Target Tersedia 2028, Vaksin Tuberkulosis M72 Jadi Vaksin Pertama untuk Remaja dan Dewasa

Vaksin tuberkulosis M72/AS01E merupakan salah satu kandidat vaksin yang dikembangkan di dunia dengan Indonesia sebagai salah satu negara uji yang dipilih.

26 Mar 2025 18:02 WIB · Humaniora

Oleh Deonisia Arlinta

JAKARTA, KOMPAS — Vaksin tuberkulosis M72 menjadi salah satu kandidat yang dikembangkan di dunia dengan Indonesia yang terpilih sebagai negara uji. Vaksin ini ditargetkan bisa tersedia pada 2028. Adanya vaksin ini akan menjadi vaksin pertama yang bisa digunakan untuk mencegah tuberkulosis paru pada usia remaja dan dewasa.

Peneliti nasional Vaksin TBC yang juga Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Erlina Burhan ketika dihubungi di Jakarta, Rabu (26/3/2025), mengatakan, vaksin BCG (Bacillus Calmette Guerin) yang telah tersedia selama ini untuk mencegah tuberkulosis belum efektif menanggulangi tuberkulosis di masyarakat. Vaksin tersebut diberikan pada usia anak sehingga efektivitasnya akan berkurang saat usia remaja dan dewasa.

”Oleh sebab itu, butuh sekali vaksin yang baru untuk melindungi populasi remaja dan juga yang dewasa dari infeksi ataupun dari penyakit tuberkulosis. Inovasi berupa vaksin itu sangat diharapkan,” katanya.

Quote

Butuh sekali vaksin yang baru untuk melindungi populasi remaja dan juga yang dewasa dari infeksi ataupun dari penyakit tuberkulosis.

Erlina menuturkan, per September 2024, setidaknya terdapat 15 kandidat vaksin tuberkulosis yang tengah dikembangkan di seluruh dunia. Dari seluruh kandidat vaksin tersebut, sebanyak enam kandidat sudah masuk dalam uji klinis fase ketiga. Salah satunya, vaksin TBC M72/AS01E. Dalam pengembangan vaksin ini, Indonesia terpilih sebagai lokasi pengujian.

Situasi kasus tuberkulosis di Indonesia

Penelitian vaksin TBC M72/AS01E dilakukan di lima negara dengan target 20.000 partisipan. Di Indonesia, sebanyak 2.000 partisipan yang terlibat. ”Mengapa (di Indonesia) sedikit? Karena memang kita persiapannya cukup lama dan baru mulai ikut (pengujian) di bulan September tahun lalu. Jadi memang tidak cukup banyak waktu,” katanya.

Erlina menuturkan, vaksin TBC M72/AS01E saat ini masuk dalam fase uji klinis ketiga yang sudah dimulai sejak Maret 2024. Dari hasil uji klinis fase 2B sebelumnya, vaksin ini telah menunjukkan tingkat perlindungan hingga 50 persen selama tiga tahun pada orang usia dewasa dari infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tersebut merupakan penyebab infeksi tuberkulosis.

”Kita harap di fase tiga ini, vaksin ini akan lebih tinggi lagi efikasinya. Dari perkiraan pun dikatakan vaksin ini dapat mencegah 75 juta kasus TBC yang baru dan juga dapat menyelamatkan 8,5 juta nyawa. Jadi, kematian bisa dicegah,” tuturnya.

Ketersediaan

Erlina menyampaikan, vaksin TBC M72/AS01E yang sedang dikembangkan saat ini diperkirakan baru akan tersedia pada akhir tahun 2028. Meski masih tiga tahun ke depan, persiapan harus dilakukan mulai sekarang agar ketika vaksin tersedia bisa dimanfaatkan secara optimal di masyarakat. Selain itu, program dan strategi lain perlu tetap dijalankan sambil menunggu vaksin tersedia.

Menurut dia, ketersediaan vaksin harus didukung dengan penerimaan yang baik di masyarakat. Belajar dari pelaksanaan vaksinasi Covid-19, penerimaan masyarakat serta hoaks terkait vaksin bisa menjadi kendala dalam pemberian vaksin. Untuk itu, edukasi dan sosialisasi perlu dilakukan sejak dini untuk meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap vaksin, khususnya vaksin TBC.

Hasil rontgen paru warga dalam kegiatan penapisan tuberkulosis (TB) di di GOR Otista, Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta. Timur, Kamis (9/2/2023). Kegiatan penapisan melalui rontgen, tes mantoux, dan pemeriksaan dahak ini sebagai upaya penanganan kasus tuberkulosis sejak dini di masyarakat.

Keberhasilan vaksin tidak hanya diukur dari tingkat efektivitas dari hasil pengujian. Terdapat empat aspek lain yang harus diperhatikan, yakni ketersediaan yang berarti harus tersedia dalam jumlah yang cukup dan berkelanjutan, aksesibilitas agar bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, keterjangkauan termasuk biaya yang terjangkau, serta penerimaan masyarakat dengan mengetahui manfaat dari vaksin tersebut.

Vaksin TBC merupakan harapan baru dalam upaya pengendalian tuberkulosis di masyarakat. Lewat vaksin ini diharapkan pula bisa mendukung capaian penurunan insiden tuberkulosis pada 2030 dan eliminasi tuberkulosis pada 2050. Vaksin ini pun akan menjadi vaksin pertama yang bisa digunakan untuk mencegah tuberkulosis pada remaja dan dewasa.

Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lucia Rizka Andalucia menuturkan, pemerintah telah berkomitmen untuk menanggulangi tuberkulosis di masyarakat. Tuberkulosis menjadi salah satu program hasil terbaik cepat atau quick win pemerintahan Prabowo-Gibran.

Tuberkulosis menjadi fokus pemerintah sebab kasus tuberkulosis di Indonesia merupakan yang terbanyak kedua di dunia. Selain mendukung pengembangan vaksin TBC, penguatan juga dilakukan pada aspek lain, mulai dari edukasi, pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan.

Upaya percepatan penapisan dan deteksi dini tuberkulosis dijalankan dengan memperluas penyediaan reagen yang diperlukan untuk pemeriksaan tuberkulosis. Penyediaan obat-obatan diupayakan pula dengan memberikan obat inovatif yang lebih efektif bagi pasien.

Terkait dengan pengembangan vaksin TBC, Rizka menuturkan, dukungan dan kolaborasi dengan berbagai pihak diperlukan untuk memastikan vaksin bisa digunakan secara optimal saat sudah tersedia. ”Kolaborasi dan koordinasi berbagai pihak diperlukan dalam melakukan percepatan penyelesaian uji klinik vaksin tuberkulosis ini, termasuk juga nanti ketika mulai rollout (diluncurkan) vaksinasi di masyarakat,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Deonisia Arlinta
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase