Terdampak Efisiensi Anggaran, Kemenpora Perketat Program

Akibat kebijakan efisiensi anggara, pengiriman atlet ke suatu ajang olahraga internasional pun diperketat hanya untuk atlet yang punya peluang prestasi terbaik.

12 Feb 2025 21:32 WIB · Nusantara

Oleh Adrian Fajriansyah, Rebbiyah Salasah

PALEMBANG, KOMPAS – Akibat kebijakan efisiensi anggaran, Kementerian Pemuda dan Olahraga harus memperketat program mereka. Bahkan, pengiriman atlet ke suatu ajang olahraga internasional pun diperketat hanya untuk atlet yang punya peluang prestasi terbaik.

Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo di sela meninjau kondisi terkini Kompleks Olahraga Jakabaring (JSC) di Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (12/5/2025), mengatakan, efisiensi anggaran turut memengaruhi program-program di Kemenpora. Untuk itu, mereka harus menentukan skala prioritas dalam melaksanakan program, termasuk untuk persiapan SEA Games Thailand 2025, ASEAN Para Games Thailand 2026, dan Asian Games Jepang 2026.

Kemenpora berupaya agar persiapan keikutsertaan kontingen Indonesia di tiga ajang multicabang internasional itu tidak terganggu. ”Intinya, kami harus bekerja lebih ketat dan lebih memantau agar tidak terjadi kebocoran anggaran yang sebenarnya bisa digunakan kembali untuk program-program di Kemenpora,” ujarnya.

Terkait dampaknya terhadap pengiriman atlet ke ajang multicabang internasional, Dito menuturkan, dampak efisiensi anggaran membuat pihaknya harus betul-betul menganalisa peluang prestasi setiap atlet. Mereka hanya akan mengirim atlet yang punya peluang prestasi terbaik, seperti yang pernah meraih medali di tingkat Asian Games.

Dengan kata lain, pengiriman atlet tidak bisa lagi sejor-joran seperti sebelumnya. ”Untuk SEA Games, kami akan mengirim atlet-atlet muda yang memang punya peluang prestasi. Sebaliknya, untuk Asian Games, kami hanya mengirim atlet-atlet yang pernah meraih medali di tingkat Asian Games,” kata Dito.

Sementara itu, timnas sepak bola amputasi Indonesia menjadi salah satu cabang yang berharap kebijakan efisiensi anggaran tidak berdampak pada keberlangsungan persiapan mereka untuk menghadapi kualifikasi Piala Dunia 2026. Pada Rabu, timnas amputasi baru saja menyabet gelar runner-up Kejuaraan Amputasi Asia 2025. Keikutsertaan mereka diawali dengan pemusatan latihan selama lima bulan yang didanai Kemenpora, sebelum adanya kebijakan efisiensi anggaran.

Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo (baju hitam bertopi hitam) meninjau kondisi terkini Kompleks Olahraga Jakabaring (JSC) di Stadion Gelora Sriwijaya, JSC, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (12/2/2025). Selepas Asian Games Jakarta-Palembang 2018, kondisi sejumlah arena olahraga memprihantikan. Maka itu, Kementerian Pemuda dan Olahraga berniat memboyong kejuaraan nasional maupun internasional ke Jakabaring untuk membangkitkan geliat olahraga di sana.

Setelah Kejuaraan Amputasi Asia, timnas amputasi akan mengikuti kualifikasi Piala Dunia 2026 yang rencananya digelar pada Oktober atau November 2025. Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Amputasi Indonesia (PSAI) Yudhi Yahya berharap, di luar upaya mereka mencari sponsor, Kemenpora kembali bisa mengakomodasi kebutuhan timnas untuk pemusatan latihan selama enam bulan. Sebab, hasil pemusatan latihan terbukti bisa membuat tim lebih matang persiapanya.

”Tahun ini, ada efisiensi anggaran, tetapi mudah-mudahan kami tidak terdampak karena sebelumnya kami ada dalam skala prioritas Kemenpora. Kalau Kemenpora bisa mendukung sepenuhnya, kami akan berupaya memaksimalkan sepenuhnya juga demi prestasi di ajang dunia,” tutur Yudhi.

Mendesak dan penting

Pengamat olahraga Fritz E Simanjuntak mengatakan, dengan adanya kebijakan efisiensi anggaran, Kemenpora harus membuat skala prioritas dalam menjalankan program. Mereka harus mengutamakan program yang betul-betul mendesak (urgent) dan penting (important).

Untuk kegiatan yang tidak mendesak dan penting, Kemenpora harus bersikap tegas untuk tidak mendanainya. Sebagai contoh pengiriman enam atlet untuk mengikuti tiga nomor pertandingan ski es ke Asian Winter Games 2025 di Harbin, China pada 7-14 Februari ini. Pengiriman atlet itu turut didukung oleh Kemenpora.

Quote

Kirimkan saja atlet-atlet yang betul-betul berpeluang meraih emas. Jangan yang peluang perak atau perunggu ikut berangkat karena akan menambah jumlah kontingen yang berangkat. Ujung-ujungnya, anggaran yang terbatas itu semakin sia-sia.

Padahal, Asian Winter Games bukan ajang yang mendesak dan penting untuk Indonesia. Pasalnya, tidak ada kejuaraan rutin dari cabang olahraga musim dingin di Indonesia.

”Bukannya tidak sayang dengan atlet, tetapi pengiriman atlet ke ajang multicabang musim dingin tidak mendesak dan penting untuk Indonesia. Dengan adanya efisiensi anggaran, pengiriman itu lebih baik ditiadakan dan anggarannya difokuskan ke kegiatan yang mendesak dan penting, seperti SEA Games dan Asian Games,” ujar Fritz.

Untuk SEA Games dan Asian Games, Fritz menuturkan, Kemenpora pun harus lebih ketat dalam pengiriman atlet. Dengen keterbatasan anggaran, atlet yang dikirim mesti yang betul-betul punya peluang meraih medali emas. Jangan lagi ada istilah memberangkatan atlet yang punya peluang perak atau perunggu karena sifatnya cenderung spekulasi.

Pemanjat Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi meraih emas dalam final nomor perseorangan atau speed panjat tebing putri Asian Games Hangzhou 2022 di Shaoxing Keqiao Yangshan Sport Climbing Centre, Provinsi Zhejiang, China, Selasa (3/10/2023). Desak meraih emas setelah di final mengalahkan atlet China, Deng Lijuan. Desak mencatatkan waktu 6,364 detik, sedangkan Deng mencatat waktu 6,435 detik. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 3-10-2023

”Kirimkan saja atlet-atlet yang betul-betul berpeluang meraih emas. Jangan yang peluang perak atau perunggu ikut berangkat karena akan menambah jumlah kontingen yang berangkat. Ujung-ujungnya, anggaran yang terbatas itu semakin sia-sia,” kata Fritz.

Selain itu, Fritz menyampaikan, Kemenpora jangan lagi membiayai kegiatan pengurus cabang yang tidak ada kaitannya dengan peningkatan prestasi. ”Biayakan saja kegiatan yang ada kaitannya untuk pembinaan, seperti pelatihan dan penyelenggaran kejuaraan agar anggaran yang terbatas tetap optimal untuk prestasi atlet,” tuturnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Adrian Fajriansyah, Rebbiyah Salasah
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase