”Teror” Gelombang Tambang di Konawe Selatan

Tambang nikel di Torobulu, Konawe Selatan, terus merangsek ke permukiman, sekolah, hingga sawah. Warga kian merasa mendapat teror dan cemas akan bayang masa depan.

17 Nov 2024 13:00 WIB · Lingkungan

Oleh Saiful Rijal Yunus

Raungan alat berat dari aktivitas pertambangan nikel kian merangsek ke sekitar Desa Torobulu, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Pesisir dibabat, berdampingan persawahan, hingga berdempetan sekolah dan permukiman. Gelombang tambang membuat dampak berkepanjangan, membuat warga tak berdaya, dan pemerintah tidak berbuat apa-apa.

Di sebuah lubang sedalam lebih dari 20 meter, tiga alat berat bekerja silih berganti. Dengung alat yang bekerja mengeruk ore nikel terdengar meraung, hingga ke persawahan dan permukiman di sekitarnya. Truk hilir mudik tiada henti membawa tumpukan tanah, suatu waktu di pertengahan Oktober lalu.

Berjarak sekitar 200 meter dari aktivitas itu, Wawan Kurniawan (40) berjalan cepat di pematang sawah miliknya. Ia menuju sungai kecil yang menjadi sumber air utamanya untuk bersawah dan beternak sapi. Ia khawatir air sungai kian keruh. Kali ini yang menjadi pembatas antara sawahnya dan lokasi penambangan nikel itu.

”Dilihat saja airnya keruh. Kadang juga berbusa. Padahal, sudah air ini yang kita pakai setiap hari,” tuturnya. Area persawahan di wilayah ini memang tidak bisa berharap banyak pada pengairan. Sebab, tidak ada sungai besar yang melintasi kawasan. Selain kali kecil, mereka juga berharap pada hujan.

Selama adanya aktivitas tambang nikel, debit air di kali yang menjadi sumber air utama lahannya terus menyusut. Warna air juga berubah keruh dan terkadang berbusa. Akibatnya, tanaman menjadi terdampak.

Wawan (40), menunjukkan air di sawahnya yang rusak pada Rabu (16/10/2024), di Mondoe, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Air yang tercemar diduga kuat akibat pertambangan nikel yang tepat berada di seberang sawanya.

Sejak tiga tahun terakhir, hasil panennya terus menurun. Hal itu utamanya setelah perusahaan tambang membuka lahan di dekat persawahannya. Terakhir kali panen pada September lalu ia mendapatkan 51 karung di sawahnya yang seluas 2 hektar. Totalnya sekitar 5 ton.

Sebelum tambang mendekati persawahannya, ia masih mendapatkan hasil panen sebanyak 10 ton. Dampaknya, pendapatan kian jauh berkurang.

Padi yang biasanya berbulir banyak dan tinggi mulai kerdil. Padahal, ia telah melakukan penyemprotan lebih sering dan pemupukan lebih banyak. Jika tidak, hama semakin mudah menyerang.

”Sudah pernah ada dari dinas yang datang dan cek air. Katanya jangan ambil untuk air yang dialiri tambang, tapi kami di sini sawah tadah hujan, mau ambil air dari mana. Kalau begini terus, nanti kami sudah tidak bisa menanam,” kata pria yang bertani sejak belia ini.

Tidak hanya sawah, ia khawatir air berdampak ke ternaknya. Sebanyak enam sapi ternaknya mati dalam kurung setengah tahun. Ia tidak mengetahui pasti apa penyebab matinya sapi-sapi tersebut. Ia curiga air yang diminum menjadi penyebab.

Matina (57) duduk di batang kayu yang melintang di kebun miliknya. Ia baru saja membersihkan gulma dan tanaman liar lainnya. Nenek lima cucu ini rencana untuk menanam sayur di lahan tersebut.

Area persawahan yang berbatas kali dengan penambangan nikel di Laeya, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, seperti terlihat pada Rabu (16/10/2024). Warga berulang kali protes pola penambangan PT Wijaya Inti Nusantara (WIN), namun berujung pelaporan di kepolisian.

Selain untuk memanfaatkan lahan, ia merasa pendapatan dari sawah dan ternaknya terus menurun. Dua sapinya mati beberapa bulan terakhir. Sembari menuju ke kali yang mengalir, ia menunjukkan warna air yang keruh kecoklatan

”Tidak hujan saja keruh. Kalau hujan, airnya jadi merah. Sudah ini sumber air kita selama ini. Tempat ambil air untuk sawah, untuk sapi,” ucap Matina.

Selama tiga tahun terakhir, hasil panen di sawahnya juga menurun drastis. Lahan seluas 1 hektar yang ditanaminya hanya menghasilkan 13 karung beras, atau sekitar 1 ton lebih. Padahal, dulu bisa mendapatkan hingga 4 ton. Sementara biaya tanam dan perawatan terus bertambah.

Quote

Tidak hujan saja keruh

Raungan di sekolah

Di SDN 12 Torobulu, ratusan anak berlarian, bermain bersama. Jam istirahat tiba. Berjarak 50 meter, tepat di belakang sekolah mereka, adalah lokasi penambangan nikel PT Wijaya Inti Nusantara (WIN). Alat berat bekerja mengeruk tanah dan mobil truk mengangkut tumpukan yang mengandung ore nikel tersebut.

Lokasi penambangan itu telah sedikit menjauh dari sebelumnya. Sekitar tiga tahun lalu, aktivitas penambangan berlangsung hanya berjarak 5 meter dari dinding kelas. Masyarakat protes hingga ramai.

Armin, Wali Kelas 6, menyampaikan, kian hari ia semakin khawatir akan dampak dari pertambangan di sekitar sekolah. Sebab, konsentrasi belajar menjadi terganggu dengan suara alat berat yang bekerja.

Tidak hanya itu, kenyamanan dan keamanan siswa juga menjadi perhatian. ”Saya khawatir dampaknya. Karena, kita saja yang guru rasakan,” katanya yang tampak berhati-hati memilih kata.

Salah seorang pengajar yang tidak ingin disebutkan namanya menceritakan, bukit di belakang sekolah awalnya setinggi atap ruang kelas. Namun, seiring penambangan dilakukan, bukit hilang dan telah rata dengan halaman sekolah. Jarak penambangan begitu dekat dengan ruang kelas dan mengganggu aktivitas belajar mengajar.

Perusahaan lalu menugaskan pekerja untuk membersihkan sekolah, menyapu, dan mengepel. Juga membagikan masker dan susu untuk anak selama beberapa waktu.

”Mereka kasih karena ada sesuatu yang terjadi. Masyarakat juga protes karena bising dan debu. Anak-anak batuk akibat debu,” tuturnya.

Quote

Saya khawatir dampaknya. Karena, kita saja yang guru rasakan.

Lokasi mata air warga Torobulu, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara yang dikellingi area penambangan PT Wijaya Inti Nusantara (WIN), Kamis (17/10/2024). Dampak pertambangan kian mendesak warga di wilayah ini.

Pertambangan di wilayah Torobulu mulai berlangsung sejak pertengahan 2000-an. Saat itu, satu perusahaan mulai membuka lahan untuk pertambangan nikel. Mereka mengolah di kawasan yang jauh dari permukiman hingga sumber air bersih warga.

Namun, beberapa tahun kemudian, perusahaan tersebut berhenti beroperasi dan beralih kepemilikan. Medio 2016, perusahaan yang baru mulai kembali beroperasi.

Saat itu, demam nikel mulai terjadi seiring program hilirisasi yang digagas oleh pemerintah. Sulawesi Tenggara adalah kawasan dengan cadangan nikel terbesar di Indonesia.

Perusahaan yang masuk adalah PT Wijaya Inti Nusantara (WIN), menggantikan perusahaan sebelumnya. Dilansir dari data Mineral One Data Indonesia (MODI) Kementerian ESDM, PT WIN memegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi dengan luas 1.931 hektar. Izin tersebut berlaku November 2019 hingga November 2029.

Lantang protes

Sejak perusahaan ini melakukan operasi produksi, suara protes terdengar lantang. Masyarakat memprotes cara dan teknik penambangan yang serampangan.

Alat berat bekerja di belakang sekolah, dekat permukiman, berdampingan persawahan, hingga menerabas hutan bakau yang jelas-jelas telah diatur sebagai hutan lindung. Laporan masyarakat ke penegak hukum seakan tiada arti.

Masyarakat yang protes lalu dilaporkan. Warga ingin tahu seperti apa analisis mengendai dampak lingkungan (amdal) perusahaan sehingga bisa menambang di mana saja. Namun, sebanyak 32 orang dilaporkan dengan tuduhan menghalang-halangi investasi. Sebanyak 16 di antaranya adalah perempuan.

Setelah pemeriksaan, dua warga, yaitu Haslilin dan Andi Firmansyah, menjadi tersangka meski kemudian bebas di pengadilan tingkat pertama.

Seorang warga menunjukkan lumpur dari pertambangan yang masuk ke dalam tambaknya, di Torobulu, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Selasa (15/10/2024). Dampak pertambangan kian mencemaskan warga di wilayah ini.

Tim Advokasi Rakyat Torobulu, antara lain dari LBH Makassar dan Trend Asia, menyatakan, dalam persidangan terungkap bahwa PT WIN sama sekali tidak melibatkan warga secara aktif dan tidak transparan dalam penyusunan amdal.

”Saat ini kita justru harus mempertanyakan sikap kepolisian dan jaksa, mengapa memproses laporan WIN yang sudah jelas merugikan warga,” kata Ady Anugraha, kuasa hukum terdakwa. Kasus ini masih berlanjut di tingkat kasasi.

Akan tetapi, hingga Minggu (17/11/2024), pihak PT WIN yang dihubungi tidak kunjung memberikan respons. Project Manager PT WIN M Nuriman Djalani yang dihubungi juga tidak banyak merespons permintaan wawancara.

Daftar pertanyaan yang dikirimkan tidak kunjung dijawab. Hal senada juga dilakukan Kasman Ruddin dari Humas PT Wijaya Inti Nusantara (WIN) yang dihubungi berulang kali dan tidak memberikan jawaban.

Kepala Desa Torobulu Nilham menuturkan, konflik antara perusahaan tambang dan masyarakat telah berulang kali dimediasi, tetapi tidak menemukan titik temu hingga berakhir di persidangan. Ia mengaku dilema akan situasi yang dihadapi saat ini.

Sebab, kehadiran perusahaan tambang berdampak banyak di wilayahnya. Secara dampak lingkungan, tentu akan ada karena aktivitas pembukaan lahan dibandingkan dengan sebelumnya. Namun, ia menekankan akan arti penting terhadap pertumbuhan ekonomi di desa.

”Ada 400 warga desa yang bekerja di tambang. Kalau berhenti, mereka mau makan apa? Cari uang di mana? Sementara mereka telah jual lahan ke perusahaan,” katanya.

Meski begitu, ia melanjutkan, kehidupan warga sebelum ada tambang tergolong relatif baik-baik saja. Warga mencari penghidupan sebagai nelayan, berkebun, dan wiraswasta.

Foto udara penambangan nikel di wilayah Torobulu, Konawe, Selatan, Sulawesi Tenggara, Rabu (16/10/2024).

Di sisi lain, ia menekankan tidak begitu tahu dengan detail teknik penambangan yang dilakukan perusahaan. Selama ia menjabat, juga belum pernah melihat dan mendengar sosialisasi tentang amdal yang dimiliki perusahaan.

Andi Firmansyah (42), inisiator gerakan protes masyarakat, menuturkan, sejak awal perusahaan tidak terbuka akan proses penambangan. Suara protes yang menanyakan amdal malah dilaporkan ke kepolisian. Padahal, warga hanya ingin mengetahui teknik pertambangan agar tidak berdampak ke lingkungan, termasuk kediaman.

”Yang kami pikirkan, ini tempat tinggal kami bagaimana ke depannya? Perusahaan sudah semakin ugal-ugalan dan tidak memikirkan dampak lingkungan. Kami tidak berpikir untuk berhenti menyuarakan apa yang menurut kami untuk kepentingan bersama di masa depan,” kata Firman yang turut menjadi terlapor dan menjalani persidangan.

Kini, sebagian warga terus bersuara akan dampak yang diderita. Bagi mereka, tambang hanya menawarkan gelimang sesaat, tetapi dampak yang setiap saat hingga ke anak cucu.


Kerabat Kerja

Penulis:

Saiful Rijal Yunus
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .