Xi Jinping berencana hadir dalam APEC 2025, sedangkan Trump belum ada kabar. Adapun Kim Jong Un sejauh ini belum tertarik bertemu Trump.
21 Jul 2025 18:30 WIB · Internasional
SEOUL, SENIN — Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mata dunia fokus pada pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik atau APEC 2025. Antisipasi terhadap pertemuan ini meningkat. Beredar kabar pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping sekaligus pertemuan Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Menurut kantor berita Korea Selatan, Yonhap, Senin (21/7/2025), puncak konferensi tingkat tinggi APEC akan berlangsung pada 31 Oktober-1 November 2025 di Gyeongju, Korsel. Pertemuan ini bakal dihadiri oleh 20.000 partisipan dari 21 negara, termasuk 3.500 delegasi pemerintah.
”Pemerintahan Presiden Lee Jae-myung menetapkan keberhasilan penyelenggaraan KTT APEC sebagai prioritas utama. Kami akan berupaya menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan ekonomi yang inovatif di kawasan Asia Pasifik,” kata Juru Bicara Presiden Kang Yu-jung dalam jumpa pers, pekan lalu.
Xi berencana hadir di KTT APEC. Selama ini, Seoul dan Beijing berupaya menjaga kestabilan hubungan bilateral. Di sisi lain, China akan menjadi tuan rumah APEC 2026.
Partisipasi Trump belum dikonfirmasi. Juru bicara Trump tidak menanggapi permintaan komentar mengenai rencana pertemuan dengan Xi. Namun, pada Maret 2025, penjabat Duta Besar AS untuk Korsel Joseph Yun meyakini Trump akan hadir kecuali ada situasi khusus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/09/19/51a5e57f-a766-4de4-861c-7c2cfcf6b881.jpg)
South China Morning Post, Minggu (20/7/2025), memberitakan kemungkinan pertemuan antara Trump dan Xi dengan mengutip berbagai sumber. ”Trump mungkin akan mengunjungi China sebelum menghadiri KTT APEC antara 30 Oktober dan 1 November, atau bertemu dengan Xi di sela-sela acara APEC,” tulis SCMP.
Dilansir Korea Times, pengamat menilai, jika Trump berkunjung ke China, ia kemungkinan berkunjung ke Shanghai atau provinsi lain di luar Beijing. Hal ini untuk membedakan kunjungannya pada 2017.
Hubungan AS-China naik turun setelah Trump menjabat kembali pada Januari 2025. Trump menghajar China dengan tarif impor sampai 145 persen, sedangkan China membalas dengan tarif 125 persen. Kedua negara lalu memasuki masa gencatan perang tarif. Tenggat waktu jeda adalah 12 Agustus 2025.
Trump dan Xi sebetulnya telah berkomunikasi lewat telepon, Juni lalu. Dalam percakapan itu, Xi mengundang Trump dan istrinya agar berkunjung ke China. Trump menyambut baik.
Sinyal pertemuan antara Trump dan Xi kembali muncul, awal Juli ini. CNN mencatat, setelah bertemu Menteri Luar Negeri Wang Yi di China, Menlu AS Marco Rubio mengatakan, kedua pemimpin ingin bertemu. Namun, penting untuk membangun suasana yang tepat agar pertemuan bisa mendapatkan hasil yang diharapkan.
Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM Nur Rachmat Yuliantoro, Senin, berpendapat, apabila terjadi, pertemuan Trump-Xi akan menjadi sebuah episode sejarah yang menentukan masa depan hubungan kedua negara. Pertemuan itu dapat membantu untuk meredakan persaingan tinggi sampai titik tertentu.
”Dari sisi ekonomi, pembicaraan mereka diharapkan dapat menenangkan gelombang ketidakpastian akibat perang dagang yang telah merusak jalur investasi dan hubungan komersial antara AS dan China,” kata Rachmat, saat dihubungi.
Namun, kata Rachmat, semua ini bergantung pada kemampuan kedua pemimpin untuk mendapatkan titik temu dan menegakkan komitmen. Jika mereka tak sepakat, ketegangan akan meningkat dan pembatasan pasar akan semakin ketat. Konflik yang tidak diinginkan juga dapat terjadi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/12/03/b8510412-e0c8-4667-a24e-b078d17df4dd.jpg)
Chen Qi, profesor hubungan internasional di Tsinghua University, mengatakan, sejumlah dinamika terjadi sejak Juni 2025. Namun, kedua pihak sedang berusaha menciptakan suasana kondusif untuk sebuah pertemuan.
”Selama mereka bisa mencapai kerja sama pada satu titik, khususnya pada isu yang dicemaskan Trump, seperti perdagangan dan kontrol ekspor, hal itu akan menciptakan interaksi positif,” kata Chen, menurut Korea Times.
Bagi para pengamat, Trump terlihat ingin lebih ingin bertemu ketimbang Xi. Situasi ini memberikan keuntungan bagi Beijing.
Direktur Pelaksana German Marshall Fund Bonnie Glaser mengatakan, pertemuan itu akan memberi China peluang menekan Trump untuk meringankan sejumlah pembatasan pada teknologi serta menegaskan AS tidak mendukung kemerdekaan Taiwan. ”Dan mungkin mengatakan AS mendukung reunifikasi yang damai,” kata Glaser dikutip dari Korea Herald.
Selain Xi, pengamat turut mempertimbangkan kemungkinan pertemuan Trump dengan Kim. Sejauh ini, kedua pemimpin telah bertemu tiga kali, yaitu di Singapura pada Juni 2018, Vietnam pada Februari 2019, dan perbatasan Korut-Korsel pada Juni 2019.
Trump sudah berulang kali menyampaikan keinginan untuk bertemu Kim lagi. Ia juga mengklaim punya hubungan baik dengan pemimpin Korut itu. Akhir bulan lalu, Trump mengatakan, konflik AS-Korut dapat selesai andaikata ada pertemuan.
”Saya tidak akan kaget jika ada usaha dari pemerintahan Trump untuk melihat apakah Kim dapat bertemu. Tetapi, ini akan bergantung kepada Kim, bukan Trump, yang memutuskan apakah sebuah pertemuan bisa terjadi,” kata Andrew Yeo, peneliti senior Kebijakan Luar Negeri di Pusat Studi Kebijakan Asia Brookings Institution.
Mantan penjabat Dubes AS untuk Korsel, Rob Rapson, menambahkan, Trump suka memberikan kejutan. Sebuah kunjungan, pertemuan, atau interaksi dadakan dengan Kim selama APEC tidak dapat diabaikan begitu saja.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/07/01/c68e9dd8-cb67-4b09-8eae-cb3d56a802c8.jpg)
Terlepas dari keinginan Trump, fokus Korut berada lain tempat. Hubungan Korut-Rusia sedang mesra-mesranya berkat perjanjian kemitraan strategis yang komprehensif sejak Juni tahun lalu. Moskwa membantu makanan, bahan bakar, dan peralatan militer untuk Pyongyang, sedangkan Pyongyang mengirim tentara untuk membantu Moskwa berperang melawan Ukraina.
Bulan lalu, NK News memberitakan, diplomat Korut di New York menolak surat dari Trump. Surat itu bertujuan membangun kembali jalur komunikasi Washington dengan Pyongyang. Jelas Korut belum siap berbicara dengan AS.
Seandainya pertemuan Trump dan Kim berlangsung, denuklirisasi Korut bakal menjadi agenda utama Trump. Namun, topik ini tidak mudah pula lantaran serangan AS ke situs nuklir Iran, Juni lalu, telah memberi preseden buruk bagi Korut.
”Salah satu dampak pengeboman Iran adalah AS tampaknya telah mengakhiri denuklirasi Korut secara CVID, yaitu lengkap, terverifikasi, tidak dapat diubah. Pelajaran Korut adalah memiliki senjata guna mencegah serangan ke Korut, seperti yang terjadi pada Iran,” kata Victor Cha, Presiden Departemen Geopolitik dan Kebijakan Luar Negeri di Center for Strategic and International Studies (CSIS). (Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari