Tanker Mulai Hindari Selat Hormuz

Serangan AS-Israel membuat pelayaran di Selat Hormuz dan Teluk Persia semakin berisiko. Kapal-kapal menghindar.

23 Jun 2025 11:44 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

NEW YORK, SENIN — Tanker dan aneka kapal niaga mulai menghindari Selat Hormuz. Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran membuat risiko berlayar di perairan itu membesar tanpa kepastian bisa terkendali.

Dilaporkan Bloomberg pada Senin (23/6/2025), dua tanker putar balik ke selatan pada Minggu siang. MT Coswisdom Lake dan MT South Loyalty awalnya mengarah ke Teluk Persia. Masing-masing tanker berkapasitas hingga dua juta barel minyak mentah.

Serangan AS ke Iran, yang dinamai Operasi Godam Tengah Malam, membuat pelayaran di Selat Hormuz semakin berisiko. AS melepaskan 75 rudal, roket, dan bom dalam serangan pada Minggu dini hari itu.

Pelayaran di Teluk Persia, yang akses keluarnya hanya lewat Selat Hormuz, semakin berisiko sejak Israel menyerang Iran. Gangguan sinyal, baik untuk navigasi dan komunikasi, meningkat. Aneka kapal sipil terlihat berputar-putar di teluk yang menjadi alur pengiriman 20 persen minyak dan gas global tersebut.

Selepas Operasi Godam Tengah Malam, Yunani mengimbau kapal-kapal berbendera Yunani menghindari Selat Hormuz. Yunani salah satu tempat pendaftaran kapal, termasuk tanker, paling banyak di dunia.

Pemilik dan operator berbagai kapal juga terus mempertimbangkan risiko berlayar di Teluk Persia. Meski pasar dan ongkosnya besar, risiko berlayar di sana juga besar.

Gangguan sinyal bisa membuat kapal kandas menabrak kapal lain atau beting dan gosong di tengah teluk. Lebih buruk lagi, kapal bisa terkena ranjau atau rudal.

Infografik Minyak Mentah yang Diangkut Melalui Selat Hormuz ke Arah Timur, Januari-Mei 2025

Tutup selat

Beberapa jam selepas serangan AS, parlemen Iran setuju Selat Hormuz harus ditutup. Penutupan itu bagian dari pembalasan atas Operasi Godam Tengah Malam.

Anggota parlemen Iran, Esmaeil Kowsari, mengumumkan keputusan itu. ”Parlemen telah sampai pada kesimpulan harus menutup Selat Hormuz. Akan tetapi, keputusan akhir berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi,” kata Kowsari kepada media Iran Press TV.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengimbau China membujuk Iran. China salah satu konsumen besar komoditas energi yang keluar dari Teluk Persia. Secara khusus, China menjadi konsumen terbesar minyak Iran. ”Mereka (China) sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk minyak mereka,” kata Rubio.

Di antara anggota Organisasi Produsen Minyak (OPEC), Iran berada di peringkat ketiga. Kapasitas produksinya 3,3 juta barel per hari. Mayoritas ekspor minyak Iran dikirim ke China.

Rubio mengatakan, Iran ”bunuh diri secara ekonomi” jika menutup Selat Hormuz. Alasannya, ekspor minyak negara itu melewati jalur air tersebut. AS juga masih memiliki opsi lain dalam menghadapi Iran.

”Itu akan merugikan ekonomi negara lain jauh lebih parah daripada ekonomi kita. Saya pikir, itu akan menjadi eskalasi besar-besaran yang akan membutuhkan respons, tidak hanya dari kita, tetapi juga dari negara lain,” tutur Rubio.

Analis minyak utama di Kpler, Matt Smith, sepakat, penutupan selat akan menyakiti Iran sendiri. ”Menutup selat akan menghentikan aliran ekspor minyak mentahnya ke China, menghentikan aliran pendapatan utama,” ujarnya kepada CNBC.

Newsweek menjelaskan, ”menutup” Selat Hormuz berarti membuat jalur sempit itu tidak dapat dilalui. Iran tidak memiliki kewenangan hukum untuk menghentikan lalu lintas maritim di selat.

Namun, Angkatan Laut Iran mungkin akan meletakkan ranjau di air untuk menghalangi kapal. Iran bisa juga menembakkan rudal untuk mengganggu kapal tanker.

Selama Perang Iran-Irak pada tahun 1980-an, Iran menargetkan kapal tanker minyak dan fasilitas pemuatan minyak. Aksi itu tidak sepenuhnya memblokir Selat, tetapi menyebabkan kenaikan tajam premi asuransi pengiriman. Lalu lintas maritim juga terlambat.

Beberapa pakar memproyeksikan harga minyak mentah bisa langsung melonjak 30-50 persen jika Iran benar-benar menutup ke selat itu. Harga bensin di AS bisa naik hingga 5 dollar AS per galon. Menurut Goldman Sachs dan firma konsultan Rapidan Energy, harga minyak bisa melebihi 100 dollar AS per barel.

Selain jalur perdagangan minyak, Selat Hormuz merupakan tempat transit sejumlah besar gas alam cair (LNG), terutama dari Qatar. Negara itu salah satu eksportir LNG terbesar di dunia.

Pekan lalu, para ahli strategis mengatakan, intervensi militer langsung AS akan merugikan AS, terutama jika Selat Hormuz ditutup. Sebagian besar perusahaan multinasional di seluruh dunia akan tutup dalam beberapa hari karena pasokan energi untuk operasional habis.

Analis JPMorgan menilai, risiko Iran menutup Hormuz rendah. AS akan memandang hal itu sebagai deklarasi perang.

Akan tetapi, tetap saja ada risiko yang membayang bagi kapal-kapal komersial. Sebab, Iran tetap dapat mengganggu lalu lintas di selat tanpa satu pun kapal perang Iran harus meninggalkan pelabuhan.

”Menurut pandangan kami, mereka dapat mengganggu pengiriman melalui Hormuz lebih lama dari yang diperkirakan pasar,” tutur Bob McNally, pendiri Rapidan Energy dan mantan penasihat energi Presiden AS George W Bush.

McNally memperkirakan, pengiriman minyak dapat terganggu selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, bukan dalam hitungan hari, apalagi jam seperti estimasi pasar. ”AS pada akhirnya akan menang, tetapi itu tidak akan mudah,” ujarnya.

Bloomberg mencatat, sejauh ini Iran belum pernah menutup Selat Hormuz. Pada 2011, Iran pernah melontarkan ancaman serupa sebagai balasan atas sanksi AS dan Eropa, tetapi batal. Iran hanya pernah mengintimidasi kapal-kapal yang melewati selat tersebut, seperti dengan menyita dua kapal pada 2023 dan satu kapal pada 2024. (Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .