Kenaikan harga telur ayam ras dinilai akibat ulah pedagang perantara. Sementara itu, USDA dan USSEC memperkirakan impor kedelai RI pada 2026 bakal naik.
20 Nov 2025 12:53 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Kisah inflasi telur ayam ras tak berhenti pada program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Inflasi salah satu bahan pangan pokok itu berlanjut pada kisah aji mumpung pedagang perantara atau middlemen.
Bahkan, ke depan, lonjakan impor bahan pangan bisa menjadi salah satu episode yang mewarnai kisah inflasi itu. Terlebih mengingat selama ini Indonesia masih mendatangkan sebagian bahan pangan dari negara lain.
Pada 3 November 2025, Badan Pusat Statistik mencatat, telur ayam ras menjadi salah satu komoditas pemicu inflasi pada Oktober 2025. Tingkat inflasi nasional pada bulan tersebut sebesar 0,28 persen secara bulanan dan 2,86 persen secara tahunan.
Secara bulanan, telur ayam ras mengalami inflasi sebesar 4,43 persen dan berkontribusi terhadap inflasi nasional sebesar 0,04 persen. Adapun secara tahunan, tingkat inflasi telur mencapai 9,74 persen dan andilnya terhadap inflasi nasional sebesar 0,09 persen.
BPS menyebut, program MBG menjadi salah satu biang keladi terjadinya lonjakan permintaan telur ayam ras. Selain itu, kenaikan harga telur juga dipicu kenaikan biaya produksi, terutama jagung pakan dan bibit ayam (DOC).
Peternak sama sekali tidak menaikkan harga telur ayam ras. Jadi, kalau di pasar harganya melonjak, siapa yang bermain? Pasti ada peran ’middleman’.

Namun, Kementerian Pertanian dan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) menyatakan, ada faktor lain yang menyebabkan kenaikan harga telur ayam. Faktor tersebut adalah permainan harga yang dilakukan oleh para pedagang perantara.
Hal itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Stabilisasi Harga Telur Ayam Ras di Kementan, Jakarta, Rabu (19/11/2025). Rapat yang dipimpin Menteri Pertanian dan juga Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman itu turut dihadiri Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional Yudianto Yosgiarso.
Yudianto mengungkapkan, peternak ayam petelur sama sekali tidak menaikkan harga telur ayam ras. Bahkan, saat ini, harga telur di tingkat produsen di beberapa daerah sentra peternakan ayam petelur masih Rp 24.000-Rp 26.500 per kilogram.
”Harga tersebut masih sesuai, bahkan ada yang di bawah harga acuan pembelian telur ayam ras, yakni Rp 26.500 per kilogram. Jadi, kalau di pasar harganya melonjak, siapa yang bermain? Pasti ada peran middleman,” ungkapnya.
Yudianto menyarankan, lebih baik setiap satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) membeli telur ayam ras langsung ke peternak atau koperasi peternak. Ia menawarkan harga telur ayam di tingkat peternak di Jawa Rp 27.500 per kg, sedangkan di luar Jawa akan disesuaikan dengan biaya logistiknya.

Ketua Koperasi Berkah Telur Blitar, Jawa Timur, Yesi Yuni Astuti, juga berpendapat senada. Di Blitar, Harga telur ayam ras di tingkat peternak Rp 24.000-Rp 26.500 per kg. Namun, harganya di pasar sudah menembus Rp 35.000 per kg.
”Kami tidak menaikkan harga telur. Kami patuh kepada pemerintah. Ada pedagang perantara yang memainkan harganya,” kata Yesi.
Ia menambahkan, selama ini, sekitar 95 persen telur yang diproduksi peternak didistribusikan melalui pedagang perantara. Itu membuat harga telur di tingkat peternak juga ditentukan oleh rantai bisnis para perantara tersebut.
Menanggapi fenomena ini, Amran mengemukakan, kenaikan harga telur yang terjadi belakangan ini sebenarnya tidak signifikan. Kenaikan harga telur itu juga bersifat sementara dan akan segera terkoreksi seiring dengan penurunan harga DOC.
Selain itu, produksi telur nasional pada 2025 diperkirakan mencapai 6,5 juta ton. Jumlah tersebut dinilainya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional dan program MBG.
”Meskipun begitu, kami tetap akan mengawasi pergerakan harga telur ayam. Jika ada yang mempermainkannya, kami akan menindak tegas pelakunya,” kata Amran.
Selain itu, Kementan akan bekerja sama dengan para peternak ayam petelur untuk meningkatkan produksi telur sebanyak 700.000 ton. Sementara itu, Bapanas melalui Perum Bulog telah melanjutkan program penyaluran jagung stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) ke para peternak ayam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/17/bafc8eefcbbbfaf17722b26c66741d71-20251117TOK8.jpg)
Lonjakan permintaan dan kenaikan harga pangan tidak hanya terjadi pada telur dan daging ayam ras. Badan Gizi Nasional (BGN) menyebutkan hal itu juga terjadi pada sejumlah sayuran dan buah. Bahkan, BGN menyatakan tanda-tanda gejolak pasokan dan harga pangan akibat program MBG sudah di depan mata (Kompas, 17/11/2025).
Hal itu mengingat kebutuhan bahan pangan nasional bakal kian besar saat 32.000 SPPG beroperasi. Kebutuhan beras dan telur ayam untuk 32.000 SPPG, misalnya, masing-masing sebesar 153.600 ton per bulan untuk beras dan 51.200 ton per bulan untuk telur ayam.
Berdasarkan penghitungan BGN, untuk memenuhi kebutuhan bulanan beras bagi satu SPPG saja dibutuhkan 2 hektar sawah. Begitu pun dengan telur, satu SPPG setidaknya membutuhkan 3.750-4.000 ayam petelur.
Merespons hal itu, Bapanas menyatakan, sebagian besar kebutuhan bahan pangan, baik untuk konsumsi nasional maupun program MBG, masih dapat dipenuhi dari dalam negeri. Namun, dari 12 pangan pokok dalam neraca pangan, ada empat komoditas yang masih bergantung pada impor. Keempat komoditas itu adalah kedelai, daging sapi/kerbau, gula, dan bawang putih (Kompas, 19/11/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/20/78853c13e10fc0508b0c1e1b94a2385e-20251120_ANU_Produksi_Konsumsi_Ayam_mumed.jpg)
Berdasarkan data Proyeksi Neraca Pangan Nasional per 4 November 2025, realisasi impor kedelai dan bawang putih pada Januari-Oktober masing-masing mencapai 2,1 juta ton dan 496.561 ton. Sementara itu, rencana impor kedelai dan bawang putih pada November-Desember masing-masing 262.262 ton dan 112.117 ton.
Adapun realisasi impor daging sapi/kerbau dan gula mentah sebagai bahan baku gula konsumsi pada Januari-Oktober 2025 masing-masing mencapai 227.796 ton dan 150.000 ton. Selanjutnya, pada November-Desember tidak ada rencana impor gula mentah. Yang ada hanya rencana impor daging sapi/kerbau, yakni sebanyak 168.213 ton.
Sementara itu, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan impor kedelai Indonesia bakal meningkat pada 2026. Hal itu dipicu oleh peningkatan konsumsi pangan olahan dari kedelai seiring berjalannya program MBG.
Dalam laporan bertajuk ”Indonesia: Oilseeds and Products Update” yang diriis pada 7 Agustus 2025, USDA memperkirakan konsumsi dan impor kedelai Indonesia meningkat pada 2026. USDA memperkirakan konsumsi kedelai Indonesia meningkat 2 persen dari 2,95 juta ton pada 2025 menjadi 3 juta ton pada 2026.
Impor kedelai Indonesia diproyeksikan naik dari 2,65 juta ton pada 2025 menjadi 2,7 juta ton pada 2026.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/19/789e0d97-4e50-49d4-af11-5a72fa9ee418.jpg)
Industri tahu dan tempe di Indonesia masih menjadi konsumen utama kedelai. Peningkatan konsumsi tersebut otomatis mendorong peningkatan impor kedelai. Impor kedelai Indonesia diproyeksikan naik dari 2,65 juta ton pada 2025 menjadi 2,7 juta ton pada 2026.
”Setelah sepenuhnya terlaksana, yakni dengan 82,8 juta penerima manfaat, program MBG andalan Presiden Prabowo Subianto dapat memicu peningkatan konsumsi pangan berbasis kedelai,” sebut USDA dalam laporan itu.
Merujuk data Estimasi Kebutuhan Bahan Pangan MBG pada Desember 2025 dan Januari 2026, BGN menunjukkan bahwa menu tahu diberikan setiap dua kali seminggu. Kebutuhan tahu untuk 32.000 SPPG diperkirakan sebanyak 19.200 ton per bulan.
Adapun tempe dijadikan menu MBG setiap tiga kali seminggu. Kebutuhan tempe untuk 32.000 SPPG dalam sebulan diperkirakan sebanyak 57.600 ton.
Itu baru kedelai yang salah satunya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri tahu dan tempe. Bagaimana nanti dengan bahan pangan lain yang masih mengandalkan impor, seperti daging sapi/kerbau, susu, bawang putih, bahkan buah?
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/09/17fbba0a156abc75993ca23576cf9e12-Screenshot_2025_04_09_185607.png)
Penulis:
Hendriyo WidiEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan