BerandaHiburanThe Monkey, Boneka Monyet...

The Monkey, Boneka Monyet Penebar Maut

Film horor benda terkutuk penebar maut tak kalah seram dibandingkan subgenre sejenis lainnya. Kisah The Monkey juga hadirkan kisah trauma masa kecil dalam keluarga.

06 Mar 2025 10:31 WIB · Hiburan

Oleh Wisnu Dewabrata

The Monkey

Memiliki koleksi barang yang mengandung kutukan, apalagi sampai bisa membahayakan jiwa pemilik serta orang-orang di sekelilingnya, tentu bukan sesuatu yang diinginkan, bahkan oleh seorang kolektor sekalipun.

Jika perlu, begitu tahu ada barang seperti itu ada dalam kepemilikan seseorang semestinya akan langsung cari cara untuk segera melenyapkannya. Namun, bagaimana jika keberadaan benda terkutuk itu sulit atau malah menolak disingkirkan?

Hal itulah yang menjadi plot utama film The Monkey (2025) garapan sutradara Osgood Perkins. Film yang diadaptasi dari cerita pendek karya ”Begawan” cerita-cerita horor asal Amerika Serikat, Stephen King.

Seperti judulnya, film Osgood berkisah tentang ”perjalanan” boneka mainan berbentuk monyet seram penabuh drum. Boneka bermata besar dan senyum menyeringai itu digerakkan secara mekanik, dengan kunci pegas di bagian belakang tubuhnya.

The Monkey

Seusai kunci diputar boneka monyet akan bergerak seolah menabuh drum dengan kedua tangannya, yang memegang stik pemukul. Masalahnya, setelah tabuhan berhenti, sesuatu mengerikan terjadi dan sampai merenggut korban jiwa.

Seseorang di sekitar boneka atau pemiliknya akan tewas begitu saja. Sebuah kematian secara acak, tiba-tiba, sangat mengerikan, dan sama sekali di luar nalar.

Quote

Ayah si kembar diceritakan seorang pilot yang tak jelas keberadaannya, hanya meninggalkan sejumlah barang pribadi di dalam lemari rumah.

Semua peristiwa mengerikan itu diceritakan dialami dua bocah kembar, Bill dan Hal Shelburn (Christian Convery), tak lama setelah mereka menemukan boneka monyet tadi dari lemari mendiang ayahnya. Keduanya hanya dibesarkan sang ibu tunggal, Lois (Tatiana Maslany).

Ayah si kembar diceritakan seorang pilot yang tak jelas keberadaannya, hanya meninggalkan sejumlah barang pribadi di dalam lemari rumah. Boneka seram terkutuk tersebut ditemukan tersimpan dalam sebuah kotak di dalam lemari oleh Hal dan Bill.

Mereka tak sengaja memainkannya. Tak lama berselang sebuah kematian mengerikan menimpa pengasuh anak, Annie (Danica Dreyer). Kematian mengerikan itu terjadi saat mereka bersama tengah makan malam di sebuah restoran Jepang di mana sang koki menampilkan keterampilan bermain pisau tajam.

The Monkey

Kematian fatal mengerikan berikut terjadi dan menimpa sang ibu lagi-lagi tanpa diduga. Peristiwa mengenaskan itulah yang kemudian menjadi awal mula perseteruan dua anak kembar Shelburn hingga dewasa (sama-sama diperankan Theo James).

Quote

Boneka kera terkutuk itu belakangan diketahui memang haus darah dan sialnya juga tak dapat ditebak.

Semua bepusat pada kemarahan Bill, yang meyakini sang ibu tewas tertimpa kutukan yang dipicu saudara kandungnya, Hal. Padahal keduanya sempat bersama-sama berupaya merusak dan membuang boneka tersebut ke dalam sumur demi menghentikan rangkaian kematian acak mengerikan terjadi.

Boneka kera terkutuk itu belakangan diketahui memang haus darah dan sialnya juga tak dapat ditebak. Dia akan membunuh siapa saja tanpa bisa dikontrol, apalagi diminta atau diarahkan.  

Trauma keluarga

Film ini pada dasarnya juga bercerita tentang trauma yang terjadi dalam keluarga seperti digambarkan lewat karakter Hal. Saat dewasa Hal, yang kemudian hidup terpisah dari saudara kembarnya, menjadi sangat tertutup soal latar belakang dan masa kecilnya.

The Monkey -- Lois (Tatiana Maslany).  (Arsip Atomic Monsters)

Selain lantaran kerap dirundung saudara kembarnya, Hal juga trauma menghadapi berbagai kematian tak masuk akal, yang mengikuti keberadaan boneka monyet tersebut. Dia menghindari segala hal terkait masa lalunya, terutama untuk melindungi anak semata wayangnya, Petey (Colin O’Brien).

Hal tak ingin Petey berpotensi menjadi korban kutukan boneka monyet, yang sepengetahuannya sudah terkubur dalam sebuah sumur. Masalahnya sebuah kematian mengerikan seperti di masa lalu kembali terjadi dan menimpa sang bibi, Ida (Sarah Levy).  

Hal yang mendapat hak warisan diminta mengurus ke rumah dulu dirinya dan Bill dibesarkan setelah kematian sang ibu. Masalahnya di saat sama dia juga harus mengasuh Petey jelang bercerai dari sang istri, padahal dia tak ingin putranya tahu masa lalunya.

The Monkey

Dalam kehidupan nyata, Osgood sendiri memiliki sejarah keluarga yang rumit dan tragis. Mengutip laman www.theguardian.com, ayah Osgood, aktor Psycho, Anthony Perkins, meninggal karena pneumonia terkait AIDS pada tahun 1992. Sementara ibunya, Berry Berenson, adalah seorang penumpang dalam penerbangan 9/11 yang dibajak.  

Boleh jadi dengan latar belakang itulah yang justru mendorong Osgood bergulat dengan masalah, yang mendalam dan sangat praktis. Juga terkait pertanyaan-pertanyaan bagaimana kita bisa tetap hidup ketika kematian terjadi tanpa pandang bulu, tak terelakkan, dan terjadi di mana-mana?

Horor komedi gelap

Secara garis besar, kisah di film ini bercerita tentang trauma masa kecil seseorang, dalam hal ini kembar Hal dan Bill. Trauma yang terbawa hingga masa dewasa mereka. Akan tetapi, yang menarik, sang sutradara tampak tak ingin terlalu menjadikan plot cerita itu terlalu serius.

The Monkey

Dalam menggambarkan kengerian-kengerian serta alur cerita yang ada, Osgood malah menggunakan sebuah pendekatan unik. Alih-alih sekadar memanfaatkan adegan kejutan (jump scare) khas film horor, Osgood coba menciptakan ”ramuan” sendiri.

Dia mengolah dan menampilkan kengerian dalam adegan kecelakaan-kecelakaan fatal di sepanjang film justru dengan pendekatan humor atau candaan berkategori gelap (dark jokes). Padahal berbagai insiden berdarah yang terjadi lumayan sadis alias berkategori gore.

Salah satunya ketika dia sendiri tampil secara cameo memerankan karakter Paman Chip, yang juga tewas secara mengenaskan. Paman kedua kembar itu tewas saat tengah berkemah di alam terbuka.

Quote

Adegan biasanya diawali hal sepele, yang memicu urut-urutan kejadian lain sampai berujung pada klimaks berupa kematian tragis, brutal, penuh darah, dan organ yang terpotong atau hancur.

Paman Chip tewas di dalam kantong tidurnya saat 67 ekor kuda liar melintas dan ”melindas” tenda berikut orang di dalamnya. Sang paman tewas dengan jasad hancur tak berbentuk. Semua korban tewas akibat kutukan boneka kera tadi dalam kondisi sama, mengenaskan.

Lebih lanjut, sejumlah penggambaran peristiwa kecelakaan menyeramkan yang terjadi juga mengingatkan orang pada film horor sekuel terkenal tahun 2000, Final Destination.

The Monkey

Adegan biasanya diawali hal sepele, yang memicu urut-urutan kejadian lain sampai berujung pada klimaks berupa kematian tragis, brutal, penuh darah, dan organ yang terpotong atau hancur.

Pendekatan Osgood ternyata dipuji sang penulis cerita asli, Stephen King. King mengaku sangat puas menonton The Monkey garapan Osgood berikut pendekatan horor gelap yang dilakukannya. Dalam wawancaranya dengan akun ComingSoon.net, Osgood mengaku sangat senang atas tanggapan King terhadap karya filmnya.

Menurut Osgood, filmnya itu ibarat cara dirinya menyenangkan penonton. Walau film horor, Osgood ingin para penonton tetap bisa menikmatinya dengan gembira. Dia bahkan mengibaratkan sajian filmnya satu ini seolah dirinya menyajikan makan malam dengan menu-menu lezat pilihan walau dalam bentuk potongan-potongan kecil.

”Semua orang yang makan malam lantas (bisa) menikmatinya dengan riang, berteriak, lalu tertawa-tawa, begitu seterusnya (terjadi). Mereka menikmati film ini sebagai sebuah hiburan. Saya memang ahlinya dalam hal ini,” ujar Osgood bergurau sambil nyengir lebar.

Osgood dikenal dengan beberapa karya horornya yang sukses. Tahun lalu karyanya Longlegs (2024) banyak dipuji orang. Film horor sukses garapan Osgood lainnya, seperti Gretel & Hansel (2020). Ketiga film tersebut sama-sama mengandung unsur adegan-adegan gore.

Catatan : Artikel merupakan kolaborasi dengan peserta magang harian Kompas, Giofanny Sasmita, Jurnalistik, Universitas Multimedia Nusantara.


Kerabat Kerja

Penulis:

Wisnu Dewabrata
 | 

Editor:

Moh. Hilmi Faiq
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari