Tarif 19 persen Indonesia saat ini lebih rendah dibandingkan posisi Thailand dengan tarif 36 persen, Laos 40 persen, Malaysia 25 persen, dan Vietnam 20 persen.
16 Jul 2025 14:24 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Pengenaan tarif resiprokal sebesar 19 persen terhadap produk-produk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat dinilai menempatkan Indonesia dalam posisi yang relatif kompetitif di kawasan Asia Tenggara. Meski lebih ringan dari skenario awal, pelaku usaha mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap dinamika persaingan perdagangan global.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani mengatakan, tarif 19 persen yang disepakati jauh lebih baik dibandingkan proposal awal sebesar 32 persen. Tarif itu menempatkan Indonesia dalam posisi yang relatif kompetitif di kawasan Asia Tenggara.
Tarif 19 persen untuk Indonesia saat ini lebih rendah dibandingkan posisi Thailand dengan tarif 36 persen, Laos 40 persen, Malaysia 25 persen, dan Vietnam 20 persen dengan ketentuan tambahan untuk transshipment (proses pemindahan barang dari satu moda transportasi ke moda transportasi lain, atau dari satu kapal ke kapal lain, selama perjalanan menuju tujuan akhir).
Menurut Shinta, kesepakatan ini tidak hanya menjadi hasil diplomasi bilateral yang strategis, tetapi juga sejalan dengan arah kebijakan perdagangan Indonesia, khususnya dalam finalisasi perjanjian dagang IEU–CEPA dengan Uni Eropa, yang membuka peluang besar bagi peningkatan ekspor ke pasar Eropa.
”Apindo mengapresiasi kerja keras dan upaya diplomasi ekonomi Pemerintah Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga daya saing ekspornya, terutama pada produk ekspor kita, seperti tekstil, alas kaki, furnitur, hingga perikanan yang memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap pasar Amerika Serikat,” ujar Shinta saat dikonfirmasi lebih lanjut, Rabu (16/7/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/13/a31acc1173ff787e6c860d3bd6010efb-IMG_20250513_213735.jpg)
Meski demikian, lanjut Shinta, pihaknya tetap mengingatkan agar Indonesia terus mencermati dinamika persaingan regional. ”Sejumlah negara pesaing kita masih dalam proses negosiasi dengan AS. Karena itu, kita perlu terus mencermati secara saksama posisi akhir kompetitor kita, yang bisa saja mengubah konstelasi persaingan kawasan dalam waktu dekat,” katanya.
Sebagai bagian dari kesepakatan dengan AS, Indonesia juga berkomitmen untuk meningkatkan impor sejumlah komoditas strategis dari Amerika Serikat, seperti kapas, jagung, produk susu, kedelai, dan minyak mentah. Sejumlah komoditas ini memang merupakan produk dan komoditas yang dibutuhkan bagi industri dalam negeri.
Kami melihat untuk penghapusan tarif impor oleh Indonesia terhadap produk AS, secara umum sebagian besar produk tersebut saat ini memang sudah memiliki tarif rendah. Kita akan melihat dampaknya secara product by product.
Apindo melihat langkah ini sebagai bagian dari skenario saling menguntungkan yang pernah mereka rekomendasikan sebelumnya, terutama untuk menjawab kekhawatiran AS terhadap defisit neraca perdagangannya dengan Indonesia
”Di sisi lain, kami melihat untuk penghapusan tarif impor oleh Indonesia terhadap produk AS, secara umum sebagian besar produk tersebut saat ini memang sudah memiliki tarif rendah (nol hingga lima persen). Dalam hal ini kita akan melihat dan mendalami lagi dampaknya secara product by product dari hasil negosiasi yang ada,” ujar Shinta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/09/17c01e5635c920dc910b505863ecbb2a-20250709TOK12.jpg)
Dalam waktu dekat, Apindo akan melakukan konsolidasi dengan pelaku usaha ekspor di sektor-sektor terdampak untuk meninjau lebih lanjut dampak kebijakan tersebut. Apindo juga tengah menyiapkan berbagai usulan mitigasi kepada pemerintah untuk memastikan transisi dan adaptasi industri berjalan efektif, termasuk mendorong peningkatan ekspor ke pasar nontradisional, serta percepatan agenda deregulasi nasional.
Shinta mengingatkan, keberhasilan diplomasi dagang harus diiringi dengan pembenahan menyeluruh di dalam negeri. Reformasi struktural, khususnya bagi industri padat karya, menjadi sangat krusial untuk memastikan ketahanan usaha dan menciptakan lapangan kerja di tengah tekanan global yang terus berlangsung.
”Daya saing ekspor Indonesia tidak hanya bergantung pada tarif, tetapi juga pada kepastian dan kemudahan berusaha, efisiensi logistik dan energi, serta kualitas regulasi dan infrastruktur yang menopang sektor industri,” ujarnya.
Dinamika kebijakan perdagangan AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, kata Shinta, menuntut kewaspadaan tinggi. Oleh karena itu, pihaknya akan terus berkomunikasi dengan pemerintah yang saat ini masih merampungkan detail teknis dari kesepakatan tersebut.
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi, Rabu (16/7/2025), menjelaskan, hasil kesepakatan perdagangan dengan AS akan diumumkan secara langsung oleh Presiden Prabowo Subianto setiba di Indonesia pada Rabu petang. ”Presiden yang akan mengumumkan detailnya nanti setibanya di Tanah Air. Sore ini Presiden akan tiba di Tanah Air,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/14/50bccd23d459a34af9c1efbcc1ed5248-044f8101_4b6f_4a9b_8524_c3f0420e5c21_jpg.jpg)
Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono menilai, industri sawit nasional memiliki prospek cerah di pasar AS. Tarif 19 persen kepada Indonesia dinilai sudah sangat bagus terhadap surplus perdagangan ke AS.
”Khusus untuk sawit, pangsa pasar kita 89 persen, jadi sangat tinggi. (Tarif 19 persen), menurut saya sudah bagus,” ujarnya dihubungi secara terpisah.
Berdasarkan data GAPKI, ekspor minyak sawit Indonesia ke AS pada 2023 tercatat sebesar 2,5 juta ton. Namun, terjadi sedikit penurunan pada 2024 menjadi 2,2 juta ton. Kendati demikian, Eddy optimistis volume ekspor akan kembali tumbuh.
”Kalau digarap dengan serius, dalam dua sampai tiga tahun ke depan ekspor kita ke AS bisa menembus 3 juta ton,” ujarnya.
Terkait peluang pengembangan energi terbarukan dari kelapa sawit, Eddy menyebut potensi tersebut sangat besar, terutama dari sisi hilirisasi dan pengembangan teknologi. Namun, untuk ekspor biodiesel, menurut Eddy, kontribusinya masih terbatas karena AS memiliki bahan baku utama sendiri berupa minyak kedelai.
Penulis:
Aguido AdriEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Nur Adji