NILAI TUKAR RUPIAH

Tekanan Rupiah Berisiko Berlanjut

Keputusan The Fed memang memberikan angin segar bagi pasar, tetapi bukan berarti meniadakan risiko akan kembalinya badai di pasar keuangan.

30 Jul 2026 20:01 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/RIZA FATHONI

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berisiko berlanjut. Meski selisih suku bunga antara Indonesia dan Amerika Serikat tetap terjaga, pasar masih mencermati arah kebijakan moneter global. Di sisi lain, pergantian Gubernur Bank Indonesia turut mewarnai sentimen pasar.

Bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), pada Kamis (30/7/2026) dini hari WIB mengumumkan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,5-3,75 persen. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi, khususnya terkait lapangan pekerjaan.

Kendati demikian, keputusan The Fed untuk tetap mempertahankan suku bunga acuannya tidak diambil dengan suara bulat. Berdasarkan hasil voting, tiga dari 12 anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) justru berpandangan suku bunga acuan naik sebesar 25 basis poin (bps).

Ke depan, The Fed akan terus mencermati laju inflasi yang dalam lima tahun terakhir berada di atas target sebesar 2 persen. Kondisi ini terjadi seiring perang di Timur Tengah yang telah mendorong kenaikan harga bahan bakar dan pangan global.

”Kami telah memulai babak baru dan kami memahami bahwa inflasi di atas target selama lebih dari lima tahun tidak dapat dipulihkan dalam sembilan minggu atau hanya oleh penurunan harga yang tipis selama satu bulan,” ujar Gubernur The Fed Kevin Warsh dikutip dari laman resmi The Fed.

Infografik Suku Bunga Acuan Bank Indonesia

Menanggapi hal itu, Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz berpendapat, keputusan The Fed untuk tetap mempertahankan suku bunga acuannya relatif berdampak positif bagi Indonesia. Setidaknya, selisih antara suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan suku bunga kebijakan AS (Fed Fund Rates/FFR) tetap terjaga.

Dengan keputusan tersebut, selisih antara suku bunga AS dan Indonesia saat ini terpaut 100-125 bps. Alhasil, terjaganya selisih tersebut dapat membuat daya tarik terhadap aset berdenominasi rupiah setidaknya tidak memburuk.

”Namun, saya melihat, dampak positifnya terhadap arus modal asing akan cenderung terbatas karena investor global masih menghadapi lingkungan higher for longer dan tetap selektif terhadap aset emerging markets,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta.

Dalam hal ini, ia melanjutkan, keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga memang cukup membantu meredakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Akan tetapi, perkembangan ini tidak serta-merta menjadi katalis yang cukup kuat untuk mendorong apresiasi nilai tukar secara signifikan.

Pegawai konter valuta asing menghitung mata uang rupiah di pusat perbelanjaan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (15/6/2026). Kurs rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat ke level Rp17.709 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Senin (15/6/2026) sore. Angka tersebut naik sekitar 0,85 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.860 per dolar AS. Penguatan nilai tukar rupiah ini didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik dan prospek perdamaian AS-Iran yang turut menekan harga minyak mentah dunia. 

Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Tekanan rupiah

Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada perdagangan, Kamis (30/7/2026), ditutup di level Rp 18.078 per dolar AS. Angka ini cenderung menguat tipis dibandingkan perdagangan hari sebelumnya di level Rp 18.087 per dolar AS.

Di sisi lain, data Bloomberg menunjukkan, pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS dalam perdagangan luar negeri justru terdepresiasi hingga menembus Rp 18.111, melemah 0,21 persen dibandingkan penutupan sebelumnya dan sebesar 8,58 persen secara tahun kalender berjalan.

”Pergerakan rupiah ke depan masih akan lebih dipengaruhi oleh arah imbal hasil US Treasury (obligasi Pemerintah AS), kekuatan dolar AS, serta faktor domestik, terutama kredibilitas kebijakan dan kepemimpinan Bank Indonesia,” tuturnya.

Quote

BI kemungkinan akan tetap mengedepankan stabilitas nilai tukar dan menjaga daya tarik aset rupiah. Namun, jika tekanan inflasi ataupun volatilitas rupiah meningkat, peluang kenaikan suku bunga acuan pada paruh kedua tahun ini masih tetap terbuka.

Dari perkembangan tersebut, ia menambahkan, ruang kebijakan BI untuk menurunkan suku bunga acuan masih terbatas. Hal ini terutama dipengaruhi oleh sikap The Fed cenderung masih ketat (hawkish) terhadap arah kebijakan moneternya.

Bahkan, berdasarkan Fed Watch Tool, indikator yang mengukur ekspektasi terhadap prospek suku bunga acuan The Fed, sebagian besar pelaku pasar meyakini The Fed akan mengerek suku bunga acuannya sebesar 25 bps pada pertemuan FOMC September 2026, dengan probabilitas 63,2 persen.

Dengan demikian, menurut Irman, BI kemungkinan akan tetap mengedepankan stabilitas nilai tukar dan menjaga daya tarik aset rupiah. Namun, jika tekanan inflasi ataupun volatilitas rupiah meningkat, peluang kenaikan suku bunga acuan pada paruh kedua tahun ini masih tetap terbuka.

Ketua DK OJK Friderica Widyasari Dewi, Penjabat Gubernur Sementara Bank Indonesia Destry Damayanti, dan Ketua DK LPS Anggito Abimanyu di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (27/7/2026).

Sementara itu, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas dari PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah berisiko masih akan berlanjut dalam dua bulan ke depan, bahkan menembus level Rp 19.000 per dolar AS akibat faktor eksternal dan domestik.

”BI kemungkinan sampai akhir tahun akan menaikkan suku bunga hingga 100 bps. Akan tetapi, permasalahan utama sepertinya bukan di BI menaikkan suku bunga, tetapi masalah fiskal, struktural di pemerintahan yang karut-marut,” ujarnya.

Dalam hal ini, pasar turut mencermati ketidakpastian mengenai suksesi pucuk pimpinan BI seiring dengan mundurnya Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur BI. Lebih lanjut, tekanan terhadap fiskal daerah, hambatan ekspor mineral, serta rilis data ekonomi Indonesia juga akan dicermati.

Menurut Ibrahim, tata kelola kebijakan anggaran dalam program prioritas pemerintah berisiko memicu persepsi negatif dari pelaku pasar. Kekhawatiran pasar ini terutama mengenai defisit fiskal yang berisiko membengkak melebihi target pemerintah sebesar 2,68 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Infografik Nilai Tukar Rupiah dan IHSG

Sesaat

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja yang cenderung positif, dengan ditutup di level 6.186,36 atau menguat 1,56 persen dibandingkan perdagangan hari sebelumnya. Kendati demikian, prospek pasar saham Indonesia juga berisiko menghadapi tekanan yang dialami nilai tukar.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan, penguatan IHSG hari ini setelah enam hari berturut-turut mengalami koreksi lebih merupakan kombinasi antara technical rebound dan respons positif terhadap kepastian hasil rapat FOMC.

”Keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga memang sesuai ekspektasi pasar menghilangkan sebagian ketidakpastian yang selama beberapa hari terakhir membebani sentimen investor,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta.

Adapun penguatan IHSG tersebut diikuti dengan masuknya aliran modal asing ke pasar saham sebesar Rp 262,93 miliar secara neto. Namun, menurut dia, penguatan pada hari ini belum cukup untuk menjadi sinyal bahwa tren pelemahan (bearish) telah berakhir.

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpampang pada papan elektronik yang terpasang di dinding Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (20/7/2026). IHSG naik 56,24 poin atau 0,91 persen ke 6.231,78 pada penutupan perdagangan saham akhir pekan lalu.


KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
20-07-2026 *** Local Caption *** 6,231.78
+56.24
(+0.91%)

Sebaliknya, pasar masih menghadapi sederet tantangan, mulai dari sikap The Fed yang cenderung tetap hawkish, tingginya imbal hasil obligasi AS, pergerakan dolar AS, hingga ketidakpastian geopolitik global. Dari sisi domestik, investor juga masih mencermati perkembangan arus dana asing, stabilitas nilai tukar rupiah, serta prospek pertumbuhan laba emiten pada semester II-2026.

”Ke depan, volatilitas IHSG diperkirakan masih akan cukup tinggi. Jika laporan keuangan emiten mampu memenuhi ekspektasi dan aliran dana asing mulai kembali masuk, peluang pemulihan IHSG akan semakin terbuka,” kata Nafan.

Sebaliknya, apabila tekanan eksternal kembali meningkat atau aliran modal asing kembali keluar (outflow), penguatan hari ini berpotensi hanya menjadi relief rally atau technical rebound dalam jangka pendek. Maka dari itu, investor sebaiknya tetap selektif dengan mengutamakan saham-saham yang memiliki fundamental kuat, valuasi menarik, dan kinerja yang defensif terhadap gejolak global.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra