Menjelang negosiasi nuklir kedua di Jenewa, konflik AS-Iran belum mereda. AS menambah kekuatan militernya di Timur Tengah.
16 Feb 2026 19:27 WIB · Internasional
AP
TEHERAN, SENIN – Ancaman Amerika Serikat menyerang Iran berpotensi menyulut konflik lebih luas. Taliban yang saat ini berkuasa di Afghanistan siap membantu Iran jika AS menyerang.
Dilansir dari The Jerusalem Post, Senin (16/2/2026), juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan Iran jika diminta. Namun, hal itu tidak secara otomatis melibatkan Taliban untuk bergabung dalam perang pembalasan terhadap AS.
”Taliban akan membantu dan mendukung Republik Islam Iran jika AS menyerang negara tersebut,” ujarnya. Mujahid mengatakan, Iran telah memenangkan ”perang 12 hari” melawan Israel dan AS pada Juni tahun lalu. Menurut dia, Iran akan kembali menang jika saat ini AS menyerang.
”Perang 12 hari” merupakan konflik bersenjata Iran-Israel yang berlangsung pada 13-24 Juni 2025. Israel melancarkan serangan udara dan operasi intelijen yang luas di Iran. Iran membalasnya dengan menembakkan rudal balistik dan rudal hipersonik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/12/f4d9af4a629ec837aa70e38aeb4044c9-AFGHANISTAN_PAKISTAN_UNREST_133278697.jpg)
AS terlibat membantu Israel dalam perang ini. AS dan Israel punya kepentingan yang sama dalam menekan Iran. Meskipun gencatan senjata dicapai pada 24 Juni 2025, tetapi perang itu telah menimbulkan dampak yang besar. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan setidaknya 610 orang tewas akibat serangan Israel. Sementara dari pihak Israel menyebutkan 28 orang tewas akibat serangan Iran.
Meskipun negosiasi program nuklir Iran masih berlangsung, Presiden AS Donald Trump tak menyurutkan ancamannya terhadap Iran. AS telah menambah kekuatan militernya di dekat Iran sebagai antisipasi jika terjadi perang.
Jaringan berita CBS News melaporkan, Trump akan mendukung serangan Israel terhadap program rudal balistik Iran jika kesepakatan antara Washington dan Teheran tidak tercapai. Hal itu disampaikan Trump saat bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, AS, Desember lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/20/8cc855d9606785c1393e62eda404bb6b-figure_1_iran_missiles_IISS.png)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/16/4adf08462203138a5caefd730c88d27f-TOPSHOT_IRAN_POLITICS_ANNIVERSARY_135976947.jpg)
Diskusi internal tokoh-tokoh senior di militer dan komunitas intelijen AS mulai mempertimbangkan dukungan terhadap serangan Israel terhadap Iran. Pembahasan juga menyangkut hal-hal teknis, termasuk penyediaan pengisian bahan bakar angkutan udara untuk pesawat Israel dan masalah pengamanan izin lintas udara dari negara-negara di sepanjang rute penyerangan.
Belum jelas negara mana yang akan mengakomodasi hal itu. Beberapa negara Timur Tengah, seperti Jordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab secara terbuka menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara mereka digunakan untuk serangan apa pun terhadap Iran atau serangan Iran terhadap negara lain.
Di tengah meningkatnya ancaman serangan terhadap Iran, konsentrasi kekuatan militer AS di Timur Tengah juga terus bertambah. Sejak Januari lalu, sedikitnya 163 pesawat tempur termasuk F/A-18 Super Hornet dan pesawat angkut militer strategis C-17 dan C-5 milik AS telah bergerak dari AS dan Jepang ke Timur Tengah melalui Eropa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/16/7baf10a3d9e8454ed57eb1f33066966b-Iran_Protests_135648351.jpg)
Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Jordania menjadi tujuan utama pesawat-pesawat tersebut dengan 98 penerbangan. Selain itu Pangkalan Udara Pangeran Sultan (PSAB) di Arab Saudi dengan 20 penerbangan dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait dengan 18 penerbangan.
Saya berada di Geneva dengan ide-ide nyata untuk mencapai kesepakatan yang adil dan merata. Yang tidak ada dalam agenda: penyerahan diri di hadapan ancaman (Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi).
AS juga mengirimkan kapal USS Gerald R Ford ke Timur Tengah. Armada ini akan memperkuat militer AS di Laut Arab setelah gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln tiba di perairan itu pada Januari 2026.
Iran dan AS tengah bersiap melakukan negosiasi kedua terkait program nuklir Teheran, di Geneva, Swiss. Pertemuan ini melanjutkan negosiasi pertama di Muskat, Oman, pada 6 Februari lalu. Belum ada poin krusial yang dicapai dalam pertemuan perdana itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/10/4c8e63bd56968172a1b2e908f121e119-000_39N63N8.jpg)
Iran berkukuh negosiasi dengan AS hanya mencakup masalah program nuklir. Sementara AS tetap ngotot memperluas pembicaraan mencakup rudal balistik Iran. Perluasan isu negosiasi ini juga menjadi fokus Israel.
Netanyahu berulang kali menyampaikan, setiap kesepakatan dengan Iran harus mencakup pembatasan rudal balistik dan pendanaan proksi di kawasan tersebut. Ia juga ingin kesepakatan dengan Iran melibatkan pemindahan semua uranium dari negara itu.
”Seharusnya tidak ada kemampuan pengayaan uranium. Bongkar peralatan dan infrastruktur yang memungkinkan Anda (Iran) untuk melakukan pengayaan sejak awal,” katanya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah tiba di Geneva, Swiss, untuk negosiasi kedua terkait program nuklir Iran. Perundingan tersebut dijadwalkan, Selasa (17/2/2026). ”Menteri Luar Negeri telah tiba di Geneva sebagai kepala delegasi diplomatik dan ahli untuk mengambil bagian dalam putaran kedua negosiasi nuklir,” tulis lembaga penyiaran Iran, IRIB.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/16/834cb17b61def5a33d3975a7585a77db-EU_Iran_Talks_136172358.jpg)
Lewat akun media sosial X, Araghchi menyebutkan ia bertemu dengan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi untuk diskusi teknis mendalam terkait nuklir. Ia juga dijadwalkan bertemu dengan koleganya dari Swiss dan Oman.
”Saya berada di Geneva dengan ide-ide nyata untuk mencapai kesepakatan yang adil dan merata. Yang tidak ada dalam agenda: penyerahan diri di hadapan ancaman,” tulis Araghchi.
Washington telah mengirimkan Utusan Khusus Steve Witkoff dan menantu Presiden Trump, Jared Kushner. Keduanya juga terlibat dalam negosiasi pertama di Oman. AS dan negara Barat lainnya menuding program nuklir Iran bertujuan untuk membuat bom atom. Tudingan ini dibantah Iran yang menjelaskan program nuklirnya untuk tujuan penelitian dan pengembangan energi.
Pada Jumat (13/2/2026), Trump mengatakan, pergantian pemerintahan di Iran akan menjadi hal terbaik. Pernyataan itu disampaikan di tengah demonstrasi menentang pemerintah yang digelar di luar Iran, termasuk di AS.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi mengatakan, negaranya akan mempertimbangkan kompromi terkait persediaan uraniumnya jika AS mencabut sanksi yang telah melumpuhkan ekonomi Iran. ”Jika kita melihat ketulusan dari pihak mereka (AS), saya yakin kita akan berada di jalan menuju kesepakatan,” ucapnya.
(AFP/AP/Reuters)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase