Kebijakan ini diterapkan lantaran sejumlah halte bus dirusak massa. Dampaknya, sistem pembayaran tidak optimal. Hingga Sabtu siang, banyak penumpang telantar.
30 Agt 2025 15:45 WIB · Metropolitan
JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menggratiskan moda transportasi yang ada dalam kewenangannya hingga satu minggu ke depan. Keputusan ini dibuat karena rusaknya sejumlah infrastruktur transportasi setelah unjuk rasa di Jakarta.
Hal ini dikatakan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, seusai mengunjungi rumah Affan Kurniawan, Sabtu (30/8/2025). Affan adalah pengemudi ojek daring atau online yang tewas ditabrak kendaraan taktis polisi.
Dia mengatakan, setelah berkeliling Jakarta dan melihat kerusakan yang ditimbulkan seusai kerusuhan, beberapa keputusan diambil. Pertama, seluruh moda transportasi yang menjadi kewenangan Pemerintah DKI Jakarta sudah dibuka dan armada tetap beroperasi.
Selain itu, Pramono menginstruksikan jajarannya untuk segera memperbaiki halte dan fasilitas umum yang terbakar. ”Saya minta untuk segera diperbaiki. Di beberapa tempat sudah dilakukan perbaikan, termasuk yang di tahap awal di Halte Transjakarta Slipi 1,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/30/a55d8ea858c3a0fc56a8c174b0d7a676-FAK_5600.jpg)
Adapun halte transjakarta lainnya yang rusak dibakar demonstran akan diaktifkan secara bertahap. Bahkan, untuk satu minggu ke depan, tarif akan digratiskan.
”Karena sistem pembayaran di beberapa halte tidak berfungsi optimal, mulai hari ini sampai satu minggu ke depan, seluruh transportasi yang menjadi kewenangan pemda akan digratiskan alias nol rupiah,” katanya.
Kepala Departemen Humas dan CSR Transjakarta Ayu Wardhani mengatakan, hingga Sabtu (30/8/2025) siang, setidaknya ada 6 halte terbakar dan 16 halte yang mengalami vandalisme.
Keenam halte yang terbakar ialah Halte Polda Metro Jaya, Halte Senen Toyota Rangga, Halte Sentral Senen, Halte Senayan Bank DKI, Halte Gerbang Pemuda, dan Halte Bundaran Senayan. Adapun 16 halte yang mengalami vandalisme adalah Halte Bendungan Hilir, Halte Kwitang, Halte Kampung Melayu, Halte Kramat Sentiong, Halte Bidara Cina, Halte Cililitan, dan Halte Semanggi.
Selain itu, ada Halte Petamburan, Halte Widya Chandra Telkomsel, Halte Jatinegara, Halte Kejaksaan Agung, Halte Matraman Baru. Vandalisme juga tampak di Halte Pemuda Pramuka, Halte Masjid Agung, Halte Non BRT Gelora Bung Karno 1, dan Halte Non BRT Polda Metro Jaya 1.
Mempertimbangkan berbagai kondisi dan situasi yang belum kondusif, ucap Ayu, hingga saat ini sejumlah rute belum dapat melayani pelanggan. ”Armada akan beroperasi situasional mengikuti keadaan di lapangan,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/30/a0b54e74d0e9657fa61ed74b5e6e81db-20250830NIT_Halte_Dibakar_.jpg)
Ayu mengatakan, jajaran direksi dan manajemen Transjakarta akan terus memantau kondisi di command center, kantor pusat Transjakarta, mengingat kondisi di lapangan sangat dinamis. ”Hal ini konsisten dilakukan sebagai upaya pengambilan keputusan tercepat, terkait kebijakan layanan dan operasional Transjakarta,” ujarnya.
Beberapa halte yang tidak beroperasi adalah halte di depan Apartemen Kalibata, Jakarta Selatan. Rudi (33), warga Tangerang, sudah menunggu hingga satu jam, tetapi bus transjakarta tak kunjung tiba. ”Sejak pagi, tidak ada transjakarta yang lewat,” katanya.
Akhirnya, dia menumpangi angkutan umum yang kebetulan menawarkan tumpangan dengan sejumlah bayaran tertentu. ”Kalau biasanya naik transjakarta hanya Rp 3.500, sekarang saya harus mengeluarkan uang hingga Rp 20.000 menggunakan angkutan umum,” katanya.
Sopir angkutan umum yang melihat peluang adanya penumpang yang telantar pun menggunakan rute bus transjakarta untuk mendapatkan keuntungan.
Budi (35), sopir M16 jurusan Kampung Melayu-Pasar Minggu, mengambil rute Transjakarta untuk mengangkut lebih banyak penumpang, yakni rute Kalibata-Mampang. ”Mumpung ada penumpang, ya, saya ambil saja. Kebetulan mereka banyak yang telantar,” katanya.
Dia menuturkan, sejak pagi tidak ada bus transjakarta yang melintas sehingga dia bisa memanfaatkan rute tersebut. ”Ini akibat kerusuhan yang terjadi sehingga banyak halte yang tidak berfungsi,” katanya.
Penulis:
Rhama Purna JatiEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra