Tempe-Tahu MBG

Program MBG turut mendongkrak permintaan tempe dan tahu yang masih mengandalkan kedelai hasil impor. Apakah Indonesia akan semakin bergantung pada kedelai impor?

24 Nov 2025 06:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Kompas/Priyombodo

Oleh Hendriyo Widi

Tempe dan tahu merupakan makanan legendaris Indonesia. Keduanya menjadi bagian dari sejarah dan peradaban pangan Nusantara. Kisah keduanya terekam sejak kedatangan etnis Tionghoa (untuk tahu), terabadikan dalam Serat Centhini (untuk tempe), dan menjadi saksi bisu era cultuurstelsel atau tanam paksa.

​Kini, tempe dan tahu mendulang kisah baru. Keduanya termasuk dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program andalan pemerintah di era kepemimpinan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming. Hal ini terjadi justru pada saat Indonesia sangat bergantung kepada kedelai impor.

Di Indonesia, usia tempe lebih muda ketimbang tahu. Tempe berasal dari bahasa Jawa kuno, yakni tumpi, yang berarti makanan yang berwarna putih. Tempe pertama kali dibuat dan dikonsumsi oleh masyarakat Dusun Tembayat, Desa Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, sekitar tahun 1700.

Jejak sejarah itu terekam dalam Bab 3 dan Bab 12 Serat Centhini (1814-1823) yang berlatar kondisi Jawa pada abad ke-16 dan ke-17. Dalam manuskrip itu, ditemukan kata ”tempe” dengan penyebutan nama hidangan ”jae santen tempe” dan ”kadhele tempe srundengan”.

Kala itu, kedelai yang digunakan adalah kedelai hitam, bukan kedelai kuning kecoklatan. Selain untuk lauk harian, tempe juga menjadi komponen penting dalam proses ritual dan sosial masyarakat Jawa. Dalam tradisi tumpengan, misalnya, tempe menjadi salah satu lauk dari tujuh lauk yang disyaratkan.

Perajin menunjukkan kemasan tempe yang diproduksi pabrik tempe Darek Ani Cap Gunung Tiga di Kelurahan Alai Parak Kopi, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sumatera Barat, Minggu (20/2/2022). Pengusaha tahu dan tempe di Padang terpaksa mengurangi jumlah produksi untuk menekan risiko kerugian di tengah melonjaknya harga kedelai impor.

Adapun tahu berasal dari bahasa Tionghoa, yakni tao-hu atau teu-hu. Tau/teu berarti kedelai, sedangkan hu berarti hancur menjadi bubur. Tidak mengherankan jika jejak sejarahnya tidak terlepas dari kedatangan etnis Tionghoa ke Indonesia sekitar abad ke-10.

Menurut Suryatini N Ganie dalam bukunya Dapur Naga di Indonesia (2008), Kediri di Jawa Timur merupakan kota pertama di Indonesia yang mengenal kedelai dan tahu. Kedelai dan tahu itu diperkenalkan tentara Kubilai Khan pada 1292.

Waktu itu, Pelabuhan Kediri menjadi tempat berlapuh armada Mongolia. Armada tersebut memiliki jung-jung (perahu besar) khusus logistik pangan, termasuk untuk penyimpanan kedelai dan pembuatan tahu. Hingga kini, wilayah di tepi Sungai Brantas itu masih dikenal sebagai Jung atau Jong Biru.

Ong Hok Ham (1 Mei 1933-30 Agustus 2007), juga pernah merekam jejak tempe dan tahu di Indonesia. Dalam tulisannya ”Tempe, Sumbangan Jawa untuk Dunia” (Kompas, 1/1/2000), sejarawan Indonesia itu menyebutkan tempe dan tahu sudah dikenal sebagai makanan sehat yang berasal dari kedelai.

Menurut dia, tempe dan tahu sering disebut oleh ahli nutrisi sebagai ”daging dari pertanian”. Soalnya, seperti halnya daging, tempe dan tahu juga kaya protein.

Quote

Tanam paksa membuat bahan makanan seperti tempe menjadi semakin vital sebagai penyelamat kesehatan penduduk.

Perajin sedang mengolah kacang kedelai untuk dijadikan tahu di kawasan Pancoran, Jakarta, Minggu (26/2/2023). Pemerintah melalui Perum Bulog telah mengimpor kedelai sebagai bagian dari cadangan pangan pemerintah. Kedelai impor itu akan tiba perdana pada awal Maret 2023. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 26-02-2023

Ia juga memotret perubahan substitusi menu protein hewani menjadi nabati pada zaman tanam paksa (1830-1870) oleh Pemerintah Hinda Belanda di Indonesia. Meluasnya perkebunan kolonial diikuti tanam paksa dengan petani sebagai kulinya, membuat kesempatan berburu, beternak, dan memancing, banyak berkurang.

”Dampaknya adalah menu makanan orang Jawa yang tanpa daging. Kondisi semacam itu yang tampaknya memunculkan tempe. Tanam paksa membuat bahan makanan seperti tempe menjadi semakin vital sebagai penyelamat kesehatan penduduk,” tulis Ong Hok Ham.

Ia bahkan menyebutkan, dahulu, Pulau Jawa menjadi sentra produksi kedelai, terutama di era cultuurstelsel. Banyak penduduk pulau tersebut yang membudidayakan tanaman kedelai di lahan atau pekarangan rumah.

Namun, selama bertahun-tahun, budidaya kedelai kurang mendapat perhatian. Seiring dengan meningkatnya permintaan kedelai sebagai bahan baku pangan, Indonesia malah semakin bergantung pada kedelai impor.

<p>Buruh angkut mengecek kondisi kedelai impor di tempat penjualan di kawasan Pancoran, Jakarta, Senin (4/1/2021). Dalam sebulan terakhir, bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe tersebut naik dari Rp 7.200 per kilogram menjadi Rp 9.500 per kilogram.</p>

Impor kedelai

Kini, kisah tempe dan tahu memasuki babak baru. Tempe dan tahu tidak hanya menjadi salah satu lauk harian masyarakat Indonesia. Melalui program MBG, Badan Gizi Nasional (BGN) menjadikan tempe dan tahu sebagai menu penunjang gizi bagi 82,9 juta penerima manfaat yang dilayani 32.000 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).

Tempe dijadikan menu MBG setiap tiga kali seminggu, sedangkan tahu dua kali seminggu. Merujuk data Estimasi Kebutuhan Bahan Pangan MBG pada Desember 2025 dan Januari 2026, BGN menunjukkan, kebutuhan tempe dan tahu untuk 32.000 SPPG dalam sebulan diperkirakan masing-masing sebanyak 57.600 ton dan 19.200 ton.

Quote

Selama ini, Indonesia masih mengimpor kedelai dari sejumlah negara karena produksi kedelai nasional masih sangat terbatas.

Hal itu tentu saja membuat para perajin tempe dan tahu menjadi girang. Bahkan, perajin susu kedelai pun juga bisa mendapatkan ”durian runtuh” dari program MBG. Ini mengingat susu juga menjadi minuman yang wajib disajikan setiap hari oleh setiap SPPG.

Susu kedelai merupakan salah satu alternatif pengganti susu sapi. Substitusi susu itu juga diperlukan karena selama ini sekitar 80 persen kebutuhan konsumsi susu nasional masih dipenuhi dari impor.

Di sisi lain, kenaikan permintaan tahu dan tempe juga membuat BGN dan Badan Pangan Nasional khawatir impor kedelai bakal meningkat. Ini mengingat, selama ini, Indonesia masih mengimpor kedelai dari sejumlah negara karena produksi kedelai nasional masih sangat terbatas.

Perkembangan dan proyeksi produksi, konsumsi, dan impor kedelai Indonesia.

Berdasarkan data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), rata-rata produksi kedelai Indonesia pada 2014-2023 sebanyak 498.000 ton dengan rerata pertumbuhannya minus 5 persen. Pada 2023/2024, produksinya sebesar 375.000 ton atau turun 4 persen secara tahunan.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, volume impor kedelai Indonesia pada 2017-2024 berada di kisaran 2,2 juta ton hingga 2,7 juta ton. Pada 2023 dan 2024, misalnya, impor kedelai Indonesia meningkat dari 2,27 juta ton menjadi 2,67 juta ton.

Selama ini, Amerika Serikat menjadi negara asal impor kedelai terbesar Indonesia. Pada 2023 dan 2024, Indonesia mengimpor kedelai dari AS masing-masing sebanyak 1,95 juta ton dan 2,38 juta ton.

Pada 6 Agustus 2025, USDA memperkirakan konsumsi kedelai Indonesia bakal meningkat seiring dengan berjalannya program MBG. Lonjakan konsumsi itu malah dibarengi dengan penurunan produksi, sehingga mendongkrak impor kedelai. Hal itu tertuang dalam laporan USDA tentang ”Indonesia: Oilseeds and Products Update”.

Dalam laporan itu, USDA memperkirakan konsumsi kedelai Indonesia meningkat 2 persen dari 2,95 juta ton pada 2025 menjadi 3 juta ton pada 2026. Sementara produksi kedelai justru turun 6 persen dari 340.000 ton pada 2025 menjadi 320.000 ton pada 2026.

”Curah hujan yang lebih tinggi di sejumlah daerah di Indonesia telah menyebabkan petani di lahan tadah hujan memilih menanam padi dan jagung yang harganya lebih menguntungkan ketimbang kedelai,” sebut USDA dalam laporannya.

Panen kedelai di Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (25/9/2022). Tanaman kedelai ditanam petani setempat saat musim kemarau. Komoditas kedelai saat ini sering terganggu oleh cuaca yang tidak menentu. Harga jual kedelai ditingkat petani mencapai Rp 10.500 perkilogram. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Kondisi itu otomatis mendorong peningkatan impor kedelai. USDA memproyeksikan impor kedelai Indonesia akan naik dari 2,65 juta ton pada 2025 menjadi 2,7 juta ton pada 2026.

Lantas, apakah ke depan ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor bakal semakin besar? Kementerian Pertanian (Kementan) tengah berupaya mencegah hal itu terjadi. Meskipun terbilang terlambat, Kementan akan menggenjot produksi kedelai.

Pada 21 November 2025, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan, pemerintah akan menambah lahan kedelai seluas 1 juta hektar secara bertahap. Salah satunya dengan memanfaatkan lahan sawit hasil sitaan yang belum ditanami kelapa sawit.

Mari kita tunggu hasilnya….

Perkembangan produksi kedelai di Indonesia pada 2019-2023


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase