Apa yang bisa dipelajari dari artikel ini
- Apa yang memicu Amerika Serikat menerapkan kebijakan tarif terhadap China?
- Bagaimana China merespons kebijakan tarif AS?
- Apa dampak perang dagang AS-China?
- Apa saja langkah-langkah yang dapat diambil oleh negara-negara lain untuk mengurangi dampak perang dagang?
- Siapa yang diuntungkan dari kebijakan tarif Trump?
Apa yang memicu AS menerapkan kebijakan tarif terhadap China?
Penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, mengatakan, kebijakan tarif akan mendongkrak pendapatan Amerika Serikat hingga 600 miliar dollar AS per tahun. Jika target tersebut terwujud, pendapatan itu akan menjadi lonjakan penerimaan pajak terbesar negeri itu sejak Perang Dunia II.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim penerapan tarif akan menghentikan ”perampokan” terhadap ekonomi dan industri dalam negeri AS. Trump sangat ingin mengembalikan lagi Golden Age, era kejayaan, AS. Ia sejak lama membanggakan kebijakan menaikkan tarif sebagai jalan keluar untuk menyembuhkan ekonomi AS dari defisit perdagangan dengan sekutu ataupun seteru.
Berbagai negara terdampak kebijakan tarif Trump. Peneliti senior ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura, Siwage Dharma Negara, mengatakan sebenarnya China menjadi sasaran utama kebijakan tersebut. ”Pemerintah (AS) berpikir, dengan menyasar negara-negara ini mereka bisa menyasar investasi China di negara-negara seperti Kamboja, Laos, Myanmar, dan Indonesia. Dengan menyasar produk mereka, mungkin bisa berdampak pada ekspor China dan perekonomiannya,” kata Siwage ke The Guardian.
Meski menyasar China, dampak kebijakan AS malah memukul negara-negara Asia Tenggara. Sebab, investasi China atau negara lain di Asia Tenggara mendatangkan pendapatan ekspor dan membuka lapangan kerja. ”Sejumlah (produk) garmen dan alas kaki adalah jenama Amerika, seperti Nike, perusahaan AS yang punya pabrik di Indonesia. Apakah mereka (pabrik-pabrik AS di Indonesia) akan terkena tarif yang sama?” lanjutnya.
Bagaimana China merespons kebijakan tarif AS?
Dibandingkan Kanada dan Meksiko, China sudah lebih siap menghadapi perang dagang baru yang dilancarkan Trump. Alih-alih bernegosiasi, China sudah menyiapkan strategi untuk membalas. China bakal mengenakan tarif 15 persen atas aneka produk pertanian dan peternakan AS.
Mulai Senin (10/3/2025), tarif itu diberlakukan antara lain untuk kacang kedelai serta daging, mencakup babi, sapi, dan ayam. Pada 2024, China mengimpor total 24,7 miliar dollar AS untuk produk pertanian dan peternakan AS. Beijing juga memasukkan 10 perusahaan AS ke dalam daftar perusahaan yang tidak dapat dipercaya.
Seluruh perusahaan China atau yang beraktivitas di China dilarang bertransaksi ekspor dan impor dengan 10 perusahaan tersebut. Selain itu, ada pembatasan ekspor kepada 15 perusahaan AS. China menilai ke-15 perusahaan itu membahayakan kepentingan nasional China.
Para analis menilai, tanggapan China saat ini mirip dengan yang dilakukan China saat menghadapi perang dagang Trump yang pertama. Pada 2018, saat Trump melancarkan perang dagang dengan China, China juga membalas.
Apa dampak perang dagang AS-China?
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengkhawatirkan nasib negara-negara miskin akibat perang dagang. Sejumlah negara memilih membalas kebijakan tarif Trump sehingga memanaskan perang dagang.
Di Afrika, Lesotho tertampar tarif AS yang paling keras, yakni 50 persen. Selama ini, kerajaan kecil ini membangun industri tekstil, khususnya denim untuk celana jeans, melalui akses bebas tarif ke AS berdasarkan Undang-Undang Pertumbuhan dan Peluang Afrika (AGOA) tahun 2000.
Untuk pasar AS, Lesotho mengekspor produk senilai 240,1 juta dollar AS dan mengimpor produk asal AS senilai 2,8 juta dollar AS pada 2024. Akan tetapi, Lesotho bukan pemain besar dalam perdagangan global. Dampak tarif pada Lesotho bisa sangat besar karena satu per 10 produk domestik bruto berasal dari ekspor denim dan berlian.
Selain Lesotho, Madagaskar juga dipaksa menelan pil pahit dengan tarif sebesar 47 persen. Negara Afrika lainnya, seperti Aljazair, Angola, Botswana, Libya, dan Mauritius terkena tarif di atas 30 persen.
Di Asia Pasifik, Nauru sebagai negara terkecil ketiga di dunia terpukul tarif 30 persen. Adapun Myanmar yang sedang menghadapi perang saudara dan gempa bumi bermagnitudo 7,7 terkena tarif 45 persen. Kamboja pun terpukul 49 persen tarif.
Apa yang dapat dilakukan negara-negara untuk mengurangi dampak perang dagang?
Berbagai negara dan organisasi negara mencari cara mengatasi dampak kebijakan Trump. Uni Eropa (UE) menyikapi tarif Trump dengan beragam cara. Salah satunya dengan menemui perwakilan negara-negara Asia Tengah seperti Uzbekistan, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, dan Turkmenistan.
Ada juga paket investasi baru UE di Asia Tengah. Dana 3 miliar euro akan dikucurkan untuk proyek transportasi. Sementara untuk mineral penting akan dikucurkan 2,5 miliar euro. Selain itu, ada 6,4 miliar euro untuk proyek air, energi, dan iklim.
Asia tengah punya cadangan besar mineral penting. Hingga 38 persen mangan, 30 persen chromium, 20 persen timbal, 12 persen seng, dan 8,7 persen titanium ditaksir berada di Asia Tengah.
Bukan cuma UE, mitigasi dengan kerja sama kawasan juga dilakukan Indonesia. Komunikasi dengan Ketua ASEAN 2025, Malaysia, sudah dilakukan Indonesia untuk menyikapi keputusan Trump.
Seluruh ASEAN terkena tarif baru bea masuk impor (BMI) AS. Sebagian, seperti Singapura, cuma kena 10 persen. Sementara Malaysia kena 24 persen, Indonesia 32 persen, Thailand 36 persen, Vietnam 46 persen, dan Kamboja 49 persen.
Siapa saja yang diuntungkan dengan terjadinya perang dagang AS-China?
Perang dagang dengan AS membuat China mengalihkan sumber impor komoditas mereka, terutama ke Brasil dan Argentina. Kedua negara itu bersama dengan Australia, Uni Eropa, dan negara-negara Pasifik diperkirakan mengalami kenaikan ekspor produk pertanian berkat perang dagang AS-China.
Brasil adalah negara yang diperkirakan paling diuntungkan. Brasil pengekspor kedelai, daging sapi, daging ayam, dan kapas terbesar di dunia. Bahkan, pada perang dagang di masa jabatan pertama Trump (2017-2021), AS kehilangan pasar kedelai terbesar mereka gara-gara China beralih ke Brasil.
Sampai sekarang, AS belum bisa mengatasi kerugian tersebut. China sudah mulai mengalihkan permintaan kedelai dari AS ke Brasil.
”Brasil akan menjadi penerima manfaat utama, pemasok terbesar yang dapat menggantikan kedelai AS, ke China. Namun, negara lain juga dapat memperoleh manfaat, termasuk Argentina dan Paraguay. Untuk gandum, Australia dan Argentina akan memperoleh manfaat,” kata Carlos Mera, Kepala Riset Pasar Pertanian di Rabobank.
Sol Arcidiacono, kepala penjualan biji-bijian Amerika Latin di HedgePoint Global Markets, mengatakan, harga kedelai lokal di Amerika Selatan akan menguat sepanjang tahun. Kondisi ini terjadi berkat perang dagang yang meningkat.
Berdasarkan data kantor berita Reuters, neraca perdagangan negara-negara di Amerika Latin dengan AS stagnan selama satu dasawarsa terakhir. Sebaliknya, perdagangan dengan China terus naik.
Apa yang bisa dipelajari dari artikel ini
- Apa yang memicu Amerika Serikat menerapkan kebijakan tarif terhadap China?
- Bagaimana China merespons kebijakan tarif AS?
- Apa dampak perang dagang AS-China?
- Apa saja langkah-langkah yang dapat diambil oleh negara-negara lain untuk mengurangi dampak perang dagang?
- Siapa yang diuntungkan dari kebijakan tarif Trump?
Apa yang memicu AS menerapkan kebijakan tarif terhadap China?
Penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, mengatakan, kebijakan tarif akan mendongkrak pendapatan Amerika Serikat hingga 600 miliar dollar AS per tahun. Jika target tersebut terwujud, pendapatan itu akan menjadi lonjakan penerimaan pajak terbesar negeri itu sejak Perang Dunia II.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim penerapan tarif akan menghentikan ”perampokan” terhadap ekonomi dan industri dalam negeri AS. Trump sangat ingin mengembalikan lagi Golden Age, era kejayaan, AS. Ia sejak lama membanggakan kebijakan menaikkan tarif sebagai jalan keluar untuk menyembuhkan ekonomi AS dari defisit perdagangan dengan sekutu ataupun seteru.
Berbagai negara terdampak kebijakan tarif Trump. Peneliti senior ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura, Siwage Dharma Negara, mengatakan sebenarnya China menjadi sasaran utama kebijakan tersebut. ”Pemerintah (AS) berpikir, dengan menyasar negara-negara ini mereka bisa menyasar investasi China di negara-negara seperti Kamboja, Laos, Myanmar, dan Indonesia. Dengan menyasar produk mereka, mungkin bisa berdampak pada ekspor China dan perekonomiannya,” kata Siwage ke The Guardian.
Meski menyasar China, dampak kebijakan AS malah memukul negara-negara Asia Tenggara. Sebab, investasi China atau negara lain di Asia Tenggara mendatangkan pendapatan ekspor dan membuka lapangan kerja. ”Sejumlah (produk) garmen dan alas kaki adalah jenama Amerika, seperti Nike, perusahaan AS yang punya pabrik di Indonesia. Apakah mereka (pabrik-pabrik AS di Indonesia) akan terkena tarif yang sama?” lanjutnya.
Bagaimana China merespons kebijakan tarif AS?
Dibandingkan Kanada dan Meksiko, China sudah lebih siap menghadapi perang dagang baru yang dilancarkan Trump. Alih-alih bernegosiasi, China sudah menyiapkan strategi untuk membalas. China bakal mengenakan tarif 15 persen atas aneka produk pertanian dan peternakan AS.
Mulai Senin (10/3/2025), tarif itu diberlakukan antara lain untuk kacang kedelai serta daging, mencakup babi, sapi, dan ayam. Pada 2024, China mengimpor total 24,7 miliar dollar AS untuk produk pertanian dan peternakan AS. Beijing juga memasukkan 10 perusahaan AS ke dalam daftar perusahaan yang tidak dapat dipercaya.
Seluruh perusahaan China atau yang beraktivitas di China dilarang bertransaksi ekspor dan impor dengan 10 perusahaan tersebut. Selain itu, ada pembatasan ekspor kepada 15 perusahaan AS. China menilai ke-15 perusahaan itu membahayakan kepentingan nasional China.
Para analis menilai, tanggapan China saat ini mirip dengan yang dilakukan China saat menghadapi perang dagang Trump yang pertama. Pada 2018, saat Trump melancarkan perang dagang dengan China, China juga membalas.
Apa dampak perang dagang AS-China?
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengkhawatirkan nasib negara-negara miskin akibat perang dagang. Sejumlah negara memilih membalas kebijakan tarif Trump sehingga memanaskan perang dagang.
Di Afrika, Lesotho tertampar tarif AS yang paling keras, yakni 50 persen. Selama ini, kerajaan kecil ini membangun industri tekstil, khususnya denim untuk celana jeans, melalui akses bebas tarif ke AS berdasarkan Undang-Undang Pertumbuhan dan Peluang Afrika (AGOA) tahun 2000.
Untuk pasar AS, Lesotho mengekspor produk senilai 240,1 juta dollar AS dan mengimpor produk asal AS senilai 2,8 juta dollar AS pada 2024. Akan tetapi, Lesotho bukan pemain besar dalam perdagangan global. Dampak tarif pada Lesotho bisa sangat besar karena satu per 10 produk domestik bruto berasal dari ekspor denim dan berlian.
Selain Lesotho, Madagaskar juga dipaksa menelan pil pahit dengan tarif sebesar 47 persen. Negara Afrika lainnya, seperti Aljazair, Angola, Botswana, Libya, dan Mauritius terkena tarif di atas 30 persen.
Di Asia Pasifik, Nauru sebagai negara terkecil ketiga di dunia terpukul tarif 30 persen. Adapun Myanmar yang sedang menghadapi perang saudara dan gempa bumi bermagnitudo 7,7 terkena tarif 45 persen. Kamboja pun terpukul 49 persen tarif.
Apa yang dapat dilakukan negara-negara untuk mengurangi dampak perang dagang?
Berbagai negara dan organisasi negara mencari cara mengatasi dampak kebijakan Trump. Uni Eropa (UE) menyikapi tarif Trump dengan beragam cara. Salah satunya dengan menemui perwakilan negara-negara Asia Tengah seperti Uzbekistan, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan, dan Turkmenistan.
Ada juga paket investasi baru UE di Asia Tengah. Dana 3 miliar euro akan dikucurkan untuk proyek transportasi. Sementara untuk mineral penting akan dikucurkan 2,5 miliar euro. Selain itu, ada 6,4 miliar euro untuk proyek air, energi, dan iklim.
Asia tengah punya cadangan besar mineral penting. Hingga 38 persen mangan, 30 persen chromium, 20 persen timbal, 12 persen seng, dan 8,7 persen titanium ditaksir berada di Asia Tengah.
Bukan cuma UE, mitigasi dengan kerja sama kawasan juga dilakukan Indonesia. Komunikasi dengan Ketua ASEAN 2025, Malaysia, sudah dilakukan Indonesia untuk menyikapi keputusan Trump.
Seluruh ASEAN terkena tarif baru bea masuk impor (BMI) AS. Sebagian, seperti Singapura, cuma kena 10 persen. Sementara Malaysia kena 24 persen, Indonesia 32 persen, Thailand 36 persen, Vietnam 46 persen, dan Kamboja 49 persen.
Siapa saja yang diuntungkan dengan terjadinya perang dagang AS-China?
Perang dagang dengan AS membuat China mengalihkan sumber impor komoditas mereka, terutama ke Brasil dan Argentina. Kedua negara itu bersama dengan Australia, Uni Eropa, dan negara-negara Pasifik diperkirakan mengalami kenaikan ekspor produk pertanian berkat perang dagang AS-China.
Brasil adalah negara yang diperkirakan paling diuntungkan. Brasil pengekspor kedelai, daging sapi, daging ayam, dan kapas terbesar di dunia. Bahkan, pada perang dagang di masa jabatan pertama Trump (2017-2021), AS kehilangan pasar kedelai terbesar mereka gara-gara China beralih ke Brasil.
Sampai sekarang, AS belum bisa mengatasi kerugian tersebut. China sudah mulai mengalihkan permintaan kedelai dari AS ke Brasil.
”Brasil akan menjadi penerima manfaat utama, pemasok terbesar yang dapat menggantikan kedelai AS, ke China. Namun, negara lain juga dapat memperoleh manfaat, termasuk Argentina dan Paraguay. Untuk gandum, Australia dan Argentina akan memperoleh manfaat,” kata Carlos Mera, Kepala Riset Pasar Pertanian di Rabobank.
Sol Arcidiacono, kepala penjualan biji-bijian Amerika Latin di HedgePoint Global Markets, mengatakan, harga kedelai lokal di Amerika Selatan akan menguat sepanjang tahun. Kondisi ini terjadi berkat perang dagang yang meningkat.
Berdasarkan data kantor berita Reuters, neraca perdagangan negara-negara di Amerika Latin dengan AS stagnan selama satu dasawarsa terakhir. Sebaliknya, perdagangan dengan China terus naik.