Kakek dan nenek pemain naturalisasi timnas Malaysia lahir di luar negara itu. ”Harimau Malaya" berpeluang besar dinyatakan kalah dari Vietnam akibat pemain ilegal.
07 Okt 2025 09:57 WIB · Olahraga
KUALA LUMPUR, SELASA — FIFA, badan sepak bola dunia, merilis data kakek-nenek tujuh pemain naturalisasi tim nasional sepak bola Malaysia. Mereka sama sekali tidak memiliki keturunan negara itu. Meskipun begitu, Asosiasi Sepak Bola Malaysia atau FAM tetap merahasiakan data keturunan tujuh pemain itu kepada publik.
Dugaan pelanggaran Pasal 22 Kode Disiplin FIFA mengenai pemalsuan dokumen dan keterangan palsu dibuktikan FIFA dengan merilis hasil investigasi mereka, Senin (6/10/2025). FIFA mendapatkan bukti sahih dokumen kakek-nenek para pemain naturalisasi Malaysia itu tidak asli.
Dokumen yang dikirimkan FAM kepada FIFA, Maret hingga awal Juni lalu, menyebut salah satu kakek atau nenek para pemain itu lahir di Malaysia. Hal itu demi memenuhi persyaratan pemindahan federasi pemain FIFA berdasarkan jalur keturunan, yakni dari ayah/ibu atau kakek/nenek.
FIFA sempat mengakui keabsahan proses adaptasi mereka sehingga mayoritas pemain naturalisasi baru itu bisa tampil pada laga pra-Piala Asia 2027 kontra Vietnam di Stadion Bukit Jalili, Kuala Lumpur, Malaysia, 10 Juni lalu.
Satu hari setelah laga yang dimenangkan Malaysia 4-0 itu, FIFA menerima laporan dugaan adanya kesalahan administrasi yang dilakukan FAM. Setelah melakukan investigasi selama tiga bulan, FIFA dapat menemukan akte lahir asli kakek/nenek tujuh pemain naturalisasi Malaysia itu. Para pemain berdarah latin itu sama sekali tidak ada yang memiliki darah Malaysia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/ed270d70-acbf-4378-b02a-faddcf8616f5_jpg.jpg)
Maria Belen Martin, nenek dari Gabriel Palmero, tidak lahir di Malaka, Malaysia, melainkan di Santa Cruz de la Palma, Spanyol. Carlos Rogelio Fernandez, kakek Facundo Tomas Garces, bukan lahir di Penang, Malaysia, tetapi di Santa Fe de la Cruz, Argentina.
Selanjutnya, kakek dari Rodrigo Julian Halgado, bukan lahir di George Town, Malaysia. Omar Eli Gardon merupakan pria kelahiran Buenos Aires, Argentina. Adapun Concepcion Agueda Alanis, kakek dari Imanol Javier Hachuca, yang awalnya disebut lahir di Penang ternyata berasal dari Argentina, tepatnya kota Roldan.
Joao Figueiredo, yang didaftarkan memiliki kakek kelahiran Johor, Malaysia, faktanya sang kakek, Nair de Oliveira, berasal dari Abre Campi, Brasil.
Hal serupa juga terjadi kepada Jon Irazabal. Kakeknya, Gregorio Irazabal y Lamiquiz, bukan dari Kuching, Malaysia, melainkan lahir di Viscaya, Spanyol.
Lalu, kakek Hector Hevel, yakni Hendrik Jan Hevel, adalah kelahiran Den Haag, Belanda, alih-alih Malaka.
”Komite mendapatkan kesimpulan dalam laporan investigasi bahwa akta kelahiran asli kontras dengan dokumen yang disampaikan,” bunyi pernyataan Badan Judisial FIFA.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/04/07/fifa01_1586267285.jpg)
Laporan itu lebih lanjut tertulis, ”pemain yang menggunakan dokumen tersebut tidak bisa membela tim FAM”.
Merujuk keputusan FIFA itu, tiga pemain Johor Darul Ta’zim, yaitu Figueiredo, Irazabal, dan Hevel, terdaftar sebagai pemain asing dalam daftar skuad Liga Champions Asia Elite di laman Konfederasi Sepak Bola Malaysia (AFC). Figueiredo berasal dari Brasil, lalu Irazabal dan Hevel masing-masing disebut berpaspor Spanyol dan Belanda.
Para pemain itu sudah tidak bermain untuk klub mereka sejak pekan lalu akibat putusan Komite Disiplin FIFA itu. Mereka juga tidak masuk dalam daftar skuad timnas Malaysia untuk dua laga pra-Piala Asia 2027 kontra Laos, pekan ini. Selain itu, mereka disanksi denda 2.000 franc Swiss atau sekitar Rp 41,8 juta.
FIFA juga menghukum Malaysia dengan denda besar 350.000 franc Swiss (Rp 7,32 miliar). Kemenangan Malaysia atas Vietnam berpotensi dianulir. Bahkan, mereka berpeluang besar dinyatakan kalah 0-3 akibat menggunakan pemain melanggar aturan.
FAM sejak awal tidak terbuka dengan data keturunan tujuh pemain naturalisasi itu. Transparansi mereka itu berbeda dengan PSSI yang selalu menyampaikan kepada publik data keturunan pemain-pemain diaspora.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/07/8f50629d-4114-44c9-8cd2-7d5911c1afd1_jpg.jpg)
Walaupun FIFA sudah menyebut pemalsuan dokumen keturunan pemain naturalisasi itu, FAM bersikukuh untuk tidak mengungkap kepada khalayak soal silsilah keturunan tujuh pemain itu.
FAM berpegangan dua aturan Kerajaan Malaysia. Dua aturan itu ialah Akta Paspor 1966 dan Akta Rahasia Resmi 1972.
”FAM terikat secara undang-undang untuk mengekalkan kerahasiaan dokumen tersebut. FAM hanya akan menyampaikan dokumen untuk tujuan kasus itu,” bunyi pernyataan resmi FAM, Selasa (7/10/2025).
Sebagai langkah banding, FAM sudah melayangkan banding kepada Komite Banding FIFA. Mereka juga berencana menggunakan jalur Badan Arbitrase Olahraga seandainya banding mereka gagal di Komite Banding FIFA.
”FAM akan menggunakan seluruh saluran untuk memperjuangkan kasus ini,” ungkap FAM.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan