bulan November.

Jadi ini menjadi momentum, juga terkait persiapan. Selain untuk membangun infrastruktur juga SDM. Kami juga membangun sebuah media center di sini. Kami membangun media center yang representatif. Kami mendapat pujian dari FIFA karena ini pertama kali host broadcaster membangun media center terkait dengan Piala Dunia ini.

Untuk layanan lebih inklusif, utamanya untuk warga yang tidak bisa menyaksikan siaran langsung?

Memang kami juga mendapat hak siar radio. Jadi kami mendapat semuanya, sampai radio. Karena kami tidak punya radio, kami berikan kepada RRI, dan RRI ini memiliki program siaran radio, terutama untuk warga difable yang tidak bisa melihat sehingga mereka bisa menikmati siaran-siaran Piala Dunia dengan mendengarkan.

Ini sesuatu yang saya rasa luar biasa, bagaimana peran media penyiaran publik, termasuk radio itu bisa memfasilitasi seluruh masyarakat. Saya lupa jumlahnya berapa, tapi cukup banyak penyandang tunanetra, yang juga punya hak untuk menerima informasi.

Catatan Redaksi: wawancara ini telah diedit agar lebih concise dan untuk kejelasan


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar, Prasetyo Eko Prihananto, Adi Prinantyo
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase