Kompas.id Brief

Mengapa Talenta Unggul Indonesia ”Kabur” ke Singapura?

Talenta unggul Indonesia memilih ”kabur” ke Singapura. Mereka masuk lewat beasiswa yang diberikan negara itu. Bagaimana prosesnya?

03 Des 2024 12:00 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

Oleh Insan Alfajri, Pandu Wiyoga, Stefanus Ato, Melati Mewangi

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Bagaimana proses berlabuhnya talenta unggul Indonesia di Singapura?
  2. Apa yang mendorong talenta unggul Indonesia pindah kewarganegaraan menjadi warga negara Singapura?
  3. Mengapa talenta unggul Indonesia betah di Singapura?
  4. Kultur seperti apa yang mendorong kemajuan di Singapura?

Bagaimana proses hijrahnya talenta unggul Indonesia di Singapura?

copy title

Talenta unggul Indonesia tidak leluasa mengembangkan potensinya di Tanah Air. Di tengah kondisi ini, agen-agen pencari bakat lembaga pendidikan Singapura memberi mereka tawaran beasiswa. Paket beasiswa ini salah satunya diberikan dengan skema wajib bekerja di negeri itu setelah lulus kuliah.

Orang-orang yang mendapat tawaran di antaranya mereka yang pernah mengikuti Olimpiade Sains Internasional. Penerima tawaran itu dapat mengakses pendidikan berkualitas secara gratis dan bekerja di perusahaan Singapura dengan gaji tinggi.

Situasi ini bisa memicu brain drain, hijrahnya manusia unggul Indonesia ke luar negeri. Catatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, selama 2019-2023, jumlah warga negara Indonesia yang pindah menjadi warga Singapura hampir 1.000 orang per tahun. Tahun ini saja hingga Oktober 2024, ada 978 orang yang melepas status WNI menjadi warga negara Singapura.

Apa yang mendorong talenta unggul Indonesia pindah kewarganegaraan?

copy title

Singapura negara yang aman. Di malam hari, warga bisa tenang dan nyaman bermobilisasi ke mana pun tanpa merasa terancam tindakan kriminal.

Selain itu, fasilitas hidup sejahtera yang mendasar, seperti kesehatan dan pendidikan, juga dijamin oleh pemerintah. Situasi ini yang menjadi magnet orang Indonesia untuk tinggal di Singapura, bahkan berganti kewarganegaraan. Menurut AB, orang Indonesia, kualitas sekolah negeri di sana sangat bagus, tetapi biayanya mahal bagi warga non-Singapura. Sementara, bagi warga negara Singapura, nyaris gratis.

Ia mencontohkan biaya SMP anaknya. Bagi foreigner biayanya 900 dollar Singapura per bulan (setara dengan Rp 10,6 juta per 30 November 2024), sedangkan untuk orang berstatus PR dikenakan 600 dollar Singapura, setara dengan Rp 7 juta per bulan. ”Sementara warga negara Singapura hanya bayar uang kontribusi sebesar 10 dollar Singapura per bulan,” ujarnya.

Mengapa talenta unggul Indonesia betah di Singapura?

copy title

Meritokrasi yang dijunjung tinggi membuat siapa pun bisa bersaing dengan adil. Hal itu yang membuat talenta unggul Indonesia memilih berkiprah di Singapura.

Anda tak perlu khawatir diserobot mereka yang punya bekingan orang dalam atau ordal. Bukan itu tolok ukurnya. Kemampuan seseorang dilihat dari prestasi dan kompetensinya. Selalu ada ruang di Singapura bagi siapa pun yang bisa membuktikan dirinya punya value.

Situasi ini yang mendorong anak-anak berprestasi Indonesia tertarik ke Singapura, seperti yang dilakukan Otto Alexander Sutianto (24). Lelaki asal Solo, Jawa Tengah, ini mengisahkan pengalamannya saat ditemui di sebuah kedai kopi di kampung halamannya, Sabtu (12/10/2024).

Kultur seperti apa yang mendorong kemajuan di Singapura?

copy title

Takut tertinggal jauh, takut kalah, dan kompetitif akrab melekat pada kultur di Singapura. Tak hanya bagi warganya, tetapi juga termasuk menghinggapi sebagian perantau di sana. Ada yang memandangnya negatif, tetapi ada pula yang merasa termotivasi. Suka atau tidak, demikianlah iklim kompetitif yang terbentuk di negeri itu. 

Di Singapura, budaya untuk takut tertinggal jauh atau kalah dari lainnya dikenal dengan istilah kiasu. Bahkan, tokoh komik terkenal asal Singapura juga dijuluki ”Mr Kiasu”, yang digambarkan sebagai seseorang yang kiasu banget dalam kehidupan sehari-harinya. 

Iklim kompetitif ini kental dirasakan oleh sejumlah pelajar asal Indonesia di Singapura. Mereka beradaptasi dengan budaya kiasu di lingkungan mereka. Di awal mereka merasakan berat, seiring waktu mulai terbiasa dan belajar beradaptasi. 

