Dari keadilan sosial hingga kejayaan sepak bola, Evita, Maradona, dan Messi terus hidup dalam ingatan kolektif Argentina.
17 Jun 2026 12:30 WIB · Olahraga
Getty Images via AFP
Peluit pertandingan belum berbunyi, tetapi suasana di Buenos Aires sudah terasa seperti pesta. Kafe-kafe mulai penuh, restoran memasang layar besar, dan orang-orang berdatangan mengenakan jersei biru-putih. Anak-anak hingga orang tua mengambil tempat di depan televisi untuk menyaksikan Argentina kembali bermain di Piala Dunia 2026.
Harapan itu terjawab dengan cara yang meyakinkan. Argentina membuka langkahnya di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan 3-0 atas Aljazair. Hasil tersebut bukan hanya menghadirkan tiga poin bagi juara bertahan, tetapi juga memperpanjang keyakinan Argentina untuk kembali melangkah jauh. Di berbagai sudut Buenos Aires, kemenangan itu dirayakan seperti sebuah pesta kecil yang menghidupkan optimisme lama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/e61d4dac27065663fd1cf81a04f4b76c-1000954267.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/1daed029bf7acb68fa74b55991ae5047-1000954265.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/717f2af22a00985e12dfbacf432c22c8-1000954268.jpg)
Bagi banyak warga Argentina, sepak bola tidak pernah sekadar olahraga. Di negara yang berkali-kali diguncang krisis ekonomi dan pergolakan politik, sepak bola bertaut dengan sejarah, identitas, dan harapan. Ketika setiap kali tim nasional bertanding, yang hadir bukan hanya sebelas pemain di lapangan, melainkan juga ingatan kolektif tentang perjalanan sebuah bangsa.
Ingatan tersebut dapat dibaca melalui tiga sosok yang mewakili Argentina dalam lintasan sejarah yang berbeda. Wajah pertama adalah Eva Perón atau Evita, perempuan yang menjadi simbol keadilan sosial ketika rakyat mencari harapan. Meski meninggal pada 1952, pengaruhnya tetap hidup hingga kini. Wajah Evita masih menghiasi berbagai sudut Buenos Aires, sementara kisah tentang keberpihakannya kepada kaum pekerja terus diwariskan dari generasi ke generasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/f06187c53d81dd5624413816824c5fb9-1000954272.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/829b30a5e4d375ff8999fe4377aa4639-1000954276.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/a1364a59fbe436c5e304c72914770719-1000954271.jpg)
Wajah kedua adalah Diego Maradona, tokoh yang menghadirkan kebanggaan ketika Argentina membutuhkan harga diri. Lahir dan tumbuh di Villa Fiorito, kawasan miskin di pinggiran ibu kota, Maradona menjelma menjadi salah satu pesepak bola terbesar sepanjang masa. Gelar juara dunia 1986 dan gol yang dikenal sebagai ”Tangan Tuhan” menjadikannya lebih dari sekadar pesepak bola. Ia adalah simbol tentang bagaimana seorang anak dari pinggiran kampung miskin mampu mengangkat martabat bangsanya di panggung dunia.
Wajah ketiga adalah Lionel Messi yang mengajarkan ketekunan dan kesabaran. Berbeda dengan Maradona yang penuh gejolak, Messi dikenal tenang dan cenderung menjauh dari sorotan di luar lapangan. Selama bertahun-tahun, ia menghadapi kritik karena dianggap gagal membawa Argentina meraih gelar besar bersama tim nasional.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/eda66d4c00d8bfcec683a534c5cb0c58-1000954264.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/96b51315f1e4d4908239aa92c1b173bd-1000954266.jpg)
Namun, Messi terus bertahan hingga akhirnya mengangkat trofi Piala Dunia di Qatar pada 2022. Bagi rakyat Argentina, kemenangan itu terasa lebih besar daripada sepak bola. Setelah penantian panjang, Messi melengkapi kisah yang selama ini terasa belum selesai dan menjelma menjadi simbol bahwa keberhasilan tidak selalu datang kepada mereka yang paling cepat, melainkan kepada mereka yang terus berusaha.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/a98f3f6ad30f9dfa5f40d156437c3552-1000954269.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/64577dc50af834e4d45e54c561347333-1000954263.jpg)
Jika Evita berbicara tentang harapan sosial dan Maradona menghadirkan kebanggaan nasional, Messi menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan Argentina hari ini.
Ketika Argentina bermain di Piala Dunia, ketiga sosok itu seolah ikut hadir di tribune, kafe, restoran, dan jalan-jalan tempat rakyat merayakan kemenangan. Evita, Maradona, dan Messi adalah tiga wajah yang berbeda, tetapi bersama-sama membentuk satu cerita panjang tentang Argentina.
Penulis:
Raditya Mahendra YasaEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase