Penundaan tarif Trump menjadi angin segar bagi sejumlah perusahaan raksasa teknologi global. Saham ”Magnificent Seven” yang sempat anjlok kini mulai pulih.
10 Apr 2025 17:59 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda kenaikan tarif bea masuk impor selama 90 hari. Penundaan ini menjadi angin segar bagi sejumlah perusahaan raksasa teknologi global. Saham ”Magnificent Seven” yang sempat anjlok kini mulai pulih.
Seperti dilaporkan Reuters, kantor berita global, pada Kamis (10/4/2025) waktu Indonesia, saham perusahaan Magnificent Seven mengumpulkan lebih dari 1,5 triliun dollar AS saat sesi perdagangan. Ketika bursa ditutup, Rabu (9/5/2025) waktu setempat, saham perusahaan itu naik.
Saham perusahaan pengembang akal imitasi (artificial intelligence/AI) itu adalah Nvidia, Apple, Tesla, Microsoft, Alphabet, Meta, dan Amazon. Saham mereka naik antara 9,68 persen dan 22,69 persen. Kenaikan itu turut mendorong bursa saham Nasdaq naik lebih dari 12 persen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/25/c31979b2-6a11-4c31-9327-b79f8fc64534_jpg.jpg)
Pergerakan saham yang membaik perusahaan teknologi ini tidak terlepas dari kebijakan Trump menghentikan sementara kenaikan tarifnya selama 90 hari. Keputusan itu hanya kurang dari 24 jam sejak tarif resiprokal atau timbal balik secara resmi diberlakukan ke puluhan negara.
Dengan penundaan sementara itu, tarif bea masuk yang tadinya puluhan persen ke berbagai negara kini diturunkan menjadi hanya 10 persen selama tiga bulan. Namun, pemerintahan Trump justru memutuskan bea masuk untuk China meroket sampai 125 persen.
Penundaan tarif itu memulihkan saham para raksasa teknologi meski belum menghapus kerugian perusahaan yang mencapai 3,4 triliun dollar AS yang secara kolektif terjadi akhir 2024. Sekitar 2 triliun dollar AS dari kerugian itu tercatat sejak minggu lalu seiring anjloknya saham perusahaan.
Jeda ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi para CFO (’chief financial officer’ dan ’chief operating officer’) untuk melanjutkan rencana ekspansi terkait AI yang mungkin tertunda karena gesekan perdagangan.
”Jeda ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi para CFO (chief financial officer dan chief operating officer) untuk melanjutkan rencana ekspansi terkait AI yang mungkin tertunda karena gesekan perdagangan,” ujar Michael Ashley Schulman, kepala investasi Running Point Capital.
Menurut lembaga konsultan keuangan yang memiliki eksposur pada saham Magnificent Seven ini, ekspansi pengembangan AI sebelumnya terhambat masalah impor cip AI dan perangkat keras khusus dari Taiwan atau Korea. Kondisi itu tidak terlepas dari kebijakan tarif Trump.
”(Padahal), ambisi AI raksasa teknologi membutuhkan belanja modal yang sangat besar, talenta lintas batas, dan ketergantungan perangkat keras yang kompleks,” kata Schulman. Kejelasan soal tarif pun, lanjutnya, akan memberi waktu jeda perusahaan untuk menyusun rencana selanjutnya.
Sebelumnya, sejumlah pengamat menilai, kebijakan tarif Trump bakal berdampak pada pengembangan AI secara global. Meski semikonduktor, bahan penghantar listrik yang digunakan untuk perangkat teknologi tidak masuk dalam daftar tarif, sektor AI tetap akan terpengaruh.
Sebab, penerapan tarif pada komponen lainnya terkait teknologi, seperti baja hingga trafo, justru akan menaikkan harga konstruksi pusat data AI. Terlebih lagi, komponen itu banyak berasal dari AS.
”Pergeseran harga pada komponen lain memiliki dampak berarti pada keseluruhan biaya pembangunan pusat data,” kata Matthew Mittelsteadt, seorang peneliti kebijakan teknologi di Cato Institute, seperti dikutip dari TheWall Street Journal, pekan lalu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/02/1e7f116c-048d-4232-8cab-7cc54499c543_png.png)
Padahal, sejumlah raksasa teknologi berencana melebarkan ekspansinya. Microsoft, misalnya, ingin menginvestasikan 80 miliar dollar AS untuk pusat data tahun ini. Amazon juga berencana menanamkan modal lebih dari 100 miliar dollar AS dan Alphabet sebesar 75 miliar dollar AS.
Selain itu, para pemimpin teknologi juga menjanjikan investasi hingga 500 miliar dollar AS untuk perusahaan patungan yang dikenal sebagai Stargate. Didukung investor dari Uni Emirat Arab, Stargate berencana membangun pusat data untuk OpenAI, perusahaan riset teknologi.
Daniel Newan, analis teknologi sekaligus CEO The Futurum Group, menilai, persoalan tarif tidak akan terlalu berpengaruh pada pengembangan AI seperti pembangunan pusat data. Sebab, pengembang telah mendapatkan dana besar-besaran dari raksasa teknologi, seperti Microsoft.
”Pada titik ini, saya pikir (pusat data) salah satu area yang memiliki kemungkinan paling kecil untuk terkena dampak (tarif),” kata Newan, dikutip Fortune. Menurut dia, ada atau tidak kebijakan tarif, perusahaan tetap membangun pusat data demi efisiensi operasional dan finansial.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/13/4f74a82b712317c3f484c6be4d1944c4-Screenshot_From_2025_03_13_13_09_58.png)
Penulis:
Abdullah Fikri AshriEditor:
Maria Susy BerindraPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto