Longsor Banjarnegara, 19 Orang Masih Dicari

Sebanyak enam korban longsor ditemukan dalam operasi pencarian yang dilakukan di Banjarnegara hingga Kamis malam. Sebanyak 19 orang belum ditemukan.

20 Nov 2025 18:17 WIB · Lingkungan

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO

Oleh Kristi Dwi Utami

SEMARANG, KOMPAS — Operasi pencarian korban bencana tanah longsor di Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Kamis (20/11/2025) atau hari kelima, kembali membuahkan hasil. Hingga Kamis petang, enam korban dan satu bagian tubuh ditemukan. Sebanyak 19 korban lain yang dilaporkan hilang masih dalam pencarian.

Hingga Kamis siang, petugas berhasil mengevakuasi enam korban di Desa Pandanarum. Tiga dari enam korban itu ditemukan di dua area pencarian berbeda, yakni sektor A2 dan C2 pada pukul 10.40 WIB, lalu pukul 11.00 WIB, dan pukul 12.50 WIB.

Enam korban yang jasadnya tertimbun tanah dengan kedalaman 0,5 meter hingga satu meter itu dievakuasi kemudian diindetifikasi. Dari proses identifikasi diketahui bahwa tiga orang itu adalah Esiah (22), Maruni (54), dan Karti (64). Adapun yang lain masih dalam proses identifikasi.

Dengan penemuan enam korban dan satu bagian tubuh tersebut, total korban meninggal dunia dalam bencana longsor di Pandanarum menjadi sembikan orang. Sementara 19 orang yang dilaporkan hilang masih dalam proses pencarian.

”Tim pencarian dan pertolongan atau SAR gabungan harus berpacu dengan waktu untuk mencari mengingat cuaca mendung dan dikhawatirkan hujan. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatilogi, dan Geofisika (BMKG) Banjarnegara, untuk cuaca di wilayah Pandanarum diprediksi hujan ringan sampai lebat akan turun pada siang hingga sore hari dua hari ke depan,” kata Kepala Kantor SAR Semarang, Budiono, Kamis.

Menurut dia, proses pencarian korban pada Kamis dilakukan secara manual dan dengan bantuan 12 ekskavator. Dengan bantuan alat berat, proses pencarian korban diharapkan bisa dilakukan lebih cepat dan jumlah korban yang ditemukan lebih banyak.

Posko penanganan darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Desa Pandanarum mencatat, 934 jiwa dari 335 keluarga mengungsi akibat bencana tersebut. Mereka tersebar di lima titik pengungsian, yakni di Kantor Kecamatan Pandanarum, Gedung Olahraga Desa Beji, Gedung Haji Desa Pringamba, Gedung Muhammadiyah, serta rumah kerabat atau saudara.

Operasi pencarian korban bencana tanah longsor di Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah pada Kamis (20/11/2025). Hingga Kamis siang, tiga jenazah ditemukan oleh tim pencari.

Dalam keterangannya, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menyebut, pihaknya telah melakukan kajian cepat terkait dampak bencana longsor tersebut. Dari kajian itu diketahui bahwa 182 unit rumah terdampak. Rinciannya, 128 unit rusak ringan dan 54 unit rusak berat.

”Kerusakan juga terjadi pada infrastruktur desa yang meliputi jalan sepanjang lebih kurang 800 meter, jaringan listrik, saluran irigasi sepanjang 670 meter, bendung satu unit, dan infrastruktur irigasi perpipaan. Satu unit masjid rusak berat dan dua mushala rusak ringan atau terancam,” ujar Abdul.

Kerugian akibat bencana tanah longsor tersebut juga timbul pada sektor ekonomi. Sebanyak 5 ekor sapi, 125 ekor kambing, 14 unit warung, dan lahan pertanian rusak atau hilang tertimbun material longsor.

Abdul menyebutkan, kebutuhan mendesak bagi para pengungsi meliputi popok anak balita, perlengkapan mandi, pakaian, susu dan makanan anak, hygiene kit, antiseptik, alas tidur, alat kebersihan, alat pelindung diri (sepatu boot, sarung tangan, dan kacamata keselamatan), serta layanan pendampingan psikososial. BNPB disebut segera memenuhi kebutuhan dasar tersebut, sebagaimana perintah Kepala BNPB Suharyanto.

Warga dibantu sukarelawan menyelamatkan barang mereka dari lokasi bencana tanah longsor di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, Jawa Tengah, Rabu (19/11/2025). Pada hari itu total korban meninggal yang sudah ditemukan  menjadi 3 orang dan 25 warga lainnya masih dalam pencarian.

Diperpanjang

Sementara itu, operasi pencarian di lokasi longsor Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap berlanjut. Pada Rabu (19/11/2025) operasi pencarian memasuki hari ketujuh. Operasi itu memungkinkan untuk diakhiri, tetapi diputuskan bersama untuk diperpanjang tiga hari, mulai Kamis (20/11/2025).

”Setelah evaluasi bersama keluarga korban, instansi pemerintah, dan unsur SAR yang terlibat, maka operasi pencarian dinyatakan diperpanjang tiga hari. Semoga kami benar-benar dapat memaksimalkan pencarian tiga korban lain agar dapat segera ditemukan,” kata Muhamad Abdullah, selaku SAR Mission Coordinator.

Hingga Rabu, jumlah korban meninggal dalam longsor di Desa Cibeunying mencapai 20 orang. Tiga orang yang masih dicari adalah Maysarah Salsabila (14), Vani Hayati Lanjarsari (12), dan Fatin Ayu Rengganis (2). Pencarian tiga orang itu difokuskan di sektor A1 dan B1.  

Di samping pencarian, pemerintah berupaya menangani ratusan korban selamat yang kini masih mengungsi. Hingga Kamis (20/11/2025) tercatat 350 jiwa mengungsi di tiga titik pengungsian, yaitu Balai Desa Cibeunying, MTs SS Cibeunying, dan Masjid Wanasari. Kemudian ada warga yang mengungsi di rumah saudaranya.

Petugas berjibaku dalam pencarian korban bencana tanah longsor Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jateng, Rabu (19/11/2025). Hingga Kamis (20/11/2025) operasi pencarian masih berlanjut karena masih ada 3 korban yang belum ditemukan.

Dalam bencana tersebut, 16 unit rumah rusak berat dan 16 unit rumah dalam kondisi terancam. Dalam waktu dekat, sekitar 296 keluarga yang rumahnya rusak maupun dalam kondisi terancam bakal direlokasi ke hunian sementara (huntara).

Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman telah menyiapkan lahan seluas 3,9 hektar untuk pembangunan huntara dan hunian tetap (huntap). Lahan tersebut berada di Desa Jenang, Kecamatan Majenang. Lokasinya sekitar sekitar dua kilometer dari Desa Cibeunying.

Lahan yang direncanakan digunakan untuk tempat relokasi itu sudah diajukan ke Badan Geologi untuk dicek kondisinya. Berdasarkan tanggapan dari Badan Geologi pada Selasa (18/11/2025), lokasi itu dinilai aman.

Infografik-Longsor di Desa Cibeunying, Kec Majenang, Kab Cilacap, Jawa Tengah

Untuk memastikan pembangunan huntara dan huntap sesuai konsep build back better and safer pada lahan relokasi, tim dari Badan Geologi akan segera diberangkatkan untuk melakukan penyelidikan geologi di lapangan.

Pembangunan huntara itu disebut akan dipercepat agar warga yang berada di pengungsian segera mendapatkan tempat tinggal yang lebih baik.

Abdul mengatakan, selain membantu pembangunan huntara untuk korban longsor di Cilacap, BNPN juga menawarkan opsi kepada para pengungsi untuk melakukan pengungsian mandiri dengan cara mengontrak rumah atau tinggal bersama kerabat.

”Untuk pilihan ini, masyarakat terdampak dapat memanfaatkan dana tunggu hunian sebesar Rp 600.000 per bulan per keluarga selama enam bulan,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kristi Dwi Utami
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase