Kecerobohan pemain Meksiko dan Afrika Selatan, ditambah dengan penilaian berlebihan wasit, sukses menghasilkan kekacauan di laga pembuka. Drama itu hanyalah awal.
12 Jun 2026 05:37 WIB · Olahraga
AFP
MEXICO CITY, KAMIS — Laga pembuka Piala Dunia 2026 antara tuan rumah Meksiko dan Afrika Selatan terasa begitu absurd, lebih banyak kartu merah yang tercipta dibandingkan gol. Di balik kekacauan itu, Meksiko mampu mengawali turnamen dengan penampilan yang sangat dominan.
Tuan rumah menang 2-0 atas Afsel dalam laga perdana Grup A di Stadion Mexico City, Meksiko, Jumat (12/6/2026) WIB. Walaupun hujan gol seperti akan terjadi setelah pemain sayap Julian Quinones menjebol gawang lawan pada menit ke-8, jumlahnya di laga itu masih kalah dari total kartu merah (3).
Afsel diganjar dua kartu merah terlebih dulu. Pertama untuk gelandang bertahan Yaya Sithole pada menit ke-50 setelah menjegal Brian Gutierrez yang tinggal berhadapan dengan kiper.
Lalu, giliran pemain pengganti Themba Zwane yang diusir saat waktu normal tersisa enam menit.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/12/176d4c82c3650e38e76bd6ee2d436035-wires_photo_2026_06_12T051711.638.jpg)
Zwane melakukan gerakan tambahan saat melewati pemain Meksiko Roberto Alvarado. Wasit asal Brasil, Wilton Sampaio, awalnya tidak melihat adanya pelanggaran serius. Namun, Sampaio berubah pikiran setelah berdiskusi dengan asisten wasit video (VAR). Zwane diganjar kartu merah langsung.
”Kartu merah pertama, saya rasa kami tidak perlu berkomentar apa pun tentang itu. Namun, kartu merah kedua, pemain Meksiko menghalangi pemain saya. Hal itu bisa terjadi. Wasit memutuskan hal lain. Jadi, agak disayangkan kami harus menyelesaikan laga dengan sembilan pemain,” kata Pelatih Afsel Hugo Broos.
Meksiko seolah tidak mau ketinggalan. Saat seharusnya bisa mengontrol laga dengan posisi unggul 2-0 dan 11 versus 9 pemain, mereka justru kecolongan serangan balik cepat.
Bek Cesar Montes dihukum kartu merah karena menjatuhkan Khuliso Mudau yang sedang bergerak ke arah kotak penalti.
Menurut mantan pemain tim nasional Inggris Gary Neville, insiden kartu merah Meksiko bisa diperdebatkan.
”Pelanggarannya keras, tetapi apakah dia menghalangi peluang mencetak gol yang jelas? Sulit mencetak gol dari posisi itu,” katanya kepada Sky Sports.
Rekor baru pun tercipta. Untuk pertama kalinya, menurut data BBC Sport, terdapat tiga kartu merah dalam laga pembuka Piala Dunia.
Menariknya, jumlah itu sudah hampir menyamai total kartu merah dari 64 pertandingan di dua edisi sebelumnya, yaitu Qatar 2022 dan Rusia 2018 (4).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/12/12f1606e8faf5897e4e9cdb2af3580e9-South_Africa_Mexico_WCup_Soccer.jpg)
Wasit Sampaio telah memberikan standar yang rendah untuk hukuman kartu merah pada laga pembuka. Standar itu akan menjadi pembanding bagi para pemain ataupun wasit pada laga-laga selanjutnya. Sangat wajar jika jumlah kartu merah di turnamen kali ini segera melampaui edisi-edisi sebelumnya.
Terlepas dari kekacauan itu, Meksiko mampu menunjukkan dominasi di depan dukungan sekitar 83.000 penonton. Mereka tidak memberi tim lawan untuk berkembang sepanjang permainan. Afsel hanya mampu menghasilkan tiga tembakan, tanpa ada peluang besar yang tercipta.
Meksiko sudah mengancam dengan tekanan pertahanan blok tinggi sejak menit-menit awal. Itu pula yang menginspirasi gol pembuka mereka.
Afsel kehilangan bola di pertahanan sendiri akibat blunder Sithole yang berupaya membangun serangan dari bawah. Kesalahan itu dimanfaatkan Quinones.
Quinones menjadi pemain paling cemerlang di kubu ”El Tri”. Pencetak gol terbanyak di Liga Arab Saudi bersama klub Al-Qadsiah itu juga hampir menggandakan keunggulan menjelang turun minum, tetapi tembakannya membentur tiang. Dia sering kali bergerak ke tengah dari posisi sayap.
Setelah unggul jumlah pemain pada awal paruh kedua, tim asuhan Pelatih Javier Aguirre sempat kehilangan ritme. Dua pemain pengganti pun langsung dimasukkan, salah satunya pemain termuda di turnamen kali ini, yaitu Gilberto Mora yang baru berusia 17 tahun 240 hari.
Hanya berselang semenit selepas pergantian, penyerang veteran Raul Jimenez mencetak gol pertamanya di Piala Dunia. Pemain 35 tahun itu menyudahi paceklik gol setelah ikut serta di tiga edisi. Jimenez terlihat emosional, sempat menangis saat selebrasi di hadapan para pendukung.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/12/8dd096e5eef8fc9c0237d3b6c70a9312-wires_photo_2026_06_12T025049.999.jpg)
Lagi-lagi, gol kedua itu juga berasal dari kegigihan Meksiko saat tanpa penguasaan bola. Proses gol bermula dari Jimenez yang mencuri bola di separuh lapangan lawan.
Pencurian itu berujung transisi serangan balik kilat. Laga pun seolah sudah tamat setelah tuan rumah mampu unggul dua gol.
”Kami benar-benar mengucapkan selamat kepadanya karena dia memberikan banyak kontribusi kepada tim. Menjadi bagian dari tim adalah kebanggaan kami dan sungguh luar biasa dia terus menambah gol dalam kariernya sebagai pemain di tim nasional,” kata Quinones tentang Jimenez.
Dengan hasil itu, Meksiko memiliki modal awal untuk lolos dari babak grup. Meskipun begitu, mereka akan dirugikan pada laga selanjutnya karena kehilangan Montes yang merupakan bek inti.
”Dikeluarkan dari lapangan adalah kesalahan yang semestinya bisa dihindari,” kata Quinones. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Nur Adji