Bagaimana Cara Pemerintah Indonesia untuk Mengelola Talenta Unggul di Dalam Negeri?

copy title

Indonesia butuh waktu 79 tahun setelah merdeka untuk punya fondasi manajemen talenta nasional. Bangsa ini kini berkejaran dengan waktu untuk menciptakan talenta-talenta unggul bidang riset dan inovasi. Kerja keras ini diproyeksi baru terlihat saat usia republik ini mencapai satu abad.

Fondasi itu baru lahir pada 2024 atau setelah 79 tahun republik ini berdiri dan tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2024 tentang Desain Besar Manajemen Talenta Nasional. Salah satu aspek penting dalam peraturan presiden itu, yakni menciptakan sumber daya manusia unggul di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Di dalam desain besar itu, ada target krusial di bidang riset dan inovasi yang harus terwujud pada 2045 atau saat usia kemerdekaan Republik Indonesia tepat satu abad. Target dimaksud, yakni Indonesia harus mencapai 4.000 sumber daya manusia per 1 juta penduduk di bidang riset dan inovasi.

Akankah kita berhasil?

Bagaimana Kiprah Para Jebolan Olimpiade Sains Internasional?

copy title

Di panggung Olimpiade Sains Internasional, mereka pernah mengharumkan Merah Putih dan menjadi kebanggaan negeri. Seiring waktu, sinar yang mereka pendarkan ternyata tak meredup.

Mereka kini berjaya di berbagai belahan dunia. Sebagian dari mereka mungkin dilupakan di Tanah Air, tetapi karya mereka diakui dunia.

Kisah Prastudy Fauzi dan Oki Gunawan adalah potongan kecil dari kisah para jebolan Olimpiade Sains Internasional yang kini berjaya di luar negeri. Di luar sana, masih banyak ratusan jebolan Olimpiade internasional yang saat ini berkarya di luar negeri.

Mengapa Anak Muda Indonesia Tertarik untuk Meninggalkan Indonesia dan Berkiprah di Luar Negeri?

copy title

Hidup di era serba digital membuat kaum muda lebih mudah mengakses segala informasi tentang cara studi dan karier di luar negeri. Seluk-beluknya bisa diketahui dalam sekejap. Mereka menyiapkannya dengan cermat hingga kesempatan datang untuk berangkat.

Inilah sepotong realitas tentang antusiasme yang menghangat di kalangan anak-anak muda Indonesia berpendidikan tinggi saat ini. Mereka memutuskan untuk meng-global dan berkiprah di luar negeri menjadi talenta global.

Corak antusiasme yang dimaksud di sini berbeda dengan fenomena buruh migran Indonesia yang bekerja di luar negeri. Anak-anak muda berpendidikan tinggi ini bahkan mengusung tagar #KaburAjaDulu di media sosial sebagai seruan kepada sesama kaum muda untuk berani meninggalkan Tanah Air berkiprah menjadi warga global.

Apakah Diaspora Indonesia yang Berkarier di Luar Negeri Masih Peduli Pada Tanah Airnya

copy title

Keputusan diaspora Indonesia berkarier di luar negeri masih dipandang sinis bagi sebagian orang. Padahal, meski jauh dari Tanah Air, mereka tetap kembali ke kampung halamannya dengan caranya sendiri. Ada kontribusi yang mereka dedikasikan untuk masyarakat luas.

Pilihan berkarier di luar negeri tidak membatasi seseorang untuk tetap berkontribusi di dalam negeri. Demikian yang dilakukan Ainun Najib di Singapura, Oki Gunawan di Amerika Serikat, dan Noor Huda Ismail di Singapura.

Kisah Ainun, Oki, dan Huda membuktikan bahwa mereka tetap peduli Indonesia meski di luar negeri. Mereka tetap berkontribusi bagi Tanah Air dengan caranya masing-masing.

Bagaimana Cara Mengasah Talenta Pada Anak Yang Dianggap Bodoh?

copy title

Tak ada anak dengan kecerdasan intelektual rendah. Status daerah tertinggal dan terbelakang juga bukan halangan untuk berprestasi. Hanya butuh metode tepat di tangan orang yang mumpuni untuk memoles anak yang dianggap bodoh menjadi talenta brilian.

Pakar matematika dan mantan Rektor Universitas Multimedia Nusantara Profesor Yohanes Surya mengumpulkan anak-anak dengan usia termuda 9 tahun dan paling tua 12 tahun. Mereka direkrut saat Yohanes memberikan pelatihan dan pembinaan kepada guru dan siswa dalam Gasing Academy di beberapa daerah timur Indonesia.

Gasing adalah metode pembelajaran yang merupakan akronim dari gampang, asyik, dan menyenangkan. Racikan metode pembelajaran ini dicetuskan Yohanes. Sembilan anak itu awalnya, oleh guru mereka, dianggap sebagai anak paling bodoh, yang tak mampu berhitung, bahkan untuk hitungan yang sederhana. Namun, mereka kini berbeda. Beragam jenis soal matematika yang diberikan mampu mereka lumat hanya dalam hitungan detik.


Kerabat Kerja

Penulis:

Insan Alfajri, Pandu Wiyoga, Stefanus Ato, Melati Mewangi
 | 

Editor:

Sarie Febriane, Andy Riza Hidayat
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan