Kurangi Gangguan Operasional Jadi Target LRT Jabodebek 2025

Menghubungkan Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi, LRT Jabodebek menargetkan tambahan pengguna, mengurangi gangguan operasional, serta mewujudkan fase 2.

24 Feb 2025 18:05 WIB · Metro

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany

BEKASI, KOMPAS — LRT Jabodebek mengupayakan peningkatan jumlah pengguna, rangkaian kereta, waktu tunggu, dan keandalan sarana prasarana. Upaya tersebut berbarengan dengan menuntaskan studi kelayakan pembangunan fase 2 dari Cibubur ke Bogor.

Angkutan perkotaan berbasis rel ini beroperasi komersial sejak Agustus 2023. Pelayanannya terdiri dari 20 rangkaian kereta untuk 348 perjalanan dari Dukuh Atas BNI ke Harjamukti dan Dukuh Atas BNI Ke Jatimulya.

Manajemen menyebut total pengguna pada 2024 sudah mencapai 21,05 juta dengan rata-rata 70.483 pengguna setiap hari kerja dan 33.089 pengguna pada akhir pekan. Pengguna ini paling banyak mengakses Stasiun Dukuh Atas BNI, Harjamukti, dan Kuningan.

Executive Vice President LRT Jabodebek Mochamad Purnomosidi mengatakan, jumlah pengguna harian tertinggi sudah menyentuh 94.172 pada 2024. Adapun rata-rata pengguna sepanjang tahun 2025 mencapai 88.497.

”Maka, kami targetkan 93.906 pengguna setiap hari kerja sehingga bisa mengangkut 27 juta pengguna pada tahun ini,” ujar Purnomosidi di Kantor KAI Divisi LRT Jabodebek, Senin (24/2/2025).

LRT Jabodebek akan menambah empat rangkaian kereta secara bertahap mulai Maret untuk mendukung upaya tersebut. Dengan bertambahnya rangkaian kereta, maka akan berlangsung 396 perjalanan.

Menurut Purnomosidi, tambahan tersebut akan membuat waktu tunggu semakin pendek. Kedatangan dan keberangkatan rangkaian kereta menjadi 9 menit pada jam sibuk pagi ataupun sore hari dan 12 menit saat jam normal.

”Perjalanan bertambah, waktu semakin singkat, maka target 6-7 menit bisa tercapai. Ini juga mengurangi kepadatan saat jam sibuk,” kata Purnomosidi.

Di sisi lain, manajemen berupaya meningkatkan ketepatan waktu operasional. Saat ini capaiannya berada pada angka 97,23 persen.

Purnomosidi menuturkan, LRT Jabodebek telah dan akan melakukan sejumlah upaya ke depannya. Sebagai contoh, seluruh pegawai turun ke stasiun-stasiun untuk mengurai kepadatan penumpang ketika jam sibuk pagi dan sore hari, terutama setiap Senin.

”Gangguan perjalanan yang terjadi kami upayakan tertangani secepatnya dan tuntas. Misalnya, masih terjadi rem darurat meskipun kondisi tidak darurat. Ini sudah kami konsultasikan dengan penyedia teknologi,” ucap Purnomosidi.

Executive Vice President LRT Jabodebek Mochamad Purnomosidi, Senin (24/2/2025).

LRT Jabodebek beroperasi tanpa masinis karena mengadopsi sistem kontrol berbasis komunikasi (communication based train control/CBTC) dengan grade of automation (GoA) 3. CBTC bekerja menggunakan sinyal komunikasi radio antara perangkat di sepanjang jalur rel dan rangkaian kereta sehingga posisi setiap rangkaian dapat diketahui secara akurat oleh pusat kendali atau operation control center (OCC).

Selain itu, manajemen membereskan masalah kebocoran pasokan udara di dalam rangkaian kereta. Masalah ini terjadi karena peralatan sambungan udara sudah rusak.

”Kami cek seluruh rangkaian kereta supaya masalah tak berulang,” ujar Purnomosidi.

LRT Jabodebek mempunyai tempat perawatan ringan dan berat. Perawatan ringan berlangsung harian hingga maksimal 12 bulan, sedangkan perawatan berat selama lebih dari 12 bulan bulan.

Belakangan dibentuk flying gang atau tim khusus beranggotakan teknisi yang siap sedia 24 jam. Mereka ditempatkan di Dukuh Atas BNI, Cawang, dan Harjamukti sambil memantau ada atau tidaknya gangguan operasional.

Rangkaian kereta di Depo LRT Jabodebek, Bekasi, Jawa Barat, Senin (24/2/2025).

Fase 2

Pada saat yang sama, manajemen tengah melakukan studi kelayakan pembangunan fase 2 dari Cibubur ke Bogor. Pembangunan lanjutan ini menggunakan skema creative financing atau penggalangan dana inovatif karena pemerintah tidak punya cukup biaya.

Purnomosidi mengatakan, studi kelayakan sedang disusun dengan target presentasi kepada pemerintah pada Agustus nanti. Di samping itu, sudah berjalan penjajakan dengan sejumlah investor dari Uni Emirat Arab, Korea, Jepang, dan negara Eropa.

Fase 2 akan membentang sepanjang 23 kilometer dari Cibubur ke Bogor. Nilai investasinya sedang dihitung, tetapi diperkirakan lebih kecil dari fase 1 karena lintasan yang lebih pendek.

”Fase 2 ini harus menggandeng investor. Sedang kami jajaki,” kata Purnomosidi.

Purnomosidi juga memastikan sejauh ini tidak ada pemangkasan subsidi di tengah efisiensi anggaran. Hal tersebut berdasarkan konfirmasi kepada pemangku kepentingan terkait.

Subsidi untuk LRT Jabodebek mencapai Rp 2 triliun rupiah. Alokasinya untuk kewajiban pelayanan publik atau public service oligation (PSO) berkisar Rp 250 miliar sampai Rp 300 miliar.

Sejumlah pengguna menyambut baik upaya LRT Jabodebek tersebut. Mereka berharap pelayanan kian andal, terutama penanganan gangguan operasional dan pembangunan fase 2.

Febriyani (33), pekerja kantoran di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, menyebut, LRT Jabodebek lebih ramai dari tahun sebelumnya. Ini terutama saat jam sibuk pagi dan sore hari.

”Kereta sudah lebih cepat jadi tidak menunggu terlalu lama. Namun, masih ada gangguan, kereta tiba-tiba berhenti. Bikin waswas,” kata Febriyani. Ia berharap manajemen bisa membenahi masalah kereta tiba-tiba berhenti.

Lain lagi dengan Arum (37), warga Bogor yang bekerja di Jakarta Pusat. Mobilitasnya bakal lebih mudah jika fase 2 dibangun.

”Dari Cibinong ke Jakarta tinggal naik LRT Jabodebek. Tidak perlu transit atau menghadapi macet,” ujar Arum.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra