Pemerintah berharap peningkatan investasi bisa membuka lapangan kerja dan menaikkan pertumbuhan ekonomi. Bagaimana supaya efek itu tercapai?
02 Jan 2025 19:32 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah menargetkan investasi sepanjang 2025-2029 bisa mencapai Rp 13.302 triliun. Investasi Apple ataupun beberapa perusahaan otomotif asal China akan mengawali di tahun 2025 ini.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan P Roeslani menghadap Presiden Prabowo Subianto dan melaporkan rencana-rencana investasi yang akan masuk ke Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (2/1/2025).
Investasi di tahun 2025 ditargetkan sebesar Rp 1.905 triliun. Target ditingkatkan dari tahun ke tahun dengan harapan investasi bisa mendorong pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Adapun di 2029 diperkirakan investasi bisa mencapai Rp 3.414 triliun. Oleh karena itu, sepanjang 2025 sampai 2029, total investasi ditargetkan Rp 13.032 triliun.
Ini juga akan memberikan kontribusi sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi, terutama dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2029 seperti yang ditargetkan, dicanangkan oleh Kementerian Bappenas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/02/b5e9e27a-b34a-47cb-84ba-e7a9d7debff0_jpg.jpg)
”Harapannya bahwa investasi yang masuk ke Indonesia ini bisa juga menciptakan lapangan pekerjaan yang berkualitas. Dan, di saat bersamaan ini juga akan memberikan kontribusi sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi, terutama dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2029 seperti yang ditargetkan, dicanangkan oleh Kementerian Bappenas,” tutur Rosan kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan seusai pertemuan.
Menurut Rosan, kerja sama lintas kementerian diperlukan untuk mencapai target tersebut. ”Terutama di dalam investasi ini melibatkan 18 kementerian di dalam sistem kami sehingga diharapkan kerja sama dengan 18 kementerian itu juga akan makin meningkat ke depannya,” ujarnya.
Dengan peningkatan investasi ini, diperkirakan investasi bisa berkontribusi lebih besar pada produk domestik bruto (PDB). Saat ini, kontribusi PDB terbesar, yakni 53-54 persen, dari konsumsi domestik, sedangkan kontribusi investasi baru 24-25 persen.
Diharapkan investasi bisa menjadi tulang punggung PDB Indonesia, apalagi hilirisasi juga terus dikuatkan.
Saat ini, Indonesia siap menerima investasi-investasi baru. Dari kunjungan Rosan ke China pertengahan Desember lalu, diperoleh komitmen investasi sebesar 7,46 miliar dollar AS dari empat perusahaan. ”Di saat bersamaan kita juga mendorong investasi yang masuk ke Indonesia ini untuk segera memulai investasinya, seperti BYD yang sudah membeli tanah di daerah Subang. Diharapkan investasi untuk manufacturing-nya akan dimulai pada awal tahun depan,” kata Rosan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/02/968f8c4c-a8c9-4c46-b4a9-2e0382e5df08_jpg.jpg)
Beberapa investasi yang masuk dari China itu, lanjut Rosan, antara lain di bidang fiberglass, di bidang PET resin, dan di bidang solar panel. Selain itu, ada pula joint venture perusahaan China dan Indonesia yang akan membangun sistem perikanan terintegrasi di daerah Maluku dan di Papua.
Ketika ditanyakan mengenai investasi perusahaan asal Amerika Serikat—Apple Inc—Rosan tak membantah. ”Nanti saya bikin pengumuman, nanti. Saya nunggu orangnya datang, diharapkan tanggal 7 (Januari) datang. Nanti saya bersama (investor) dari Apple akan menyampaikan investasi tersebut,” ujarnya.
Saat ini, Apple Inc sudah menyurati Kementerian Investasi dan Hilirisasi serta Kementerian Perindustrian. ”Tapi, investasi ini berjalan dengan kami. Saya bilang ke mereka ini, di dua hal yang berjalan beriringan saja. Nanti tanggal 7 dia datang ketemu saya dan jajaran Kemenperin tapi di situ akan kita umumkan,” katanya.
Sebelumnya, dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi XI DPR di Jakarta, Selasa (3/12/2024), Rosan sempat menyampaikan rencana investasi sebesar 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 15,9 triliun dari perusahaan teknologi raksasa, Apple Inc.
Komitmen ini muncul setelah pemerintah melarang peredaran iPhone 16 di Indonesia karena tak ada tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sama sekali di produk ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/10/e189766e-c3dc-4d8b-b384-f0cba3d944b4.jpg)
Kompas mencatat, Apple telah berinvestasi di sektor fasilitas pendidikan melalui Apple Developers Academy dengan nilai total 1 miliar dollar AS (sekitar Rp 15,9 triliun). Investasi itu merupakan bentuk upaya Apple untuk memenuhi aturan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) 35 persen bagi produk elektronik impor.
Namun, realisasi investasi yang dilakukan Apple jauh lebih kecil ketimbang investasi di Vietnam yang mencapai Rp 255 triliun.
Selain investasi Apple ini dan investasi di industri, menurut Rosan, masih banyak yang bisa digarap. ”Kita belum menyentuh banyak investor itu yang investment management atau portfolio. Nah ini juga yang akan digarap karena contohnya seperti perusahaan investasi Blackrock saja yang aset undermanagement-nya saja itu 11 triliun dollar AS. Itu enam kali GDP kita,” tutur Rosan.
Presiden Prabowo, lanjut Rosan, mengarahkan supaya investasi-investasi besar ini juga digarap. Dengan demikian, Indonesia tak hanya menerima investasi industri, tapi juga investasi portofolio.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/04/09/9a7781cf-16ba-451f-94d9-0524db4e2e37_jpg.jpg)
Secara terpisah, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai, secara angka, selama ini Indonesia bisa mencapai target investasi. Karena itu, dia menilai, hal ini juga bisa dicapai pemerintahan Presiden Prabowo.
Namun, selama ini pencapaian target investasi tak sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih saja stagnan di kisaran 5 persen.
”Beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi, meski target tercapai secara angka rupiahnya, tapi pertumbuhan ekonomi tidak lebih tinggi kecuali karena dorongan harga komoditas di tahun 2022. Jadi, pekerjaan rumah pemerintah adalah investasi masuk bisa memberi multiplier effect untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” tutur Faisal.
Masalah tersebut disebabkan struktur investasi yang masuk lebih banyak di bangunan ketimbang permesinan. Dalam catatan BPS, kata Faisal, 74 persen investasi masuk pada bangunan, sedangkan kurang dari 20 persen pada permesinan. Adapun di negara-negara seperti China, Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Malaysia, investasi lebih banyak masuk dalam bentuk mesin, untuk industri manufaktur.
”Jadi bukan sekadar investasi apa saja tapi yang masuk ke sektor industri manufaktur,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/24/d101bfdb-3839-4fa4-aef0-59e9ba1ca4ed_png.png)
Selain itu, lanjut Faisal, penting juga mendesain supaya industri manufaktur dan hilirisasi bisa menciptakan lapangan kerja lebih banyak. Dengan demikian, peluang kerja mendorong masyarakat memiliki pendapatan lebih banyak dan bisa mendorong konsumsi domestik. Pada akhirnya, investasi bukan hanya mendorong sektor produksi tapi juga konsumsi.
Hilirisasi di sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan akan lebih bisa mendorong penciptaan lapangan kerja lebih banyak ketimbang sektor tambang. Jadi, pemerintah perlu mengarahkan investasi pada sektor-sektor ini. Insentif pun bisa disesuaikan.
Terkait investasi portofolio, Faisal menilai, saat ini sudah cukup investasi yang masuk di Indonesia. Kebijakan menarik dari pemerintah bisa meningkatkan investasi portofolio.
”Tapi, saya tidak berharap kita terlalu bergantung pada investasi portofolio karena investasi portofolio gampang keluar masuk. Ketidakpastian dalam ekonominya terlalu tinggi. Begitu ada perubahan kebijakan di AS, kenaikan suku bunga misalnya, gampang beralih,” tuturnya.
Untuk itu, pemerintah perlu menyiapkan kerangka kebijakan yang lebih menarik supaya investor mau menanamkan portofolionya lebih lama di Indonesia.
Penulis:
Nina SusiloEditor:
Cyprianus Anto Saptowalyono