Tim SAR Gabungan Kerahkan 9 Anjing Pelacak dan 9 Alat Berat di Lokasi Longsor Majenang

Pengerahan itu untuk mencari 20 korban hilang. Anjing pelacak dan alat berat disebar ke lima wilayah kerja di dua dusun terdampak.

15 Nov 2025 10:35 WIB · Lingkungan

DOKUMENTASI KANTOR SAR CILACAP

Oleh Adrian Fajriansyah

JAKARTA, KOMPAS – Memasuki hari ketiga pascalongsor Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, tim pencarian dan penyelamatan gabungan mengerahkan 9 anjing pelacak dan 9 alat berat untuk membantu pencarian 20 korban hilang. Anjing pelacak dan alat berat itu disebar ke lima wilayah kerja di dua dusun yang terdampak.

Kepala Kantor SAR Cilacap Muhamad Abdullah, Sabtu (15/11/2025), mengatakan, operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) terus dilakukan oleh 512 personel gabungan dari Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, sukarelawan dari berbagai instansi, hingga masyarakat setempat. Untuk mengoptimalkan proses, tim SAR gabungan pun mulai menerjunkan 9 anjing pelacak dan 9 alat berat.

Anjing pelacak itu didatangkan dari Kantor SAR Cilacap dan Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah, sedangkan alat berat didatangkan dari sejumlah unsur instansi. ”Anjing pelacak dan alat berat ini diterjunkan untuk membantu proses SAR di lapangan,” ujar Abdullah.

Warga melihat lokasi terdampak tanah longsor hingga menimbun rumah warga di Desa Cibeunying, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (14/11/2025). Bencana tanah longsor yang terjadi pada Kamis (13/11/2025) malam itu menyebabkan 16 rumah tertimbun, tiga orang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan 20 lainya masih dalam proses pencarian. ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/agr

Abdullah menuturkan, tim SAR gabungan dan segenap sumber daya atau peralatan penunjang disebar ke lima wilayah kerja (worksite) di dua dusun terdampak, yakni Dusun Cibuyut (worksite A) dan Dusun Tarukahan (worksite B). Setidaknya ada 14 orang yang hilang di Cibuyut, meliputi 3 orang di worksite A-1, 7 orang di worksite A-2, dan 4 orang di worksite A-3.

Sisanya, 6 orang hilang di Tarukahan, meliputi 4 orang di worksite B-1 dan 2 orang di worksite B-2. ”Kami terus memperkuat koordinasi lintas instansi untuk memastikan kebutuhan para personel di lapangan terdistribusi dengan baik, termasuk logistik, peralatan, dan dukungan medis,” kata Abdullah.

Berdasarkan data Kantor SAR Cilacap, BPBD Jawa Tengah, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), longsor menerjang Desa Cibeunying di Kecamatan Majenang, Kamis (13/11/2025) sekitar pukul 20.00. Ada dua dusun yang terdampak, yaitu Tarukahan dan Cibuyut.

Peristiwa itu menyebabkan tiga korban tewas per Jumat (14/11/2025) siang, yakni Maya Dwi Lestari (15), Julia Lestari (20), dan Yuni (45). Semuanya berasal dari Tarukahan. Sebaliknya, 20 orang belum ditemukan, terdiri dari 6 orang di Tarukahan dan 14 orang di Cibuyut.

Quote

Anjing pelacak dan alat berat ini diterjunkan untuk membantu proses SAR di lapangan.

Ada pula tiga korban yang mengalami luka-luka bernama Maya, Haryanto, dan Andi. Mereka telah dibawa ke RSUD Majenang untuk penanganan medis. Sebanyak 23 jiwa selamat dan telah mengungsi ke rumah kerabat terdekat.

Selain menimbulkan korban jiwa, longsor itu juga menyebabkan kerugian materiil. Ada 12 rumah rusak berat karena tertimbun material longsor dan 16 rumah di Tarukahan dan Cibuyut dalam status terancam longsor.

Longsor itu terjadi akibat hujan deras yang mengguyur sejak Kamis siang dan kondisi tanah yang tidak stabil. Material longsor bukan hanya menimbun permukiman, melainkan juga menyebabkan penurunan tanah sedalam kurang lebih 2 meter dan retakan dengan panjang mencapai 25 meter. Total luasan area terdampak sekitar 6,5 hektar.

Longsor mengubur dua belas rumah di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada Jumat (14/11/2025).

Dukungan penuh

Deputi Bidang Penanganan Darurat (Deputi 3) BNPB Budi Irawan menuturkan, sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto, semua komponen terkait diperintahkan memberikan dukungan penuh dalam upaya penanganan darurat bencana longsor di Majenang. Karena itu, BNPB akan memastikan seluruh komponen terkait bergerak bersama dalam upaya tersebut.

BNPB pun membawa kekuatan tambahan dan melengkapi gap yang masih diperlukan dalam rangkaian penanganan darurat, mulai dari operasi SAR hingga fase pemulihan. ”Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD provinsi dan Basarnas terkait kebutuhan mendesak dalam operasi SAR. Kami akan membantu semua keperluan selama golden time (periode emas SAR),” ucap Budi saat memimpin rapat koordinasi di Majenang, Jumat malam.

Alat berat mengevakuasi lokasi longsor di Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (13/11/2025) malam. Sebanyak 21 orang masih dicari.

Sejauh ini, cuaca yang tidak bersahabat dan tanah yang masih labil menjadi tantangan operasi SAR. Bahkan, operasi SAR dihentikan sementara pada Jumat pukul 16.30 WIB karena hujan dengan intensitas tinggi kembali turun.

”Cuaca seperti ini sangat berisiko karena dapat memicu longsor susulan. Tantangan ini harus disikapi dengan bijak agar tidak menimbulkan korban tambahan,” ujar Budi.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyebutkan, berdasarkan prakiraan cuaca, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpotensi terjadi hampir merata di wilayah Majenang hingga Minggu (16/11/2025). Itu bisa meningkatkan faktor risiko longsor. Apalagi topografi wilayah Majenang berbentuk cekungan sehingga sangat berisiko terdampak longsor.

Kombinasi cuaca buruk dan topografi yang berisiko itu pula yang disinyalir menjadi penyebab longsor Majenang kemarin. Untuk itu, BNPB mengimbau tim SAR gabungan ataupun masyarakat di sekitar untuk selalu waspada terhadap kemungkinan longsor susulan.

”Jika hujan turun dengan intensitas tinggi lebih dari satu jam, semuanya diimbau untuk segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman,” kata Abdul.


Kerabat Kerja

Penulis:

Adrian Fajriansyah
 | 

Editor:

Irma Tambunan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul