Tarif Impor AS, Momentum Hidupkan Industri Hilir Dalam Negeri

Hampir semua komoditas unggulan masih diekspor dalam bentuk bahan mentah yang tidak bisa bertahan lama. Industri hilir dalam negeri harus diperkuat.

05 Apr 2025 13:53 WIB · Nusantara

Oleh Irma Tambunan

JAMBI, KOMPAS — Penerapan tarif bea masuk baru 32 persen ke Amerika Serikat pada Indonesia selayaknya menjadi momentum tepat menghidupkan industri hilir dalam negeri. Pengembangan industri hilir bisa kurangi ketergantungan Indonesia mengekspor bahan-bahan mentah.

Pengamat ekonomi Universitas Batanghari, Pantun Bukit, mengatakan, selama ini komoditas unggulan pertanian dan perkebunan dalam negeri unggul di dunia. Namun, hampir semuanya masih diekspor dalam bentuk bahan mentah yang tidak bisa bertahan lama. Misalnya saja, sawit dikirim dalam bentuk minyak sawit mentah (CPO). Begitu pun karet diekspor dalam bentuk karet remah (crumb rubber).

”Ketika ada kenaikan tarif impor dari negara lain, posisi Indonesia menjadi sulit karena tidak bisa menahan diri tidak ekspor. Masih terlalu bergantung pada ekspor produk mentah yang tidak awet,” ujar Pantun, Sabtu (5/4/2025).

Dalam industri olahan sawit, kata Pantun, ada 130 produk turunan yang semestinya bisa dihasilkan, seperti margarin, sampo, sabun, dan beragam jenis kosmetik. Namun, hingga kini, Indonesia baru mampu menghasilkan kurang dari 20 persen berupa produk turunan minyak sawit. Hal serupa berlaku pada produksi karet. ”Lebih dari 80 persen produksi dalam negeri masih berupa bahan baku mentah,” tambahnya.

Padahal, Indonesia merupakan produsen terbesar di dunia untuk komoditas sawit dan produsen terbesar kedua di dunia untuk komoditas karet. Produksi karet Indonesia hanya sedikit di bawah Thailand.

”Namun, produksi yang besar ini hanya mampu diolah menjadi bahan mentah sehingga tidak bisa lama-lama untuk menahan pengiriman (ekspor),” ujarnya.

Harga rata-rata buah sawit (TBS) tengah mencapai harga tertinggi, yakni Rp 3.600 per kilogram yang disambut antusias kalangan petani. Namun, harga tinggi ini dikhawatirkan bakal segera terkoreksi seiring munculnya penerapan tarif impor AS 32 persen. Petani karet di Desa Jambi Tulo, Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, 21 Februari 2025. *** Local Caption *** Harga rata-rata buah sawit (TBS) tengah mencapai harga tertinggi, yakni Rp 3.600 per kilogram yang disambut antusias kalangan petani. Namun, harga tinggi ini dikhawatirkan bakal segera terkoreksi seiring munculnya penerapan tarif impor AS 32 persen. Petani karet di Desa Jambi Tulo, Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, 21 Februari 2025.
Quote

Lebih dari 80 persen produksi dalam negeri masih berupa bahan baku mentah.

Karena itu, lanjutnya, pelaku usaha di sektor perkebunan sawit dan karet harus cepat bertransformasi mengembangkan produk dan pasar. Di sisi lain, pemerintah perlu mendukung terbangunnya industri hilir karet dan sawit di dalam negeri. Di antaranya dengan memberikan kemudahan perizinan, keringanan pajak, serta membangun infrastruktur dan sarana pendukung di kawasan industri.

”Bangun kawasan industri yang terpadu, lengkap infrastrukturnya, serta masuk listrik, air, jaringan komunikasi,” katanya. Dengan demikian, industri hilir bisa tumbuh dengan cepat.

Sebagaimana diketahui, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan daftar tarif dasar dan bea masuk baru kepada banyak mitra dagang pada Rabu lalu waktu setempat. Indonesia terkena tarif timbal balik sebesar 32 persen.

Berbagai jenis mesin dan perlengkapan pengolahan karet menganggur di pabrik kompon vulkanisir ban di Desa Pelawan, Kecamatan Singkut, Kabupaten Sarolangun, Rabu (12/7/2017). Sejak diresmikan 2015 lalu, usaha pengolahan itu tak berjalan karena petani pengelola terbentur permodalan.

Selama ini, AS merupakan penyumbang surplus perdagangan nonmigas nasional tahun 2024. Angka surplus perdagangan Indonesia-AS sebesar 16,08 miliar dollar AS dari total surplus perdagangan nonmigas 2024, yaitu 31,04 miliar dollar AS. Ekspor nonmigas Indonesia ke AS antara lain garmen, peralatan listrik, alas kaki, dan minyak nabati.

Petani karet di Desa Kubu Kandang, Kabupaten Batanghari, Sumiatun, mengatakan, petani berharap persoalan dalam perdagangan internasional jangan sampai berdampak pada ekonomi petani kecil. Saat ini, harga karet yang tinggi disambut antusias para petani yang sedang merayakan Hari Raya Idul Fitri. ”Kami berharap harga getah karet tetap stabil,” katanya.  


Kerabat Kerja

Penulis:

Irma Tambunan
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari