Tiga Momen Penting dari Debut Manis Igor Tudor di Juventus

Kebebasan Kenan Yildiz, lalu mengembalikan ”grinta” dan identitas pragmatis merupakan bekal tumbuhnya harapan baru Juventus bersama Igor Tudor.

30 Mar 2025 14:49 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Pergantian pelatih dari Thiago Motta ke Igor Tudor mengembalikan Juventus ke jalur kemenangan. Gol tunggal dari sensasi baru asal Turki, Kenan Yildiz, di menit ke-25 memastikan tiga poin ”Si Nyonya Besar” atas Genoa, Minggu (30/3/2025) WIB, di Stadion Allianz Arena, Turin.

Hasil itu membantu Juve bertahan di peringkat kelima untuk memanaskan persaingan posisi keempat dengan Bologna. Satu poin menjadi pembeda Juve dengan zona Liga Champions.

Dengan menyisakan delapan pertandingan di musim ini, Juve haram menyia-nyiakan poin lagi agar menjaga harapan tampil di kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa. Sekaligus, mereka mendapatkan jaminan mengemas tambahan dana bonus penampilan Liga Champions yang tak tertandingi dari kompetisi mana pun.

Gelandang Genoa, Koni de Winter, berjuang memperebutkan bola dari penguasaan gelandang Juventus, Teun Koopmeiners, pada gim Liga Italia, Minggu (30/3/2025) WIB, di Stadion Allianz Arena. Juve unggul 1-0.

Di luar kemenangan yang dipersembahkan Tudor, setidaknya ada tiga hal yang bermakna lebih besar dari sekadar kemenangan dari penampilan perdana tim di bawah asuhan Tudor. Jika bisa mempertahankan tiga momen penting itu, Tudor berpeluang besar memenuhi target manajemen Si Nyonya Besar untuk finis di zona empat besar.

Kebebasan Kenan Yildiz

Tudor mengembalikan Juve dengan formasi tiga bek tengah. Juru taktik asal Kroasia itu mengubah taktik 4-2-3-1 pada masa kepemimpinan Motta.

Di lini depan, Tudor mengembalikan Dusan Vlahovic dalam susunan 11 pemain utama. Sebelumnya, Vlahovic memulai tiga pertandingan terakhir Juve sebelum jeda internasional dari bangku cadangan. Ia bahkan tidak bermain ketika Juve dilibas Fiorentina 0-3, 17 Maret lalu.

Selain Vlahovic, peran lebih krusial juga diemban Yildiz. Tudor memberikan kebebasan kepada pemain bernomor 10 itu untuk menjelajah ke setiap jengkal zona pertahanan Genoa.

Meski memulai formasi awal dari sisi kiri, Yildiz kerap bergerak di sisi tengah dan sisi kanan. Gol tunggalnya ke gawang Genoa, yang merupakan gol kelima di Liga Italia musim ini, merupakan buah dari aksi individu Yildiz dari sisi kanan lini serang Juve. Yildiz hanya mencatatkan satu tembakan yang langsung berbuah gol.

Penyerang Juventus, Kenan Yildiz, melepaskan tembakan yang berbuah gol pada gim kontra Genoa, Minggu (30/3/2025) WIB, di Stadion Allianz Arena. Yildiz menjadi pemain kedua Juve yang mencetak lima gol di Liga Italia sebelum menginjak 20 tahun.

Tudor juga menyuntikkan kepercayaan diri lagi kepada pemain berusia 19 tahun itu. Selain mampu mengakhiri paceklik gol sejak derbi Turin, 12 Januari lalu, Yildiz juga menghadirkan ancaman melalui aksi dribelnya.

Empat dribel sukses menjadikan Yildiz sebagai pemain yang paling banyak sukses melewati lawan di gim pekan ke-30 itu. Salah satu dribel sukses itu menjadi awal bagi gol Yildiz. Catatan dribel sukses itu melampaui rerata dua dribel suksesnya per laga di Liga Italia 2024-2025.

Quote

Saya berterima kasih kepada Thiago Motta yang telah memberikan segalanya, tetapi Tudor memberikan energi baru untuk tim.

Setidaknya laga kontra Genoa mengembalikan sentuhan brilian Yildiz. Ia kembali menunjukkan kelayakannya mengenakan seragam nomor 10 di Juventus nan ikonik serta menjadi ”wajah” baru bagi Juve saat ini dan di masa depan.

Statistik Kenan Yildiz pada laga menghadapi Genoa.

Tak hanya dalam menyerang, Yildiz juga bekerja keras dalam skema bertahan Juve. Catatan delapan kemenangan duel menunjukkan dirinya memiliki peran penting dalam permainan Si Nyonya Besar di bawah asuhan Tudor. Di musim ini, Yildiz catatkan rata-rata tujuh kemenangan duel.

Kepada DAZN, Yildiz mengakui gol ke gawang Genoa adalah salah satu gol paling indahnya. Tidak hanya mengecoh tiga pemain Genoa, Yildiz juga menggetarkan jala gawang Genoa melalui sepakan dari sudut sempit di sisi kiri gawang tim tamu.

”Kami senang, kami adalah grup yang hebat dan harus melanjutkan performa ini. Saya berterima kasih kepada Thiago Motta yang telah memberikan segalanya, tetapi Tudor memberikan energi baru untuk tim,” tutur Yildiz.

Kenan Yildiz, penyerang Juventus, mendribel bola untuk melewati bek Genoa, Alessandro Zanoli, pada laga Liga Italia, Minggu (30/3/2025) WIB, di Stadion Allianz Arena. Juve menang berkat gol tunggal Yildiz.

”Grinta” ala Tudor

Tudor adalah pelatih Juve kedua yang berstatus mantan pemain di era kejayaan akhir 1990-an hingga dekade pertama 2000-an setelah skandal calciopoli. Antonio Conte telah membuktikan pentingnya seorang pelatih Juve memahami mentalitas juara tim.

Tudor, yang membela Juve selama sembilan musim pada periode 1998-2007, mengembalikan grinta alias determinasi khas Juventus yang memudar dalam beberapa musim terakhir. Tudor membuktikan itu dengan berperan memberikan bola kepada Teun Koopmeiners untuk melepaskan lemparan ke dalam cepat yang mengawali gol Yildiz.

Pemain Terbaik Kroasia 2001 itu juga sangat menggebu-gebu di pinggir lapangan selama 90 menit. Ia sangat ekspresif menyaksikan anak asuhannya berlaga. Teriakannya juga menggema dalam beberapa kesempatan.

Ia juga tidak segan berargumen dengan wasit ketika menyaksikan keputusan sang pengadil merugikan timnya. Sikapnya itu berbuah kartu kuning di menit ke-47.

Pelatih Juventus Igor Tudor berargumen dengan wasit Antonio Rapuano pada gim debutnya di Liga Italia menghadapi Genoa, Minggu (30/3/2025) WIB, di Stadion Allianz Arena. Tudor dihukum kartu kuning akibat insiden itu.

Di akhir pertandingan, Tudor menghampiri satu per satu pemain Juve dan memeluk mereka dengan erat sekaligus memberikan kata-kata apresiasi. Pada masa pemanasan sebelum sepak mula, Tudor juga mendampingi skuad Juve di dalam lapangan.

Sikap menggebu-gebu dan teriakan motivasi itu sudah tidak lagi terlihat sejak Juve di asuh Conte atau pada periode pertama bersama Massimiliano Allegri.

Tudor sangat puas dengan kemenangan perdana menangani Juve. Menurut dia, laga melawan Genoa dijalani timnya dengan sangat sulit karena hanya sempat menjalani dua sesi latihan. Skuad Juve juga tengah dalam kondisi mental dan psikologi terpuruk setelah dua kekalahan dari Atalanta dan Fiorentina dengan agregat skor 0-7.

Kehadiran Tudor dan performa Juve itu disambut tepuk tangan oleh suporter yang memadati Allianz Arena setelah peluit akhir.

”(Sambutan pendukung) Itu momen yang sangat bagus, tetapi kemenengan membuat segalanya lebih baik,” ujar Tudor, yang pernah menjadi asisten pelatih Juve di era Andrea Pirlo pada 2020-2021, dilansir Tuttosport.

Identitas pragmatis kembali

Satu hal lagi yang amat penting dari kesan pertama Juve di bawah kendali Tudor adalah mengembalikan gaya pragmatis alias kemenangan lebih utama dibandingkan permainan indah dan menyerang.

Bersama Motta, Juve mengoleksi rerata 58,4 persen penguasaan bola. Namun, dominasi permainan itu tidak berbanding lurus dengan hasil akhir. Juve terseok-seok dalam persaingan zona Liga Champions, lalu tersingkir di Liga Champions dan Piala Italia.

Bek Juventus, Lloyd Kelly, berduel perebutan bola dengan gelandang Genoa, Patrizio Masini, pada laga Liga Italia, Minggu (30/3/2025) WIB, di Stadion Allianz Arena. Selain menang, Juve catatkan nirbobol pada gim pertama bersama Igor Tudor.

Menghadapi Genoa, Si Nyonya Besar hanya catatkan 49 persen penguasaan bola. Meski begitu, Juve mengkreasi serangan yang lebih efektif berkat kreasi tiga peluang besar dengan catatan 0,94 expected goals (xG).

Genoa yang hasilkan tiga tembakan tepat sasaran hanya mencatatkan 0,36 xG. Trio pertahanan Juve yang diisi Federico Gatti (digantikan Pierre Kalulu), Renato Veiga, dan Lloyd Kelly tampil tanpa cela.

Pelatih Juventus Igor Tudor berdiskusi dengan bek Renato Veiga dan penyerang Dusan Vlahovic sesudah laga menghadapi Genoa, Minggu (30/3/2025) WIB, di Stadion Allianz Arena. Juve mengakhiri tren kekalahan dengan menang 1-0.

Tudor pun puas dengan performa lini belakang dan kuartet gelandangnya. Berbeda dengan Motta yang mendambakan stabilitas dan superioritas penguasaan bola, Tudor menginstruksikan pemain Juve menyajikan operan-operan vertikal cepat ke zona lawan.

”Sistem taktik sepenuhnya berbeda. Saya ingin kami bermain lebih vertikal dan dengan pendekatan intensitas yang beda,” kata Tudor.

Ia menambahkan, ”Saya senang karena anak-anak memahami, mereka ingin melakukan banyak hal. Masih banyak hal yang harus kami lakukan, tetapi itu normal dalam situasi saat ini.”


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata