Teror Kepala Babi dan Respons Istana yang Nir-empati

Belum lagi pelaku teror pengirim kepala babi terungkap, kantor Redaksi ”Tempo” kembali dikirimi bangkai tikus dengan kondisi kepala terpenggal.

23 Mar 2025 13:20 WIB · Humaniora

Oleh Tatang Mulyana Sinaga

Teror terhadap Tempo berlanjut. Tiga hari setelah dikirimi kepala babi, kantor redaksi media tersebut kembali dikirimi kotak berisi enam bangkai tikus dengan kepala terpenggal, Sabtu (22/3/2025). Pesan ancaman itu nyata. Namun, respons Istana yang nir-empati sangat disayangkan.

Paket berisi kepala babi dikirim seorang kurir ke kantor Redaksi Tempo, Rabu (19/3/2025) pukul 16.15. Paket ditujukan kepada wartawan Tempo, Francisca Christy Rosana atau Cica. Namun, karena Cica tidak masuk kantor hari itu, ia baru menerimanya keesokan harinya sekitar pukul 15.00.

Bau menyengat tercium saat paket yang dibungkus kotak kardus dan dilapisi stirofoam itu dibuka. Kedua telinga babi dalam kondisi terpotong. Tidak ada identitas pengirim yang tertera. Kasus teror itu telah dilaporkan ke Bareskrim Polri.

Wakil Pemimpin Redaksi Tempo Bagja Hidayat mengatakan, kurir tersebut berada di kompleks kantor Tempo sekitar 10 menit. Kurir sempat membuka helm, menelepon, dan duduk di kursi. Bahkan, nama Cica sebagai penerima paket itu baru dituliskan ketika kurir tiba di kantor Tempo.

”Spidolnya pun pinjam dari satpam (kantor Tempo). Yang menakjubkan, kurir itu tahu nama panjang Cica walaupun ada satu huruf yang salah. Namanya kan Francisca, dia menulisnya Fransisca. Namun, penulisan nama Christy Rosana tidak salah,” ujarnya.

Teror terhadap Cica bukanlah yang pertama. Sebelumnya, orang tidak dikenal pernah mendatangi dan memfoto rumahnya di Yogyakarta. Hal ini pun sempat membuat ibunya ketakutan.

Wakil Pemimpin Redaksi Tempo Bagja Hidayat berbicara acara solidaritas untuk Tempo di Kantor Tempo, Jakarta, Jumat (21/3/2025). Sejumlah tokoh dan kelompok dari masyarakat sipil memberikan dukungan dan solidaritas kepada Tempo seusai mendapatkan teror berupa kiriman kepala babi pada Rabu (19/3/2025).  Kepala babi tersebut ditujukan kepada Francisca Christy Rosana atau Cica, wartawan desk politik dan host siniar Bocor Alus Politik. Kiriman berisi kepala babi itu baru dibuka pada Kamis (20/3/2025) atau sehari setelah dikirim. Atas kejadian tersebut, puluhan tokoh dari berbagai kalangan memberikan dukungan kepada Tempo dalam menghadapi aksi teror dan intimidasi tersebut.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
21-03-2025

Menurut Bagja, teror pengiriman kepala babi itu cukup terencana. Sebab, di hari yang sama saat paket itu dikirimkan, ada unjuk rasa di depan Gedung Dewan Pers. Unjuk rasa itu menuduh Tempo terafiliasi dengan kepentingan asing.

Belum lagi pelaku pengirim paket kepala babi terungkap, kantor Tempo kembali dikirimi bangkai binatang. Sabtu (22/3/2025), petugas kebersihan Tempo menemukan kotak berisi enam bangkai tikus dengan kondisi kepala terpenggal.

Berdasarkan pemeriksaan rekaman kamera pengawas atau CCTV, paket itu dilempar orang tak dikenal dari luar pagar kompleks kantor Tempo pada pukul 02.11. Rentetan teror ini merupakan serangan sistematis terhadap pers.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers mendesak kepolisian untuk mengusut, membongkar, dan mengadili pelaku teror tersebut. ”Kami mengecam aksi intimidasi oleh siapa pun yang menjadi dalang di belakangnya yang melakukan penghalang-halangan kerja jurnalistik,” ujar Direktur LBH Pers Mustafa dalam keterangan pers.

Wartawan melakukan kerja-kerja jurnalistik sebagai bentuk pengawasan dan kontrol (checks and balances) serta pengejawantahan tugasnya sebagai pilar keempat demokrasi. Jadi, segala bentuk intimidasi dan ancaman yang dilakukan merupakan penghalang-halangan kerja pers yang dapat berakibat pada pelanggaran hak atas jaminan rasa aman bagi jurnalis serta hak publik atas informasi.

Quote

Teror pengiriman kepala babi itu cukup terencana.

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo memerintahkan penyelidikan kasus teror kepala babi di kantor Redaksi Tempo. Dia meminta agar jajarannya segera melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap kasus yang sudah dilaporkan ke Bareskrim Polri itu.

”Kaitan dengan peristiwa di media Tempo, saya sudah perintahkan kepada Kabareskrim untuk melaksanakan penyelidikan lebih lanjut. Saya kira kita semua tentunya akan memberikan pelayanan yang terbaik untuk bisa menindaklanjuti hal tersebut,” kata Listyo di Medan, Sumatera Utara, Sabtu.

Tak bisa disepelekan

Banyak pihak mengecam teror tersebut. Bahkan, sejumlah perwakilan organisasi masyarakat sipil mengunjungi kantor Tempo untuk memberikan dukungan solidaritas, Kamis (20/3/2025). Mereka datang sambil membawa mawar putih dan merah.

Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang juga Presidium Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), Sumarsih, mengaku sangat prihatin terhadap teror yang dialami Tempo. Ia berharap pers Indonesia tetap teguh mengawal pemerintahan.

Aktivis HAM Maria Catarina Sumarsih (dua dari kanan) berbicara di acara solidaritas untuk Tempo di Kantor Tempo, Jakarta, Jumat (21/3/2025). Sejumlah tokoh dan kelompok dari masyarakat sipil memberikan dukungan dan solidaritas kepada Tempo seusai mendapatkan teror berupa kiriman kepala babi pada Rabu (19/3/2025).  Kepala babi tersebut ditujukan kepada Francisca Christy Rosana atau Cica, wartawan desk politik dan host siniar Bocor Alus Politik. Kiriman berisi kepala babi itu baru dibuka pada Kamis (20/3/2025) atau sehari setelah dikirim. Atas kejadian tersebut, puluhan tokoh dari berbagai kalangan memberikan dukungan kepada Tempo dalam menghadapi aksi teror dan intimidasi tersebut.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
21-03-2025

”Semoga mawar putih menjadi lambang ketulusan kita dalam mengarungi perjalanan perjuangan mengawal jalannya pemerintahan dan mawar merah menjadi semangat kepada Tempo untuk berpihak kepada rakyat yang tertindas,” ucapnya.

Teror terhadap Tempo tak bisa disepelekan. Sebab, ancaman itu bisa menebar ketakutan kepada para wartawan dan pers dalam menjalankan kerja jurnalistiknya, termasuk mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggap keliru.

Salah satu pendiri Lokataru Foundation, Nurkholis Hidayat, menuturkan, teror terhadap Tempo merupakan serangan fatal dan tak bisa dibiarkan. ”Insan jurnalis tetap menulis kritis. Sikap kritis sangat diperlukan di tengah situasi saat ini. Bagi yang menyerang, kami tidak takut. Mari tetap menjalankan peran kita menjaga negara ini,” katanya.

Di tengah teror yang berpotensi mengancam kebebasan pers itu, respons Istana justru dinilai minim empati. Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi menilai, tak ada gangguan terhadap kebebasan pers. Terkait dengan pengiriman kepala babi ke Redaksi Tempo, dia sempat berseloroh, ”Udah dimasak aja” (Kompas.id, 21/3/2025).

Buku Mencintai Munir karya Suciwati. Buku tersebut dibedah di Universitas Brawijaya Malang pada Jumat (14/10/2022).

Jika menilik ke belakang, teror menggunakan bangkai binatang tak bisa diremehkan. Teror semacam ini pernah dialami Suciwati, istri aktivis HAM, Munir, pada 2004. Ia dikirimi paket berisi bangkai potongan kepala, cakar, jeroan, dan kotoran ayam.

Pada bagian dalam kotak stirofoam paket itu tertempel secarik kertas dengan tulisan bernada mengancam, ”Awas!!!!! Jangan Libatkan TNI dalam kematian Munir. Mau menyusul seperti ini?!” (Kompas, 21/11/2004).

Ketua Dewan Pers Ninik Rahayu meminta kepolisian mengusut tuntas pelaku teror kepada Tempo. Ia mengatakan, teror terhadap pers merupakan bentuk kekerasan dan premanisme.

”Kami berharap betul tindakan kekerasan dan intimidatif yang dilakukan pihak tak bertanggung jawab agar diungkap karena bisa mencederai demokrasi dan kerja profesional para jurnalis,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Tatang Mulyana Sinaga
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .