Di film terbaru karya sutradara Robert Ronny, kerumitan seputar perjodohan dan percintaan diangkat secara romantis, juga sedikit jenaka.
20 Feb 2025 12:30 WIB · Hiburan
Hidup, mati, jodoh, dan urusan jatuh cinta manusia sudah ditentukan Tuhan. Akan tetapi, sering kali terjadi, dalam soal-soal duniawi, seperti salah satunya urusan mencari jodoh, semua bisa berubah rumit atau malah jadi tak masuk akal akibat terlalu banyak campur tangan manusia.
Di film terbaru karya sutradara Robert Ronny, The Most Beautiful Girl in the World (2025), kerumitan seputar perjodohan dan percintaan itu diangkat secara romantis, juga sedikit jenaka.
Kisahnya diawali dari hubungan tak akur antara ayah dan anak di sebuah keluarga berada. Sang ayah, seorang konglomerat ”tajir mlintir” pemilik jaringan media massa, Gunadi Wiraatmadja (Bucek Depp), tak akur dengan anak tunggalnya, Reuben Wiraatmadja, diperankan oleh aktor Reza Rahadian.
Hubungan tegang dan dingin di antara keduanya, terutama dipicu oleh perceraian sang ayah saat Reuben masih kecil. Perceraian tersebut berujung pada kepergian sang ibu, Anna (Ira Wibowo), dari kehidupan mereka.
Reuben yang terluka secara psikologis berubah menjadi anak pemberontak dan sinis. Saat dewasa, dia juga menjadi playboy lantaran menganggap hubungan cinta tulus dan setia adalah sesuatu yang percuma dan hanya kebohongan belaka.
Baginya, sebesar apa pun cinta pada pasangan dan selama apa pun hubungan mereka, sewaktu-waktu bisa berpisah dan saling meninggalkan. Menurut Reuben, tak ada yang namanya cinta sejati dan kesetiaan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/19/66a6547cababe2d00c533e9b34dd2c34-MBG_Cast_Reveal_07.jpg)
Ketegangan memuncak saat Gunadi meninggal mendadak akibat serangan jantung. Namun, sebelum meninggal, dia membuat surat wasiat sebagai jalan terakhir untuk mencoba ”memperbaiki” kesalahannya terhadap Reuben.
Gunadi merasa bersalah lantaran telah memberi ajaran dan kesan buruk pada putra semata wayangnya itu terkait dengan hubungan percintaan dan pernikahan akibat kegagalannya berumah tangga. Dia ingin Reuben bisa memperbaiki kesan dan pemahaman yang salah tentang itu.
Caranya, dalam satu-satunya pesan wasiat, Gunadi menginginkan Reuben menikah dengan seorang perempuan tercantik di dunia. Hal itu harus bisa terlaksana dalam waktu enam bulan jika ingin mempertahankan statusnya sebagai pewaris tunggal harta kekayaan keluarga Wiraatmadja.
Walau awalnya menentang permintaan terakhir mendiang, Reuben memilih untuk tetap mempertahankan hak warisnya. Dia lantas mencari cara dengan bantuan anak buah kepercayaan sekaligus teman dekatnya, Jimmy (Kevin Julio).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/19/ef9ffbb02b8f86edae1919a8ec63ed5f-MBG_First_Look_Together.jpg)
Atas ide Reuben, mereka berencana mengubah dan memanfaatkan acara realitas (reality show) di stasiun televisi miliknya yang berperingkat tinggi dan sangat digemari penonton (meski penuh settingan). Lewat acara televisi itu, Reuben berencana menyeleksi calon istrinya.
Masalahnya, dia tak bisa menerapkan strategi settingan serupa saat akan memanfaatkan acara itu untuk hal seserius mencari jodoh bagi dirinya sendiri. Tambah lagi, Reuben juga tak suka dengan acara televisi yang, menurut dia, manipulatif dan penuh tipu daya.
Pilihan soal siapa yang diberi tanggung jawab untuk merombak acara tersebut sesuai dengan kebutuhan jatuh kepada Kiara Clarissa (Sheila Dara Aisha), seorang wakil produser ambisius dan berani ”melawan” Reuben. Singkat cerita, Kiara berhasil memenuhi keinginan Reuben sampai ujungnya memunculkan peserta pemenang, Helen Kusuma (Jihane Almira Chedid).
Reuben bahkan memilih sendiri Helen sebagai pemenang kontes tersebut. Acara arahan Kiara dianggap sukses dan Reuben beserta segenap kru dan Helen merayakannya di atas kapal pesiar mewah (yacht).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/19/0a72dbbd5afcdacfce90796a04d0ea14-MBG_Cast_Reveal_04.jpg)
Malangnya, kecelakaan akibat ombak besar membuat Reuben dan Kiara terdampar di pulau tak berpenghuni selama berhari-hari. Selama berada di sana, keduanya semakin dekat dan saling mengenal satu sama lain.
Dari keadaan saling memahami dan bersimpati selama di pulau terpencil itu, belakangan tumbuh bibit-bibit rasa suka di antara keduanya. Meski begitu, keadaan berubah menjadi lebih rumit ketika keduanya kemudian berhasil diselamatkan dan kembali ke kehidupan nyata.
Setelah hampir 18 tahun, akhirnya naskah ini bisa diwujudkan di tahun 2024.
Baik Reuben maupun Kiara sama-sama harus berusaha melupakan apa yang sebelumnya terjadi saat mereka terdampar. Tentu hal itu tak mudah bagi keduanya. Pada tahap itulah alur cerita menjadi semakin menarik untuk disimak.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/19/106ea55014150491ddcf517a747b2e99-MBG_Second_Look_Bonfire.jpg)
Dalam catatan produksinya sang sutradara berkisah bahwa naskah cerita yang ditulisnya itu sempat ”mengendap” sangat lama, nyaris dua dekade. Ide ceritanya berasal dan terinspirasi dari pengalaman Robert saat bekerja di salah satu stasiun televisi swasta.
Oleh Robert, naskah ceritanya itu sudah beberapa kali ditawarkan ke sejumlah rumah produksi. Dua di antaranya mengaku tertarik, tetapi belakangan menyerah lantaran menilai sulit direalisasikan.
Hal itu terutama terkait adegan yang membutuhkan adanya pengambilan gambar di atas kapal pesiar serta adegan terdampar di sebuah pulau terpencil. Keduanya dinilai membutuhkan biaya besar sehingga pihak-pihak yang semula tertarik memilih mundur.
”Baru sekitar tahun 2021, sewaktu pandemi Covid-19, Netflix sepakat bergabung di proyek ini. Setelah hampir 18 tahun akhirnya naskah ini bisa diwujudkan di tahun 2024,” papar Robert, seperti tercantum dalam nota produksinya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/19/2f5bce47f733127ec3161ce02a5d5621-20250213_183706.jpg)
Namun, sayangnya, jeda masa yang sangat lama, sejak awal ide dan naskah ditulis hingga terwujud kemudian, juga berdampak pada alur cerita. Saat awal ditulis, sekitar dua dekade lalu, era pertelevisian masih sangat berjaya.
Pada masa itu, penghitungan rating alias jumlah penonton yang menyaksikan satu program acara televisi sangat berpengaruh, terutama pada perolehan dari iklan. Logikanya, dengan rating tinggi, akan semakin banyak calon pengiklan yang berdatangan.
Sementara saat ini, era pertelevisian dan media massa konvensional lainnya telah memasuki masa ”matahari terbenam” alias sunset. Di era serba digital dan media sosial seperti saat ini, popularitas lebih dinilai dari seberapa viral tayangan tersebut. Begitu juga dengan konten atau peristiwa lainnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/19/368ef4cf2d890bcb4c19cba2ac39e028-Cast_Photo_2.jpg)
Boleh jadi, hanya para penonton dari kalangan milenial ke atas yang bisa paham tentang konsep rating dan popularitas acara realitas televisi seperti digambarkan dalam film Robert kali ini. ”A lot of things have changed,” tulis Robert.
Namun, ada satu isu yang tetap relevan sampai kapan pun, yaitu ketika Robert mengangkat tema perempuan dan penghargaan terhadap masalah-masalah perempuan.
Meski ini film ringan, semoga bisa jadi titik awal berdiskusi.
”Saya aslinya serius. Buat saya membuat film genre apa pun harus dimulai dari keresahan kreatornya. Meski ini film ringan, semoga bisa jadi titik awal berdiskusi. Mungkin saat menonton bareng pasangan bisa sekalian bahas image perempuan di media atau apa arti kecantikan,” ujar Robert seusai pemutaran perdana (premiere) film komedi romantisnya itu, Kamis (13/2/2025), di Metropole XXI Jakarta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/19/bf2cec1ba294885efebbd88602040b11-Press_Conference_19.jpg)
Menurut Robert, di negeri patriarki seperti Indonesia, orang harus terus berusaha untuk selalu bersikap adil terhadap perempuan. Sebagai seorang pria yang peduli pada isu tersebut, Robert mengaku punya banyak keleluasaan untuk mengangkat hal tersebut, termasuk dengan menggugatnya lewat film yang dia buat.
Keberpihakan dan kepeduliannya terhadap isu perempuan pulalah yang, menurut Robert, membuatnya melibatkan perempuan penulis naskah Titien Wattimena sebagai teman berdiskusi.
”Untuk memastikan point of view perempuan terjaga, sedangkan untuk membuat naskah cerita ini jadi lebih lucu, saya juga melibatkan Ifan Ismail. Soalnya, selera humor saya aneh. Apa yang saya rasa lucu ternyata belum tentu dianggap (lucu) sama oleh orang lain. Ha-ha-ha,” tambah Robert.
Lantas, seperti apa akhir kisah Reuben, sang pewaris tunggal konglomerat bisnis media dalam mencari cinta yang diidamkannya? Akankah kisahnya berujung klise atau justru penuh kejutan? Silakan tonton sendiri di kanal Netflix.
Penulis:
Wisnu DewabrataEditor:
Dwi AS SetianingsihPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .