Efisiensi anggaran sampai perkampungan atlet yang tersebar dan terapung menantang Indonesia di Asian Games. Atlet diminta tidak khawatir dan tetap fokus berlatih.
28 Jul 2026 12:02 WIB · Olahraga
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Tantangan Asian Games Aichi-Nagoya 2026 lebih kompleks, mulai dari efisiensi anggaran selama persiapan hingga akomodasi atlet yang akan tersebar saat perhelatan. Meski begitu, Ketua Kontingen (Chef de Mission/CdM) Indonesia Todotua Pasaribu meminta para atlet tidak khawatir dan fokus berlatih. Hal-hal di luar teknis perlombaan, termasuk persiapan keberangkatan, akan ia atasi bersama timnya.
Hal itu disampaikan Todotua ketika mengunjungi pemusatan latihan nasional panjat tebing di Hotel Santika Premiere Kota Harapan Indah, Bekasi, Senin (27/7/2026). Panjat tebing menjadi cabang olahraga (cabor) kedelapan yang dikunjungi Todotua dalam rangkaian persiapan Asian Games
”Kalian fokus berlatih, tugas kami memikirkan hal-hal di luar teknis. Latihan seintensif mungkin, jangan terganggu hal-hal dari luar,” ujar Todotua kepada para atlet panjat tebing.
Sudah sejak Mei lalu, tantangan partisipasi Indonesia di Asian Games 2026 mengemuka. Tantangan pertama ialah efisiensi anggaran yang mengganggu persiapan atlet. Cabor memang bersiasat dengan memulangkan sebagian atlet, membatalkan pemusatan latihan luar negeri, hingga memangkas uji coba.
Kendati demikian, secara tidak langsung, kondisi tidak ideal itu turut memengaruhi atlet dalam persiapannya. Untuk ajang sekelas Asian Games, sasaran utama prestasi olahraga Indonesia, atlet tidak bisa berlatih maksimal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/27/a09bb917-07cd-41a9-82dc-2f1a1900e160.jpg)
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyebutkan, anggaran pelatnas untuk Asian Games 2026 sebesar Rp 81 miliar, menurun 79 persen dibandingkan Asian Games 2022 akibat efisiensi. Dari total anggaran Kemenpora sebesar Rp 1,15 triliun, terdapat pemangkasan mencapai Rp 270 miliar.
Anggaran itu hanya cukup untuk membiayai keikutsertaan 361 atlet dari 33 cabang olahraga. Alhasil, pemilihan atlet dan cabang olahraga harus semakin selektif. Di sisi lain, tambahan atlet atau cabang olahraga harus melalui mekanisme lain, salah satunya, opsi pembiayaan mandiri yang sempat dikaji Komite Olimpiade Indonesia belakangan ini.
Todotua menyampaikan pesan yang sama kepada para atlet lain yang dikunjunginya sebelumnya. Kendati tak merinci bagaimana timnya akan memuluskan persiapan, termasuk yang berkaitan dengan efisiensi anggaran, Todotua berkomitmen mengatasi tantangan-tantangan itu. Sementara ia dan tim menyelesaikan kendala yang dihadapi, para atlet diminta fokus pada tugasnya untuk berlatih maksimal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/03/3f459586fa58c0509f18609fd5c5fbbe-Screenshot_2026_06_03_at_10.38.28.png)
”Dengan kunjungan ke cabor, pesan-pesan terkait nonteknis bisa tersampaikan jelas ke mereka sehingga nantinya tidak menjadi persoalan. Begitu juga dengan kebutuhan dari atlet dan cabor. Ini krusial karena kami tidak mau kecolongan dan ingin memastikan atlet bertanding bisa semaksimal mungkin tanpa ada gangguan-gangguan,” ucap Wakil Menteri (Wamen) Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ini.
Kata Todotua, sebagian besar cabor meminta keberangkatan lebih awal agar mereka bisa adaptasi sebelum perlombaan. Ada pula yang meminta bantuan untuk memuluskan naturalisasi pemain seperti dari hoki lapangan.
Adapun tantangan lain ialah akomodasi atlet selama di Jepang yang kemungkinan besar akan tersebar. Jepang membuat perkampungan atlet yang unik dengan menggunakan kapal pesiar mewah dan ”villa” dari kontainer pengiriman.
Dalam laporan di Pertemuan Delegasi Teknis pertama, April lalu, panitia penyelenggara menyebut akan ada 15.000 atlet dan ofisial dari 45 negara yang berpartisipasi di Asian Games. Lebih dari setengahnya akan berada di kota Nagoya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/04/24/d3b656ec-95b5-42b3-8739-6b62a9b2b914.jpg)
Sebanyak 4.600 di antaranya akan tinggal di kapal pesiar yang berlabuh di Pelabuhan Nagoya. Atlet yang akan tinggal di kapal berasal dari cabor panahan, bola basket 3x3, kano/kayak (sprint), balap sepeda gunung dan BMX, sepak bola putra, senam, bola tangan, judo, kabaddi, kurash, seni bela diri campuran, dayung, rugby, sepak takraw, panjat tebing, squash, tenis, angkat besi, gulat dan wushu.
Sebanyak 2.400 atlet akan tinggal di ”villa” sementara yang terbuat dari kontainer pengiriman di Garden Pier. Mereka berasal dari polo air, bola basket 5x5, sepak bola putri, ju-jitsu, pentathlon modern, soft tennis, voli, ditambah Chef de Mission. Sebanyak 1.200 orang lainnya dari bulu tangkis, kriket, sepak bola putra dan putri, serta softball, akan tinggal di hotel.
”Tentunya, effort kami harus bertambah. Namun, kami sudah membuat rencana seperti menempatkan penanggung jawab di dekat tiga tempat tersebut. Kami bersiaga. Maka, jika terjadi apa-apa terkait akomodasi maupun transportasi menuju venue, dapat langsung segera diatasi,” ujar Todotua.
Todotua mengatakan, pihaknya juga terus mematangkan koordinasi terkait mobilisasi kontingen mengingat venue Asian Games 2026 tersebar di sejumlah kota di Prefektur Aichi dan sekitarnya. Berbagai skenario operasional telah disiapkan agar perjalanan atlet menuju arena pertandingan berlangsung efektif dan tidak mengganggu performa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/07/27/d31cb019-e698-4aa6-b641-7703dd3b409b_jpg.jpg)
Terkait opsi keberangkatan mandiri, Todotua mengatakan akan menunggu finalisasi dari Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Berapa pun nantinya atlet yang diberangkatkan secara mandiri, kata Todotua, tim CdM akan membantu mereka sebelum, saat perhelatan, hingga kepulangan ke Tanah Air seperti para atlet lainnya yang dibayai APBN.
Sementara soal medali, Todotua optimistis seluruh cabang olahraga memiliki semangat yang sama untuk melampaui target yang telah ditetapkan. Adapun penetapan target medali menjadi kewenangan Kementerian Pemuda dan Olahraga dan KOI. Sebelumnya, Menpora Erick Thohir menyebut target Indonesia ialah empat emas.
Panjat tebing, misalnya, menetapkan target tinggi. Manajer Tim Panjat Tebing Indonesia Aries Susanti menegaskan, target tim pada Asian Games 2026 adalah dua medali emas. Di Asian Games 2022, panjat tebing membawa pulang satu emas lewat Desak Made Rita Kusuma Dewi pada speed putri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/06/8c30f0c7-b65a-4112-83ce-4675f5fcda54_jpg.jpg)
Panahan juga menargetkan prestasi lebih baik dari Asian Games 2022. Saat itu, Indonesia meraih dua medali perunggu sekaligus mengamankan kuota menuju Olimpiade Paris 2024.
”Kami ingin meningkatkan hasil tersebut dan memaksimalkan peluang meraih medali, sekaligus memanfaatkan Asian Games sebagai jalan menuju Olimpiade Los Angeles 2028,” kata Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Persatuan Panahan Seluruh Indonesia Irawadi Hanafi.
Sementara Pelatih Skateboard Indonesia Anthony Adam Caya mengatakan, target timnya adalah meraih masing-masing satu emas, perak, dan perunggu. Skateboard akan menurunkan total delapan atlet, termasuk peraih perak Asian Games Hangzhou, Sanggoe Darma Tanjung.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase