Uni Eropa menyusul langkah China dan Kanada yang menyatakan akan membalas tarif yang diberlakukan Trump. China kenakan tarif 84 persen atas produk asal AS.
09 Apr 2025 18:18 WIB · Internasional
WASHINGTON, RABU — Tarif timbal balik yang dijatuhkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap sejumlah negara berlaku efektif pada Rabu (9/4/2025). Negara-negara sasaran terus berupaya meredam dampak tarif tinggi pada perekonomian.
Negara-negara Uni Eropa (UE) tengah mempersiapkan persetujuan untuk balasan pertama blok itu terhadap tarif Trump. UE menyusul langkah China dan Kanada yang menyatakan akan membalas tarif yang diberlakukan Trump.
Blok 27 negara itu menghadapi tarif 25 persen atas baja, aluminium, dan mobil. Selain itu, ada tarif 20 persen untuk hampir semua barang impor dari UE.
Pada Senin, Komisi Eropa mengusulkan tarif ekstra sebesar rata-rata 25 persen atas barang-barang yang diimpor dari AS. Berdasarkan dokumen yang dilihat Reuters, barang-barang itu mencakup sepeda motor, ternak, buah, kayu, pakaian, dan benang gigi. Nilainya total 21 miliar euro pada tahun lalu. Itu artinya, pembalasan UE menyasar produk-produk yang bernilai di bawah nilai ekspor logam UE sebesar 26 miliar euro yang dikenai tarif impor AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/09/74d76f5947fab1a71aea2f8140e7039f-BRITAIN_US_EU_TRADE_TARIFF_128745612.jpg)
Rencananya tarif balasan dari UE akan berlaku bertahap, mulai 15 April, dilanjutkan 16 Mei, hingga 1 Desember.
Komite perdagangan UE akan menggelar pemungutan suara pada Rabu sore waktu setempat atau Kamis dini hari WIB untuk usulan Komisi Eropa. Disebutkan, usulan itu hanya akan gagal jika ditolak mayoritas 15 anggota UE yang mewakili 65 persen populasi. Hal itu tampaknya tidak mungkin mengingat Komisi Eropa telah menanyai para anggota UE dan membuat daftar produknya sejak pertengahan Maret dengan mengecualikan produk susu dan minuman beralkohol.
Sementara China berusaha membuat perekonomiannya ”anti-tarif” dengan menggenjot konsumsi dan berinvestasi pada industri-industri kunci. China dikenai tarif AS yang totalnya 104 persen. China telah menyatakan akan membalas sampai titik penghabisan.
Sikap itu dibuktikan China pada Rabu petang. China kini menyerang balik AS dengan tarif baru sebesar 84 persen, naik dari angka sebelumnya, yaitu 34 persen. Menurut Kementerian Keuangan China, tarif baru tersebut akan berlaku pada Kamis (10/4/2025) pukul 12.01 siang.
Dalam sebuah pernyataan pihak Kementerian Keuangan China mengatakan, tambahan tarif AS atas produk asal China hanya akan menumpuk kesalahan atas kesalahan sebelumnya. Tindakan itu dinilai Beijing telah melanggar hak dan kepentingan China.
Menurut Beijing, langkah Washington sangat merusak sistem perdagangan yang berbasis aturan multilateral.
”AS terus merisak dengan tarif untuk menekan China, China tegas menentang dan tidak akan menerima bentuk perundungan apa pun,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China dalam konferensi pers, Rabu.
Perdana Menteri China Li Qiang sebelumnya mengatakan, para pejabat yakin dengan ketangguhan perekonomian China. Tajuk rencana People’s Daily yang berafiliasi dengan Partai Komunis China pada akhir pekan lalu menggambarkan tarif Trump sebagai ”kesempatan strategis” bagi China untuk memperkuat konsumsi sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi. ”Kita harus mengubah tekanan menjadi motivasi,” demikian tajuk rencana itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/09/fe2b0514597a6d72145ef91aa5f3dfbf-CHINA_US_TARIFF_TRADE_128874429.jpg)
Meski demikian, para pengamat menilai tarif Trump tetap akan membebani perekonomian China. Tang Yao dari Guanghua School of Management Universitas Peking mengatakan, kendati pasar domestik China lebih kuat sekarang dibandingkan dengan periode pertama Trump (2017-2021), tetap ada kerugian yang tak terhindarkan. ”Produk-produk tertentu secara spesifik dirancang untuk pasar Amerika atau Eropa. Upaya untuk mengalihkan produk-produk itu ke pasar domestik hanya akan berdampak terbatas,” ujarnya.
Lizzi Lee, analis dari Center for China Analysis di Asia Society Policy Institute, mengatakan, Beijing telah berupaya menjadikan tekanan eksternal sebagai katalis untuk reformasi yang diinginkan. Ini bisa dilihat dari respons China terhadap tarif AS yang cepat dan terkoordinasi, sebagai pelajaran dari perang dagang di era pertama Trump.
Saya berharap semua pihak duduk, berdamai, dan berbicara, lalu mengurai persoalan satu demi satu, daripada memperburuknya.
Ia mencontohkan, selain menyiapkan tarif resiprokal terhadap barang-barang AS, Kementerian Perdagangan China pada saat sama mengumumkan kontrol ekspor atas tujuh elemen tanah jarang. ”Respons Beijing terhadap eskalasi lebih lanjut bukan lagi semata-mata balasan karena China memperbaiki langkah balasannya,” ujar Lee.
Walaupun saat ini Beijing lebih berpengalaman menghadapi Trump, menurut Frederic Neumann, kepala ekonom Asia di HSBC, tidak berarti perekonomian China bisa mengabaikan efek tarif tinggi AS. Otoritas akan berupaya mengimbangi turunnya permintaan barang-barang China dari AS. ”Dengan menciptakan permintaan dan peluang dagang bagi mitra-mitra China di Asia dan Eropa, China bisa menopang yang tersisa dari tata perdagangan global,” ujar Neumann.
Warga China mengungkapkan kekhawatiran atas perang dagang yang kian tajam. ”Saya berharap semua pihak duduk, berdamai, dan berbicara, lalu mengurai persoalan satu demi satu, daripada memperburuknya,” ujar Yu Yan, pengacara.
Adapun Kanada menyebutkan tarif terhadap impor produk otomotif tertentu dari AS akan mulai berlaku pada Rabu waktu setempat.
Di Washington DC, Trump mengatakan, pemerintahannya tengah mengupayakan ”kesepakatan yang disesuaikan” dengan negara-negara mitra dagang. Gedung Putih mengatakan akan memprioritaskan sekutu AS seperti Jepang dan Korea Selatan. Pemerintah AS telah menjadwalkan pembicaraan dengan delegasi dari kedua negara itu.
Pejabat tinggi perdagangan AS, Jamieson Greed, mengatakan kepada Senat bahwa Argentina, Vietnam, dan Israel termasuk negara yang menawarkan pengurangan tarif mereka. Pada Rabu, Wakil PM Vietnam dijadwalkan berbicara dengan Menteri Perdagangan AS Scott Bessent. PM Italia Georgia Meloni dijadwalkan berkunjung ke Washington pekan depan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/06/7f86d978818a0cc9ad47dc9d62a8b5c1-US_POLITICS_TARIFF_TRADE_DIPLOMACY_128703532.jpg)
Dalam jamuan makan malam dengan koleganya di Partai Republik, Selasa malam, Trump mengatakan negara-negara ”mati-matian” ingin membuat kesepakatan. ”Saya katakan, negara-negara itu menghubungi untuk menjilat saya,” ujarnya.
Terkait China yang tidak mau tunduk, sebuah buku putih pemerintah yang dirilis pada Rabu mengungkapkan, kedua negara masih bisa mengatasi perbedaan ”melalui dialog setara dan kerja sama saling menguntungkan”. Trump berharap China berbuat seperti negara-negara lainnya yang ingin bernegosasi.
Konsumen AS bersiap menghadapi penderitaan akibat tarif yang diberlakukan Trump pada produk-produk impor. Beberapa orang mulai berburu ponsel terbaru menjelang kenaikan harga, sementara orang-orang lain mengawasi lebih ketat pengeluaran mereka.
”Saya tinggal di apartemen. Saya tidak bisa menimbun (makanan),” ujar seorang perempuan yang meminta namanya dirahasiakan, saat memuat barang belanjaan di supermarket pinggiran Washington.
Menurut dia, harga-harga akan segera naik. ”Kita perlu lebih banyak uang untuk membeli makanan pekan depan dan pekan selanjutnya,” katanya.
Tarif AS akan membebani konsumen AS. Jutaan orang turun ke jalan dalam aksi ”hands-off” mengkritik kebijakan Trump. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Fransisca Romana Ninik WEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto