Taman 24 Jam, Babak Baru Menyegarkan Wajah Kota

Kebijakan membuka taman 24 jam menandai upaya terkini menyegarkan wajah Jakarta yang kekurangan ruang terbuka hijau. Ada sederet harapan warga terkait kebijakan ini.

18 Mei 2025 12:55 WIB · Metro

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany, Atiek Ishlahiyah Al Hamasy

JAKARTA, KOMPAS — Lima taman di Jakarta mulai dibuka 24 jam setiap hari. Kebijakan ini bertujuan menghadirkan taman yang hidup dan inklusif serta menyegarkan wajah kota di tengah kurangnya ruang terbuka hijau.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan kebijakan tersebut di lima taman, yakni Taman Menteng dan Taman Lapangan Banteng di Jakarta Pusat, serta Taman Langsat, Taman Ayodya, dan Taman Literasi Marta Christina Tiahahu di Jakarta Selatan. Kebijakan itu diterapkan mulai Jumat (16/5/2025).

Pembukaan lima taman selama 24 jam mendapat respons hangat dari warga. Waktu yang lebih fleksibel ini sangat membantu, terutama bagi mereka yang ingin bersantai dan berolahraga di malam hari. Namun, jangan lupakan aspek keamanan dan kebersihan, serta keberadaan taman-taman di luar pusat kota.

Friska Elmadja (28), warga Jakarta Pusat, misalnya, berharap pengamanan di lima taman tersebut memadai. Sebab, kejahatan jalanan masih saja terjadi, seperti pembegalan dan pemalakan.

”Lima taman itu jadi contoh baik terlebih dulu. Lalu semua taman dapat menyusul buka 24 jam. Namun, sarana dan prasarana harus memadai karena banyak (taman) yang kurang oke,” kata Friska, Minggu (18/5/2025).

Sarana dan prasarana itu antara lain penerangan, tempat duduk, toilet, dan area olahraga. Ada pula sarana prasarana yang dalam kondisi baik di sejumlah taman.

Maya Shofia (30), warga Jakarta Selatan, menyampaikan harapan serupa. Ia berharap taman kota tidak hanya bisa diakses selama 24 jam, tetapi juga menjadi ruang publik yang ramah dan aman untuk keluarga kapan pun mereka ingin berkunjung. Apalagi, ruang terbuka hijau masih minim dan belum merata.

Sekelompok warga menggelar tikar dan duduk bersama menikmati sore di Taman Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (2/3/2025). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana akan membuka 6 taman di Jakarta dengan 24 jam operasional, termasuk Taman Lapangan Banteng. Keenam taman tersebut adalah Taman Ayodya, Taman Langsat, Taman Martha Christina Tiahahu, Taman Tebet Eco Park, Taman Menteng, dan Taman Lapangan Banteng. Untuk pelaksanaan kebijakan tersebut, saat ini pemprov masih mempersiapkan sarana penunjang yang memadahi untuk pelaksanaannya, seperti penerangan utama, kamera pengawas, toilet, pos jaga, dan petugas keamanan. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO 2-3-2025

”Jakarta kota besar, tetapi taman dan ruang hijau yang tersedia masih minim,” ujar Friska.

Menurut dia, meskipun ada taman yang sudah bagus dan terawat di beberapa wilayah, tidak semua daerah mendapat perhatian yang sama. Tidak sedikit taman yang kondisinya kurang terurus, sering dijadikan tempat membuang sampah, dan kurang nyaman untuk dikunjungi.

Kondisi ini membuat warga yang tinggal di wilayah padat kesulitan mengakses ruang hijau yang memadai. Padahal, keberadaan taman dan ruang terbuka hijau sangat penting untuk menghirup udara segar sekaligus menjadi tempat relaksasi bagi warga kota.

Maya menambahkan bahwa meski ruang terbuka hijau di Jakarta masih kurang, ada beberapa taman yang mulai dibenahi dan lumayan nyaman, terutama di beberapa kecamatan.

”Tapi ya, kalau di pusat kota memang masih padat dan susah cari taman yang cukup luas dan asri,” kata Maya.

Maya berharap pemerintah tidak hanya fokus menambah jumlah taman, tetapi juga memastikan taman-taman yang ada dapat diakses dan dinikmati semua lapisan masyarakat dengan nyaman. Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan dan keamanan taman juga perlu terus digalakkan agar ruang terbuka hijau dapat digunakan secara optimal dan berkelanjutan.

Keduanya sepakat ruang terbuka hijau bukan sekadar soal jumlah. Kualitas dan aksesibilitas yang layak atau memadai pun perlu diperhatikan.

Festival Kalijodo merayakan perbaikan Ruang Terbuka Hijau dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak Kalijodo, Sabtu (16/9/2023). Tadinya ruang terbuka hijau ini seakan tak terawat karena sampah, fasilitasnya rusak, dan cat terkelupas.

Ruang terbuka hijau

Peta ruang terbuka hijau dalam laman Jakarta Satu menunjukkan, luasan ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta baru mencakup 35,99 kilometer (km) persegi. Dibandingkan dengan luas wilayah yang mencapai 660,98 km persegi (BPS Jakarta, 2025), cakupan RTH baru 5,45 persen.

Luasan itu terdiri dari 2.232 RTH, 1.710 jalur hijau, 1.335 taman lingkungan, 130 taman interaktif, 112 hutan kota, 110 pemakaman, 83 taman kota, dan lainnya. Keberadaan RTH ini paling banyak di Jakarta Timur, yakni 24,51 persen. Kemudian menyusul di Jakarta Selatan 23,63 persen, Jakarta Utara 19,49 persen, Jakarta Pusat 11,76 persen, Jakarta Barat 10,09 persen, dan sisanya 6,21 persen.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung terlebih dulu menyapa warga ataupun komunitas sebelum meresmikan taman buka 24 jam di Taman Lapangan Banteng. Mereka memberikan apresiasi, menunjukkan kegembiraan, dan meminta agar kebijakan ini diperluas ke seluruh wilayah Jakarta.

”Ini merupakan komitmen kami untuk membuka ruang terbuka hijau lebih banyak,” ujar Pramono. Politisi PDI Perjuangan ini mengharapkan kebijakan taman 24 jam dapat memberikan lebih banyak ruang bagi warga untuk berkegiatan, menikmati kota, atau mengekspresikan diri.

Selain lima taman tersebut, Kanal Banjir Timur di Jakarta Timur, Taman Cattleya di Jakarta Barat, dan RPTRA Kalijodo di Jakarta Utara akan dipoles sebelum buka 24 jam.

”Akan kami perbaiki supaya bisa dimanfaatkan secara nyaman, aman, damai, dan betul-betul orang ke taman untuk melepas penat,” kata Pramono.

RPTRA Kalijodo, misalnya, akan ditata ulang agar bisa multifungsi. Salah satunya lapangan untuk olahraga bola voli, basket, bahkan futsal.

Warga juga meminta ada ruang pertemuan, seperti amfiteater, yang terbuka. Tujuannya agar kegiatan warga atau komunitas bisa disaksikan pengunjung dan berfungsi untuk ruang meditasi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany, Atiek Ishlahiyah Al Hamasy
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji