Luis Diaz kian membuktikan peran sentralnya dalam permainan Kolombia. Tidak sekadar pemain sayap, Diaz pun apik menjalani tugas ”playmaker”.
18 Jun 2026 16:24 WIB · Olahraga
AFP/Alfredo ESTRELLA
MEXICO CITY, KAMIS — Lesatan sinar pemain Amerika Selatan pada putaran pertama penyisihan grup Piala Dunia 2026 tidak hanya milik Lionel Messi bersama Argentina. Luis Diaz menyajikan salah satu performa individu terbaik ketika Kolombia menumbangkan debutan, Uzbekistan, 3-1, Kamis (18/6/2026) pagi WIB, di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko.
Tidak mencetak hattrick serupa Messi atau dwigol seperti Kylian Mbappe dan Erling Braut Haaland, Diaz menyumbang satu asis dan sebuah gol yang meredam ambisi Uzbekistan mengemas poin pertama di ajang turnamen sepak bola terakbar.
Diaz membantu Daniel Munoz membuka keunggulan ”La Tricolor” lima menit sebelum turun minum. Ia mencetak gol kedua Kolombia melalui sepakan terarah pada menit ke-65 pada laga penyisihan Grup K itu.
Gol itu memindahkan momentum laga dari Uzbekistan yang sempat menyamakan angka di papan skor melalui sundulan Abbosbek Fayzullaev saat laga memasuki durasi satu jam. Tiga poin Kolombia dikunci melalui sundulan pemain pengganti, Jaminton Campaz, pada menit ke-90+9.
Kontribusi Diaz pada laga itu membuktikan peran masifnya sebagai motor serangan utama Kolombia. Pemain sayap andalan Muenchen itu tidak sekadar berkontribusi pada dua gol La Tricolor. Lebih dari itu, statistik pergerakannya menunjukkan pengaruh luar biasa yang menghidupkan seluruh lini serang Kolombia sepanjang laga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/01fa796ffe5753b55a8785478d5ee9a1-Colombia_Uzbekistan_WCup_Soccer.jpg)
Diaz melepaskan lima tembakan dengan tiga di antaranya tepat sasaran ke gawang Uzbekistan. Akurasi tembakan yang mencapai 62 persen ini menunjukkan efisiensi sepakan tinggi.
Selain agresif mengancam gawang lawan, Diaz pun mencatatkan persentase keberhasilan dribel yang sangat mengagumkan, yakni 80 persen dari 10 upaya dribel. Kemampuannya menusuk dari sisi kiri lapangan membuat bek-bek Uzbekistan kewalahan. Hal itu terwujud dari kartu kuning yang diterima bek Uzbekistan dari klub Manchester City, Abdukodir Khusanov.
Di sisi lain, ia melakukan 52 sentuhan yang empat belas di antaranya terjadi di dalam kotak penalti lawan. Catatan ini menjadi bukti betapa aktifnya Diaz dalam mengacaukan konsentrasi pertahanan Uzbekistan.
Luis (Diaz) menunjukkan kelasnya sebagai pemain dunia yang mampu mengubah arah pertandingan dalam sekejap mata.
Visi bermain Diaz sangat impresif, tecermin pula dari pencapaian empat kali operan kunci yang membuahkan peluang emas bagi rekan-rekan setimnya. Menariknya, umpan kunci Diaz dominan tercipta bukan dari sisi sayap, tetapi zona half-space.
Dari zona itu, ia menghadirkan asis untuk Munoz. Posisi pergerakan Diaz itu menunjukkan bahwa dirinya tidak kaku menjemput bola ke sepertiga tengah lapangan. Umpannya kepada Munoz bak seorang playmaker ulung alias bukan sekadar pemain sayap biasa yang mengandalkan umpan silang.
Akurasi operan Kolombia secara tim berada di angka 85 persen, sementara Diaz mencatatkan akurasi operan sebesar 88 persen. Kombinasi taktis antara Diaz dan lini tengah Kolombia membuat aliran bola mengalir sangat mulus dari kaki ke kaki tanpa hambatan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/12b212605f8aa44bf8db3317c278f0fe-Screenshot_174_.png)
Efektivitas permainan Diaz juga didukung oleh ketangguhannya dalam memenangi duel satu lawan satu di area pertahanan ataupun lini serang. Dari dua belas duel yang ia lakukan, Diaz tercatat memenangi sembilan di antaranya.
Pelatih Kolombia Nestor Lorenzo memberikan pujian luar biasa terhadap dampak besar yang diberikan oleh Diaz di lapangan. ”Luis (Diaz) menunjukkan kelasnya sebagai pemain dunia yang mampu mengubah arah pertandingan dalam sekejap mata,” ujar Lorenzo.
Performa Diaz itu menjadi jaminan Kolombia untuk memenangi tiket ke babak 32 besar lebih dini saat jumpa Republik Demokratik Kongo pada laga kedua. Meraup tiga poin atas duta Afrika sudah cukup bagi ”La Tricolor” melangkah ke fase gugur sebelum jumpa Portugal pada gim penyisihan pamungkas.
Sebaliknya, penampilan Uzbekistan pada laga pertama jauh dari harapan. Kehadiran Fabio Cannavaro sebagai pelatih di pinggir lapangan gagal menjaga fokus skuadnya selama 90 menit.
Tiga gol yang bersarang ke gawang Utkir Yusupov tak terlepas dari blunder para pemain Uzbekistan. Pada gol pertama dan ketiga, para pemain bertahan ”Serigala Putih” gagal membaca pergerakan tanpa bola pemain Kolombia di kotak penalti sendiri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/359f5738001d9bcd7cafc2c0ab84a3be-wires_photo_2_.jpg)
Kemudian, gol yang dicetak Diaz diawali kegagalan gelandang Uzbekistan mempertahankan bola di zona tengah lapangan. Transisi cepat Kolombia berbuah gol hanya dalam waktu lima detik sejak mereka mengambil alih penguasaan bola.
Respons cepat Kolombia mencetak gol kedua setelah skor imbang diakui Cannavaro sebagai momen pengubah jalannya laga. Skuad Uzbekistan seakan mengalami demam panggung jalani laga perdana di Piala Dunia.
”Kami memberikan terlalu banyak ruang kepada pemain berbahaya, seperti Diaz. Secara keseluruhan, kami dihukum oleh kesalahan sendiri,” kata Cannavaro seperti dikutip NOS Sport.
Kegagalan meraih poin kontra Kolombia menyebabkan Cannavaro gagal menambah capaian istimewanya di Aztecs. Saat peluit sepak mula ditiup wasit asal Inggris, Anthony Taylor, juru taktik berpaspor Italia itu menyejajarkan dirinya dengan tiga legenda sepak bola dunia, yaitu Franz Beckenbauer, Oleg Blokhin, dan Marco van Basten.
Keempat legenda itu ialah peraih Ballon d’Or yang mampu tampil di Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih.
Cannavaro pun harus segera membenahi masalah kualitas serangan timnya. Dua tembakan mengarah ke gawang yang tercipta hanya dalam satu momen pada menit ke-60 adalah alarm menjelang mereka jumpa Portugal di laga kedua.
Skuad Serigala Putih pun hanya mampu lima kali melakukan sentuhan bola di kotak penalti Kolombia. Angka itu sangat kontras dengan 27 sentuhan serupa Kolombia. (AP/AFP)
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase