Tarif Trump, antara Perundungan, Populisme, dan Negosiasi

Bagi negara-negara yang dipukul tarif oleh Trump, mereka menganggap sedang berhadapan dengan perundung sehingga bangkit membalas.

09 Feb 2025 11:51 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

Dunia masih megap-megap menanggapi pukulan dari tarif impor Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Aspek menarik dari penjatuhan tarif pada masa jabatan kedua Trump ialah negara-negara target bangkit melawan dengan menjatuhkan tarif balasan atas produk-produk impor dari AS. Perang tarif pun berujung pada perundingan bilateral, sesuai dengan sikap Trump yang tidak memercayai multilateralisme.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau pada Senin (3/2/2025) mengumumkan sedang berunding dengan Pemerintah AS. Salah satu persyaratan yang diminta oleh Trump, selain mengurangi defisit neraca perdagangan di pihak AS, ialah Kanada memperketat pengawasan di wilayah perbatasan dengan AS sehingga tidak memungkinkan imigran gelap menyelundup masuk AS.

”Kanada mengucurkan dana 1,3 miliar dollar untuk menambah pengawasan di perbatasan, termasuk aspek sumber daya manusia, teknologi, dan kendaraan operasional. Kanada juga menunjuk pejabat khusus untuk penanggulangan isu narkoba fentanil. Kanada dan AS akan mengadakan razia gabungan untuk membasmi kartel narkoba,” cuit Trudeau di akun X.

Trump pada hari yang sama mengumumkan pemberian tarif impor 25 persen untuk dua negara tetangganya, yakni Kanada dan Meksiko. Padahal, ketiga negara itu terikat perjanjian perdagangan bebas Amerika Utara. Bukannya minder, Kanada dan Meksiko malah membalas dan memukul balik AS.

Dilansir Politico edisi 2 Februari 2025, Kanada sudah merumuskan balasan untuk memukul AS di tempat yang dipastikan sakit. Kanada secara spesifik menargetkan perekonomian di negara-negara bagian AS yang mendukung kemenangan Trump pada pemilihan presiden November 2024. Contohnya, Kanada membebankan tarif impor 25 persen untuk produk wiski dan bourbon dari Negara Bagian Kentucky. Demikian pula pada Negara Bagian Florida, Kanada memukul ekspor buah jeruk mereka dengan tarif.

Canadian Prime Minister Justin Trudeau speaks during a news conference at Rideau Cottage in Ottawa, Canada on January 6, 2025. Trudeau announced his resignation, saying he will leave office as soon as the ruling Liberal party chooses a new leader. (Photo by Dave Chan / AFP)

Ketika itu, Kanada menyasar kenaikan tarif untuk barang-barang impor dari AS bernilai total 155 miliar dollar Kanada. Paket kenaikan tarif pertama atas komoditas senilai 30 miliar dollar Kanada. Pada fase kedua, sisa komoditas senilai 125 miliar dollar Kanada akan dipukul tarif. Trudeau bahkan mengimbau warga Kanada memboikot produk-produk AS dan membeli produk dalam negeri.

”Selama ini, Kanada dan AS selalu bahu-membahu di dalam susah dan senang, mulai dari pendaratan di Pantai Normandia kala Perang Dunia II sampai dengan tragedi 11 September 2001. Kami tidak terima diperlakukan sewenang-wenang,” kata Trudeau.

Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum juga bergeming. Walaupun tidak sefrontal Trudeau, ia mengatakan Meksiko sudah menyusun balasan kenaikan tarif ataupun nontarif. Sheinbaum dan Trump pun akhirnya berunding. Salah satunya dengan menambah pengawalan di perbatasan AS-Meksiko. Meksiko mengirim 1.500 tentara ke perbatasan guna mencegah penyelundupan imigran gelap dan fentanil. Lalu, akan ada 10.000 personel pasukan Meksiko berjaga di perbatasan.

Dari sini terlihat jelas tujuan Trump menggunakan tarif sebagai senjata meskipun di beberapa aspek malah berbalik makan tuan. Trump menginginkan penghentian masuknya imigran gelap dan narkoba fentanil ke AS. Trump menyalahkan negara-negara tetangga akan fenomena kecanduan fentanil ataupun angka kejahatan di AS.

Pesaing nomor satu AS, China, pun dikenai tambahan tarif 10 persen. Artinya, tarif untuk barang-barang impor dari China kini mencapai 60 persen. Berbeda dengan Kanada dan Meksiko yang memilih penyelesaian bilateral, China memilih jalur multilateral. Beijing menggugat AS di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

”Terkait fentanil, China dan AS berkali-kali mengadakan razia penyelundupan yang sukses. Kalau soal kecanduan masyarakat, itu urusan dalam negeri AS,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning.

 

Menghadapi perundung

Sikap tidak terima diperlakukan sewenang-wenang diutarakan oleh Mark Carney, tokoh yang digadang-gadang sebagai pengganti Trudeau untuk menduduki kursi perdana menteri Kanada. Carney berpengalaman sebagai gubernur bank sentral Kanada dan telah berkali-kali berhadapan dengan Trump di forum-forum G7 dan G20.

”Trump berpikir hanya dengan pamer kekuatan negara bisa berjalan. Bagi Kanada, kami bisa membalas tarifnya untuk setiap peser dollar. Kami tidak akan tunduk kepada perundung. Menghadapi Trump ini, kita tidak bisa malu-malu,” tuturnya kepada BBC, 1 Februari 2025.

Komitmen untuk teguh melawan perundung itu yang terus dinanti oleh dunia. Sebab, di dalam negeri AS, Partai Republik sudah dikuasai Trump. Minoritas anggota Partai Republik yang kritis terhadap pengusaha properti ini sudah disingkirkan. Charlie Sykes, komentator konservatif yang kini pengkritik Trump, mengatakan, Partai Republik menyerah sepenuhnya kepada Trump.

A worker selects pineapples for distribution at the Central de Abastos market in Guadalajara, Jalisco state, Mexico on January 31, 2025. Mexican President Claudia Sheinbaum said Wednesday she was confident that her country could avoid being hit with 25-percent tariffs by her US counterpart Donald Trump on February 1. (Photo by ULISES RUIZ / AFP)

Kevin Cramer, Senator Republikan dari North Dakota, mengungkapkan, mayoritas politikus Partai Republik tidak setuju dengan kenaikan tarif. Partai itu berhaluan kapitalis sehingga menjaga mitra dagang adalah keniscayaan. Akan tetapi, ia memahami bahwa untuk tetap mendominasi politik AS, partai harus mengikuti kemauan yang populis.

Terlepas dari permainan kebijakan para elite politik, rakyat kecil yang harus menanggung akibatnya. Kenaikan tarif impor berarti kenaikan harga barang. Masyarakat AS sudah kesusahan dengan wabah flu burung yang mengakibatkan harga telur naik sampai enam kali lipat. Apabila barang-barang impor naik, kehidupan akan semakin susah.

”Mau tidak mau, saya harus menaikkan harga. Pilihannya cuma itu atau mengurangi pendapatan,” kata Kelli Winchester, pemilik butik di Decorah, Negara Bagian Iowa, kepada USA Today.

Ia mengimpor 80 persen bahan pakaian dan aksesori dari China serta 15 persen dari Kanada. Jika tarif naik, tidak hanya laba butik yang menipis, jumlah modal untuk membeli bahan baku baru juga berkurang. Pastinya, kata Winchester, ia tidak akan bisa menggaji pegawai karena tidak ada biaya untuk itu. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji