Garuda Pertiwi menang 1-0 atas Kirgistan pada laga perdana Kualifikasi Piala Asia 2026. Seperti kekalahan, kemenangan pun memberi pelajaran berharga bagi Indonesia.
30 Jun 2025 00:00 WIB · Olahraga
TANGERANG, KOMPAS — Timnas sepak bola putri Indonesia mengawali Kualifikasi Piala Asia 2026 dengan hasil positif melawan Kirgistan. Setiap kemenangan, meski dengan skor minimalis 1-0, merupakan pencapaian berharga bagi impian timnas putri Indonesia untuk kembali tampil di turnamen level Asia.
Walakin, Indonesia juga membawa pulang sejumlah pekerjaan rumah dari kemenangan tersebut. Kirgistan menguak beberapa kelemahan yang perlu diatasi oleh ”Garuda Pertiwi”.
Indonesia meraih kemenangan perdana di Grup D Kualifikasi Piala Asia 2026 lewat gol semata wayang pemain yang baru dinaturalisasi, Isa Warps, pada menit ke-65. Timnas putri menunjukkan, keunggulan mereka bukan hanya di atas kertas dalam laga yang digelar di Stadion Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang, Banten, Minggu (29/6/2025) malam.
”Walaupun hanya satu gol, saya senang kami bisa meraih kemenangan,” ucap pelatih timnas putri Indonesia, Satoru Mochizuki, selepas pertandingan.
”Sebenarnya, karena tidak mau kalah dengan Taiwan, kami ingin bisa cetak sampai delapan gol juga. Namun, apa pun itu, kami bersyukur bisa menang dalam laga pertama yang menegangkan ini,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/29/d811bed1902c5b68639e1d7988712683-20250629YGA12.jpg)
Indonesia, yang menempati peringkat ke-95 dunia, wajib menjadi tim terbaik untuk bisa tampil lagi di Piala Asia seperti edisi sebelumnya pada 2022. Hanya satu tim dari tiap grup yang bisa melaju ke putaran final. Untuk itu, tiga poin perdana yang diraih Indonesia begitu berharga dalam upaya menjadi tim terbaik tersebut.
”Garuda Pertiwi” bersaing dengan Taiwan, lawan terberat di Grup D. Taiwan membuka perjalanan mereka di Kualifikasi Piala Asia 2026 dengan kemenangan 8-0 atas Pakistan. Berkat hasil itu, Taiwan memimpin klasemen sementara, disusul Indonesia.
Melawan Kirgistan yang sebagian besar pemainnya juga membela timnas futsal putri, Indonesia sebenarnya langsung bermain agresif. Kirgistan, tim peringkat ke-136 dunia, mendapatkan peluang lebih dulu, tetapi Indonesia langsung membalasnya dengan serangan bertubi-tubi.
Shafira Ika dan kawan-kawan menunjukkan keunggulan di lapangan dengan menciptakan sejumlah peluang bahkan saat laga baru berjalan delapan menit. Penyerang Indonesia, Claudia Scheunemann, misalnya, mendapatkan sedikitnya tiga kans untuk mencetak gol dari dalam kotak penalti dalam kurun waktu tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/29/573b3220ab17688aa2261fbad6cf4abb-20250629YGA11.jpg)
Namun, semua peluang itu mampu dimentahkan kiper Kirgistan, Dilnura Abibulla Kyzy. Peluang dari pemain-pemain lain, seperti Rosdilah Siti dan Sheva Imut, juga gagal dikonversi menjadi gol.
Mengatasi kebuntuan tersebut, Satoru Mochizuki akhirnya memasukkan Reva Octaviani untuk menambah daya gedor serangan pada babak kedua. Reva menggantikan Rosdilah yang selama paruh pertama berkali-kali menginisiasi serangan dari sisi kiri gawang lawan.
Di sisi lain, Mochizuki juga menambah kuat pertahanan dengan memasukkan Vivi Oktavia yang memang berposisi alami sebagai bek. Vivi menggantikan Zahra Muzdalifah, alumnus Liga Kompas Gramedia, yang biasanya bermain sebagai pemain sayap.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/29/e04c899549630204ebf103934cac806d-20250629YGA20.jpg)
Perubahan ini berpengaruh pada serangan timnas yang bisa lebih bervariasi. Indonesia akhirnya mampu memecah kebuntuan pada menit ke-65 setelah Isa Warps menyambut bola umpan yang gagal disapu pemain bertahan Kirgiztan. Isa langsung melepaskan tendangan dengan kaki kanan bagian depan yang membuat bola melesat ke kanan atas gawang tanpa bisa digapai kiper lawan.
Selepas gol tersebut, Indonesia sebenarnya masih menghasilkan beberapa peluang untuk menambah keunggulan. Namun, semua peluang yang sebagian besar berasal dari luar kotak penalti ini gagal berbuah gol.
”Pemain sudah punya inisiatif untuk menendang dari jarak jauh, itu sudah bagus. Namun, kami tentu akan mencoba lagi bagaimana agar mereka bisa menendang dari dekat, lebih bisa mendekati gawang,” ujar Mochizuki.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/29/615ca44defeeb8bf0b13aa164df90e23-20250629YGA01.jpg)
Menurut Mochizuki, aspek lain yang perlu ditingkatkan bukan hanya soal serangan. Pelatih asal Jepang ini menilai, anak-anak asuhannya juga masih perlu peningkatan dari kemampuan mendasar, mulai dari operan hingga kontrol bola.
”Hari ini indonesia bisa lebih banyak pegang bola, tetapi masih banyak salah kontrol, hilang bola, salah mengumpan. Jadi kalau lawan Taiwan, ini bakal bisa dimanfaatkan mereka. Maka dari itu, kami harus meningkatkan kemampuan dasar,” kata Mochizuki.
Adapun Isa Warps mengaku senang bisa mencetak gol pada debutnya sebagai pemain Indonesia. ”Aku sebenarnya gugup, tetapi senang bisa mencetak gol dan membantu tim menang. Ini luar biasa, benar-benar seperti mimpi,” ujarnya lagi.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar Alexey