Di atas pesawat Air Force One, Trump melontarkan ancaman pada Kolombia, Kuba, Greenland, Meksiko, dan Iran.
06 Jan 2026 09:28 WIB · Internasional
AP
Setelah operasi Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Presiden AS Donald Trump memberi isyarat bahwa masih ada negara-negara lain yang menjadi sasarannya. Negara apa saja target Trump berikutnya?
Dalam sesi tanya jawab sekitar setengah jam dengan wartawan, Minggu (4/1/2026) waktu setempat atau Senin (5/1/2026), di atas pesawat Air Force One, Trump melontarkan ancaman pada Kolombia, Kuba, Greenland, Meksiko, dan Iran.
Apa dampaknya dan bagaimana negara-negara itu menghadapi ancaman Trump?
Sejak operasi di Venezuela, Trump kembali menegaskan keinginannya untuk mencaplok Greenland dari Denmark. Sebagaimana Venezuela yang kaya minyak, Greenland kaya mineral.
Ia menyatakan, AS membutuhkan wilayah semi-otonom itu demi kepentingan keamanan nasional. Menurut Trump, Denmark tidak mampu melindungi Greenland dari ancaman Rusia dan China.
”Trump telah memberi kita daftar panjang potensi penaklukan di masa depan. Akan tetapi, target paling mungkin dari pemerintahannya adalah Greenland,” kata Asli Aydintasbas, peneliti Center on the United States and Europe di Brookings Institution, Selasa (6/1/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/23/bb7ebefae96e5cce38cac5360e98ee8a-FILES_DENMARK_GREENLAND_US_DIPLOMACY_132101771.jpg)
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen memperingatkan, setiap upaya merebut Greenland dengan kekuatan dapat berarti berakhirnya aliansi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang dipimpin AS.
Namun, Washington juga dapat menempuh jalur lain dengan meningkatkan tekanan diplomatik terhadap sekutu-sekutu Eropa. Caranya termasuk dengan mendorong penyelenggaraan referendum di Greenland.
Kolombia menjadi sasaran ancaman paling keras. Trump menyebut Presiden Kolombia Gustavo Petro sebagai sosok yang ”sakit” dan mengatakan operasi militer AS di Kolombia mungkin dilakukan. Trump juga melontarkan peringatan keras kepada Petro untuk hati-hati.
Di bawah gertakan Trump, Pemerintah Kolombia menegaskan akan tetap bekerja sama dengan AS dalam pemberantasan perdagangan narkotika. Namun, Kolombia mengecam pernyataan Trump.
”Pemerintah Kolombia telah memberi tahu Pemerintah AS bahwa kami akan terus berkoordinasi dan bekerja sama dalam memerangi perdagangan narkoba,” kata Menteri Dalam Negeri Kolombia Armando Benedetti dalam sebuah video bersama Menteri Kehakiman Andres Idarraga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/05/877f2474-cd4c-49c7-897e-1f1b11cfe7c5.jpg)
Benedetti mengatakan, operasi antinarkotika Kolombia akan terus menyasar laboratorium narkoba, organisasi kriminal, serta kamp-kamp mereka. ”Kami akan terus menekankan perang melawan momok ini, khususnya di perbatasan Kolombia–Venezuela,” kata Idarraga, menambahkan.
Kolombia secara resmi mengkritik pernyataan Trump. Setiap kemungkinan masuknya pasukan AS ke wilayah Kolombia merupakan campur tangan yang tidak semestinya.
Menteri Pertahanan Kolombia Pedro Sanchez menuturkan, situasi saat ini justru membuka peluang emas untuk memperkuat kolaborasi internasional dalam memerangi perdagangan narkotika. Seiring melonjaknya penanaman daun koka beberapa tahun terakhir, AS terus menekan Kolombia untuk meningkatkan upaya pemberantasan narkotika.
Kami akan terus menekankan perang melawan momok ini, khususnya di perbatasan Kolombia–Venezuela.
Pemerintahan Petro menyatakan, sepanjang 2025 mereka telah menyita kokain dalam jumlah yang belum pernah terjadi, hampir 1.000 ton metrik.
Dengan beragam ancaman itu, Trump dinilai memanfaatkan dampak operasi AS di Venezuela untuk menekan pemimpin Amerika Latin lain agar tunduk.
”Pada dasarnya dia mengatakan, ’Saya bisa merundung negara itu sampai tunduk,’ dan bahwa hegemoni AS harus diterima jika mereka ingin mempertahankan kedaulatan mereka,” kata Asli Aydintasbas, peneliti senior di Center on the United States and Europe, Brookings Institution, yang fokus pada kebijakan luar negeri AS dan dinamika kekuasaan global.
Trump pun menyebut Kuba siap runtuh. Ia mengatakan, aksi militer AS ke Kuba tidak diperlukan karena Havana akan sulit bertahan tanpa pasokan minyak Venezuela.
Kuba merupakan musuh lama AS dan sekutu ideologis Venezuela. Selama ini, minyak Venezuela dengan harga subsidi menopang perekonomian negara pulau tersebut.
Pemerintah Kuba mengklaim bahwa 32 warga Kuba yang bertugas sebagai pengawal tewas dalam operasi AS di Venezuela. Klaim itu disampaikan Havana sebagai bagian dari kecaman terhadap operasi militer Washington.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/06/18ff85d68e08b70cf40daea94b09e886-Portugal_US_Venezuela.jpeg)
Pernyataan Trump memicu kekhawatiran di kalangan warga Kuba. Mereka cemas hidup akan semakin susah.
Selama bertahun-tahun, warga Kuba hidup dalam krisis ekonomi, kelangkaan bahan kebutuhan pokok, serta pemadaman listrik berkepanjangan. ”Tahun 2026 akan berat, sangat berat,” kata Axel Alfonso (53), pengemudi di badan usaha milik negara.
Sejak tahun 2000, Kuba semakin bergantung pada minyak Venezuela. Melalui kesepakatan yang dibuat dengan pendahulu Maduro, yakni Hugo Chavez, Kuba menerima minyak Venezuela dengan harga murah. Sebagai imbalan, Kuba mengirim dokter, guru, dan pelatih olahraga ke Venezuela.
”Pada kuartal terakhir 2025, Venezuela mengirim 30.000–35.000 barel minyak per hari ke Kuba, atau sekitar 50 persen dari defisit minyak nasional,” kata Jorge Pinon, pakar energi dari University of Texas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/06/349f6ae8735f93ae563f314bf53294fb-Cuba_Daily_Life.jpeg)
Dalam enam tahun terakhir, Kuba terjerumus krisis yang semakin dalam. Krisis ini akibat kombinasi sanksi AS, buruknya pengelolaan ekonomi domestik, serta runtuhnya sektor pariwisata akibat pandemi Covid-19. Produk domestik bruto Kuba tercatat turun 11 persen dalam lima tahun.
Pada 11 Juli 2021, demonstrasi antipemerintah terbesar dalam puluhan tahun melanda Kuba. Warga protes kesulitan ekonomi, pemadaman listrik yang semakin sering, serta kelangkaan makanan dan obat-obatan. ”Kami hidup dalam momen ketidakpastian,” kata Daira Perez (30), pengacara di Havana.
Pinon menilai, belum jelas apakah pasokan minyak Venezuela ke Kuba akan berlanjut, terutama setelah penyitaan kapal tanker minyak oleh AS di Karibia. Kuba dinilai tidak memiliki sumber daya finansial ataupun mitra politik untuk menggantikan pasokan tersebut.
Kepada Meksiko, Trump mengancam, Meksiko harus segera membereskan urusannya. Menurut Trump, ia telah berkali-kali meminta Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum agar mengizinkan pengiriman pasukan AS untuk memerangi narkoba. Namun, Sheinbaum terus menolak.
”Saya mendorong Presiden Meksiko untuk mengizinkan saya mengirim pasukan AS guna memberantas kartel narkoba di Meksiko,” katanya.
Meski melontarkan ancaman, Trump menyebut Sheinbaum sebagai sosok yang luar biasa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/06/6998b5fb97b084d398d92382516d0e1f-wires_photo.jpg)
Pemerintah Meksiko menepis kemungkinan aksi militer sepihak AS. Sheinbaum mengatakan, dirinya tidak melihat adanya risiko intervensi militer. Ia menegaskan hubungan dengan Trump tetap berada dalam kerangka saling menghormati. ”Kejahatan terorganisasi tidak ditangani dengan intervensi militer asing,” ujarnya.
Ahli keamanan, David Saucedo, menyebut, ancaman militer dan ekonomi digunakan Trump untuk memperoleh keuntungan komersial, diplomatik, dan politik.
Meksiko merupakan mitra dagang utama AS. Sekitar 40 juta warga Meksiko tinggal di AS. Carlos Perez Ricart dari Center for Economic Research and Teaching (CIDE) memperingatkan, aksi militer AS justru akan menghentikan kerja sama tersebut. ”Intervensi atau aksi militer di Meksiko akan menangguhkan kerja sama itu,” katanya.
Iran kembali berada di bawah tekanan Trump. Seperti Venezuela, Iran adalah produsen minyak global. Pada Juni 2025, AS melancarkan serangan militer ke Iran dengan target fasilitas yang diklaim terkait program nuklir.
Kini, Trump menggunakan dalih penindakan aparat Iran pada unjuk rasa di Teheran. Trump memperingatkan, Teheran akan dihantam sangat keras jika lebih banyak demonstran terbunuh.
Dalam perjalanan menggunakan pesawat kepresidenan Air Force One, Senator Partai Republik Lindsey Graham mengunggah foto Trump yang memegang topi hitam bertuliskan ”Make Iran Great Again”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/06/a8f206148b6b5f53a156a88b0c7f0c1c-Iran_Protests.jpeg)
Sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengecam keras serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela. Ia mengatakan, ketika suatu bangsa menyadari adanya upaya pemaksaan secara arogan oleh musuh, perlawanan harus dilakukan tanpa menyerah. ”Kami tidak akan tunduk kepada musuh,” katanya.
Para ahli memperingatkan agar Trump tidak bertindak gegabah. Aydintasbas menilai, Trump tengah menikmati posisi kekuasaan yang sangat dominan. ”Saat ini dia tampak menikmati momen kepresidenan imperium,” katanya.
Sebelumnya, Trump menjauhi intervensi militer. Bahkan, ia sempat mengampanyekan diri untuk meraih Nobel Perdamaian. Kini, ia semakin menunjukkan sikap Washington bisa bertindak semaunya di halaman belakang AS. (AFP/Reuters/AP)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto