Saat Siman mengucapkan perpisahan di SEA Games Thailand, Jason datang menyambut mahkota milik sang senior. Masa depan gaya punggung putra Indonesia tampak cerah.
12 Des 2025 20:54 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
I Gede Siman Sudartawa tersenyum lepas setelah turun dari podium dengan medali perunggu SEA Games Thailand 2025 yang menggantung di lehernya. Tak pernah dalam sepanjang kariernya yang cemerlang, perenang legendaris Indonesia itu begitu bahagia saat gagal berdiri di podium tertinggi. Dia bukan Siman seperti biasanya.
”Terakhir. Terakhir. Terakhir...,” yakin Siman soal penampilan di SEA Games. ”Sudah gimana, ya? Sudah happy dan puas melihat terakhir sudah back-up untuk nomor 50 (meter punggung). Aku kan terakhir yang kelahiran 90-an (di tim). Sudah saatnya tutup buku, book of 90’s, saatnya menyerahkan ke yang lain,” lanjutnya.
Jelas sudah, mengapa Siman tidak terlalu kecewa setelah final 50 meter punggung di Stadion SAT, Bangkok, Kamis (11/12/2025). Dia datang dengan niat berprestasi, tetapi sama sekali tidak membawa ambisi berlebih. Peraih sembilan emas SEA Games itu hanya ingin tampil semaksimal mungkin di panggung terakhirnya sebelum pensiun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/11/d0332953b3f115f8d5ebdd4abf61c705-FAK_0988.jpg)
Siman sudah berencana pensiun sebelum berangkat ke Thailand. Keputusan itu semakin bulat seusai berlomba. Usianya yang sudah 31 tahun tidak berbohong. Lihat saja di final, dia sempat memimpin lomba sampai 10 meter terakhir. Lalu, saat masuk momen penentu menjelang finis, dia kehilangan kekuatan maupun kecepatan.
Dari mengejar waktu, atlet asal Bali itu kini dikalahkan waktu. Pikirannya merasa masih bisa, tetapi tidak sinkron dengan tubuhnya. ”Aku sudah support dari banyak hal. Vitamin sudah ditambah, sekali minum bisa 15 kapsul, gym, recovery, segala macam, tetapi memang badannya sudah tidak support. Mau gimana lagi?,” ujarnya.
Saat sedang ngobrol santai, Siman tidak menampik, janji bonus emas sebesar Rp 1 miliar dari pemerintah memang sangat menggoda. Namun, dia tidak berani berpikiran ke arah sana. Alarm tubuhnya sudah berbunyi sejak awal tahun, saat dia mengalami problem cedera punggung dalam persiapan untuk SEA Games.
Sebenarnya Siman berniat pensiun di PON Aceh-Sumut 2024, seperti rekan-rekan seangkatannya Patricia Yosita Hapsari dan Gagarin Nathaniel Yus. Hanya, dia masih penasaran dengan SEA Games yang hanya berjarak sekitar setahun. ”Ternyata habis PON malah makin banyak kendala,” ujarnya sambil terkekeh.
Siman berkata, ada satu hal yang membuatnya yakin pensiun dengan lega. Itu adalah kehadiran suksesor yang dinanti-nanti sejak lama. Sosok tersebut muncul lewat perenang debutan 18 tahun Jason Donovan Yusuf yang langsung bersinar di SEA Games. Jason merebut dua emas hanya dalam dua hari pertama lomba.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/11/fd8bcb116cf012f7134b6af53e6327db-FAK_1076.jpg)
Salah satu emas Jason diraih di 50 meter punggung, nomor spesialis Siman. Siman yang merupakan peraih emas di nomor itu pada edisi Kamboja 2023, menyerahkan mahkota miliknya kepada Jason di Thailand. Adapun di podium malam itu, Jason berdiri tegak di posisi tertinggi dan Siman mendampinginya di sisi kiri.
Nyaris tidak ada yang bisa memperkirakan ledakan Jason, termasuk pelatihnya, Billy Arfianto. Siman berbeda. ”Aku bilang dari awal Jason ini bisa. Ternyata dia beneran bisa. Renang ini kan olahraga terukur. Jadi, dari awal tahun dia sudah ada progresnya naik terus. Tinggal tunggu waktu untuk sampai di titik itu,” jelas Siman.
Walaupun didapuk sebagai penerus Siman, Jason ternyata punya kepribadian yang sangat berbeda dengan seniornya itu. Siman dikenal ”hangat” dan supel terhadap semua orang, termasuk yang baru dikenal. Berbeda dengan Jason yang sangat ”dingin” dan tidak suka terlalu banyak bicara, terutama terhadap orang baru.
Sikap ”dingin” Itu terbawa hingga ke dalam kolam dan jadi hal positif. Bagi seorang perenang debutan, sangat sulit mengatasi tekanan besar di ajang multicabang seperti SEA Games. Namun, itu tidak berlaku untuk sang remaja, bisa dilihat dari betapa besar nyalinya saat meraih emas 50 meter dan 100 meter punggung.
Lawan Jason di dua nomor itu tidak tanggung-tanggung, yaitu perenang veteran Singapura Quah Zheng Wen yang sudah mengoleksi 32 emas SEA Games. Jason sama sekali tidak gentar. Dia tertinggal di babak kualifikasi dua kali beruntun, tetapi selalu mampu membalikkan keadaan di final.
Kuncinya adalah tampil tanpa beban. Jason belajar dari pengalaman di Islamic Solidarity Games 2025, November lalu. Dia sempat berekspektasi lebih untuk meraih medali, tetapi berujung antiklimaks. ”Aku lebih ke enjoy sih karena aku memang tidak menargetkan diri untuk medali. Hanya ingin lebih baik dari sebelumnya,” ujar remaja yang mengidolakan perenang olimpian Caeleb Dressel itu.
Jason hampir berhenti dari renang saat pandemi Covid-19, sekitar 2021. Ketika itu, banyak kolam terpaksa ditutup, termasuk klubnya Nautilus Aquatic. Teman-temannya banyak yang pindah klub. Namun, saat hendak berhenti, ada satu temannya yang bertahan dan mengajak untuk membuktikan diri. Dari titik itu, semangatnya muncul lagi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/11/6332c2727462ef01732ea7d4bd8da023-FAK_0050.jpg)
Performanya terus meningkat sejak itu, puncaknya di tahun ini. Mei lalu, Jason baru mencatat rekor nasional kelompok umur 1 (16-18 tahun) 50 meter punggung dengan catatan 25,47 detik. Dia mengubah peta rekornas yang semula didominasi Siman. ”Kehormatan buat aku bisa mengambil crown dari kak Siman dan meneruskan itu,” ujarnya.
Jason berlatih di klub Nautilus sejak usia enam tahun. Dia dibimbing oleh Billy, mantan perenang era 2000-an. Menurut sang pelatih, kelebihan Jason bukan hanya talenta fisik. Anak asuhnya itu juga pintar dalam memproses segala hal. Tidak jarang, Jason berargumen soal program latihan yang lebih efektif.
Menariknya, Billy ternyata menjadikan pelatih tim nasional Albert C Sutanto sebagai panutan. Albert adalah pelatih paling berpengaruh dalam karier Siman. ”Bonding atlet dan pelatih itu sangat penting. Bonding koh Albert dan Siman tight banget. Aku coba pelajarin itu. Aku juga minta Jason ambil yang bagus-bagus dari Siman,” tutur Billy.
Regenerasi resmi bersemi di Thailand. Tongkat estafet Siman akhirnya disambut oleh perenang muda. Terlepas dari itu, perayaan karier cemerlang ”si raja punggung” juga patut dirayakan. Dari bocah yang takut dengan air, Siman menyudahi karier sebagai perenang paling berpengaruh di Tanah Air dalam dua dekade terakhir.
Setelah pensiun, Siman akan fokus menjalani karier sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Pemuda dan Olahraga. Dia ingin menyokong renang dari ”dalam”. Pantas saja, Siman sempat mendampingi Menpora Erick Thohir saat berkunjung ke Stadion SAT. ”Kebetulan sekalian memperkenalkan diri, ha-ha-ha,” seloroh Siman.
Pembaca yang budiman, harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet, yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Kelvin Hianusa, dari Bangkok, ThailandEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase