Delapan korban ditemukan di Dusun Cibuyut hingga Sabtu siang. Dengan begitu, jumlah korban meninggal akibat longsor Majenang menjadi 11 orang.
15 Nov 2025 16:00 WIB · Lingkungan
DOKUMENTASI KANTOR SAR CILACAP
JAKARTA, KOMPAS — Tim pencarian dan penyelamatan atau SAR gabungan menemukan delapan korban longsor Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada pencarian Sabtu (15/11/2025). Semuanya sudah dalam kondisi meninggal. Jumlah korban meninggal akibat longsor Majenang menjadi 11 orang dan 13 lainnya masih dicari.
”Delapan korban ditemukan dalam kondisi meninggal. Mereka langsung dievakuasi ke RSUD Majenang,” kata S Amelia dari Humas Kantor SAR Cilacap mewakili Kepala Kantor SAR Cilacap Muhamad Abdullah, Sabtu (15/11/2025) sore.
Identitas delapan korban itu, terdiri dari Rusyanto (60) yang ditemukan pukul 14.21 WIB di worksite A-1 atau wilayah kerja bagian satu di Dusun Cibuyut. Kemudian, Muhammad Hafiz (6) ditemukan pukul 10.06 WIB, Nur Isnaini (30) ditemukan pukul 10.44 WIB, dan Asmanto (70) ditemukan pukul 14.40 WIB. Ketiganya ditemukan di worksite A-2.
”Dari worksite A-3, ditemukan jasad Febriansyah (5) pada pukul 13.39 WIB, Rizky Pratama Ramdan (9) pada pukul 13.43 WIB, Dani Setiawan (29) pada pukul 13.45 WIB, dan Satini (28) pada pukul 14.22 WIB,” ujar Amelia.
Penemuan delapan korban itu menambah daftar jumlah korban meninggal akibat longsor Majenang menjadi 11 orang. Tiga korban tewas pertama ditemukan pada Jumat (14/11/2025) siang. Para korban bernama Maya Dwi Lestari (15), Julia Lestari (20), dan Yuni (45) berasal dari Dusun Tarukahan.
Jumlah korban hilang tersisa yang masih dicari 13 orang per Sabtu sore, terdiri dari tujuh orang di Cibuyut (worksite A) dan enam orang di Tarukahan (worksite B). Korban hilang itu tersebar di lima worksite, terdiri dari dua orang di worksite A-1 dan lima orang di worksite A-2. Lalu, empat orang di worksite B-1 dan dua orang di worksite B-2.
Abdullah sebelumnya mengatakan, operasi SAR terus dilakukan oleh ratusan personel gabungan dari Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, sukarelawan dari berbagai instansi, dan masyarakat setempat. Untuk mengoptimalkan proses, tim SAR gabungan mulai menerjunkan 9 anjing pelacak dan 9 alat berat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/14/0733e6b6-c271-4a4c-8c19-647cc9ebe288_jpg.jpg)
Anjing pelacak itu didatangkan dari Kantor SAR Cilacap dan Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah, sedangkan alat berat dikerahkan sejumlah unsur instansi. ”Anjing pelacak dan alat berat ini diterjunkan untuk membantu proses SAR di lapangan,” kata Abdullah.
Abdullah menuturkan, tim SAR gabungan dan segenap sumber daya atau peralatan penunjang disebar ke lima worksite tersebut. ”Kami terus memperkuat koordinasi lintas instansi untuk memastikan kebutuhan para personel di lapangan terdistribusi dengan baik, termasuk logistik, peralatan, dan dukungan medis,” tuturnya.
Longsor menerjang Desa Cibeunying di Kecamatan Majenang, Kamis (13/11/2025) sekitar pukul 20.00. Berdasarkan data Kantor SAR Cilacap, BPBD Jawa Tengah, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada dua dusun yang terdampak, yaitu Tarukahan dan Cibuyut.
Selain korban meninggal dan hilang, longsor menyebabkan tiga korban luka-luka, yaitu Maya, Haryanto, dan Andi. Mereka telah dibawa ke RSUD Majenang untuk penanganan medis. Sebanyak 23 jiwa selamat dan telah mengungsi ke rumah kerabat terdekat.
Di samping itu, longsor juga menyebabkan kerugian material. Ada 12 rumah rusak berat karena tertimbun material longsor dan 16 rumah di Tarukahan dan Cibuyut dalam status terancam longsor.
Cuaca seperti ini sangat berisiko karena dapat memicu longsor susulan. Tantangan ini harus disikapi dengan bijak agar tidak menimbulkan korban tambahan.
Longsor itu terjadi akibat hujan deras yang mengguyur sejak Kamis siang dan kondisi tanah yang tidak stabil. Material longsor bukan hanya menimbun permukiman, melainkan juga menyebabkan penurunan tanah sedalam lebih kurang 2 meter dan retakan dengan panjang mencapai 25 meter. Total luasan area terdampak sekitar 6,5 hektar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/14/af3903cd-6a26-4588-b897-552671ddc1a0_jpg.jpg)
Deputi Bidang Penanganan Darurat (Deputi 3) BNPB Budi Irawan mengatakan, sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto, semua komponen terkait diperintahkan memberikan dukungan penuh dalam upaya penanganan darurat bencana longsor di Majenang. BNPB akan memastikan seluruh komponen terkait bergerak bersama dalam upaya tersebut.
BNPB pun membawa kekuatan tambahan dan melengkapi gap yang masih diperlukan dalam rangkaian penanganan darurat, mulai dari operasi SAR hingga fase pemulihan. ”Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD provinsi dan Basarnas terkait kebutuhan mendesak dalam operasi SAR. Kami akan membantu semua keperluan selama golden time (periode emas SAR),” ujar Budi saat memimpin rapat koordinasi di Majenang, Jumat malam.
Sejauh ini, cuaca yang tidak bersahabat dan tanah yang masih labil menjadi tantangan operasi SAR. Bahkan, operasi SAR dihentikan sementara pada Jumat pukul 16.30 WIB karena hujan dengan intensitas tinggi kembali turun. ”Cuaca seperti ini sangat berisiko karena dapat memicu longsor susulan. Tantangan ini harus disikapi dengan bijak agar tidak menimbulkan korban tambahan,” kata Budi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/14/dbdae69ce6d672a8cfa658e3bc7427dc-Screenshot_20251114_081139.png)
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan, berdasarkan prakiraan cuaca, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpotensi terjadi hampir merata di wilayah Majenang hingga Minggu (16/11/2025). Itu bisa meningkatkan faktor risiko longsor. Apalagi topografi wilayah Majenang berbentuk cekungan sehingga sangat berisiko terdampak longsor.
Kombinasi cuaca buruk dan topografi yang berisiko itu pula yang disinyalir menjadi penyebab longsor Majenang kemarin. Untuk itu, BNPB mengimbau tim SAR gabungan ataupun masyarakat di sekitar untuk selalu waspada terhadap kemungkinan longsor susulan. ”Jika hujan turun dengan intensitas tinggi lebih dari satu jam, semuanya diimbau agar segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman,” kata Abdul.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari