Ironi Thiago Motta, dari Harapan Menjadi Sumber Bencana Juventus

Motta datang ke Juventus hanya untuk singgah sekejap. Dari sumber asa, ia dinilai sebagai penyebab bencana. Kegagalan menjaga relasi dengan pemain jadi penyebab.

24 Mar 2025 16:42 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Sembilan bulan terlampau singkat untuk Thiago Motta yang sempat digadang-gadang sebagai pelatih masa depan Juventus. Dari yang awalnya dianggap sebagai sumber harapan, pandangan para petinggi Juventus terhadapnya berubah. Motta dinilai bisa menjerumuskan klub bila terus dipertahankan. Posisinya kini diambil alih mantan bek Juventus, Igor Tudor.

Kedatangan Motta pada Juni tahun lalu bukan saja dianggap sebagai awal era baru Juventus setelah dibayangi gaya bermain pragmatis ala Massimiliano Allegri. Motta dianggap revolusioner dari segi gaya bermain mengacu pada keberhasilannya membawa Bologna bersaing di papan atas Liga Italia sekaligus menembus Liga Champions Eropa musim ini.

Quote

Juventus FC mengumumkan telah memberhentikan Thiago Motta dari jabatannya sebagai pelatih tim utama putra.

Namun, rentetan kekalahan memalukan 0-4 dari Atalanta di markas sendiri yang disusul 0-3 dari Fiorentina menjadi puncak kisah Motta bersama ”Si Nyonya Tua”. Mantan pemain Paris Saint-Germain itu dinilai berbahaya bila dipertahankan hingga akhir musim. Juventus punya ambisi besar mengamankan tempat di Liga Champions musim depan. Kekalahan dari Atalanta dan Fiorentina membuat kans tersebut menipis lantaran Juventus terpental dari posisi empat besar klasemen.

”Juventus FC mengumumkan telah memberhentikan Thiago Motta dari jabatannya sebagai pelatih tim utama putra. Juventus FC juga mengumumkan telah mempercayakan kepemimpinan tim utama putra kepada Igor Tudor, yang akan memimpin sesi latihan pertama besok,” demikian keterangan dari Juventus yang dirilis melalui laman resmi klub, Senin (24/3/2025) dini hari WIB.

Juventus’ Italian coach Thiago Motta takes part in a training session at JTC Continassa in Turin on January 20, 2025, on the eve of the UEFA Champions League football match Club Brugge vs Juventus. (Photo by MARCO BERTORELLO / AFP)

Motta dikontrak dalam jangka waktu tiga tahun atau hingga Juni 2027. Kehadirannya sempat membawa harapan besar pada perubahan paradigma bermain Juventus yang terkenal begitu menjemukan di bawah Allegri. Motta dinilai berhasil mengangkat Bologna menjadi tim yang mengusung gaya bermain atraktif dengan mengandalkan possession, membangun serangan (build up) konstruktif, penuh dengan rotasi posisi, serta barisan lini serang yang cair (fluid).

Ia dipecat setelah hanya memimpin Juventus dalam 42 laga. Dari 42 laga itu, Motta mempersembahkan 18 kemenangan, 16 hasil imbang, dan delapan kali kalah. Pada awal musim, Juventus sempat tidak terkalahkan dalam 21 laga. Namun, dalam periode tersebut, Juventus lebih banyak meraih hasil imbang (13 kali) sehingga tetap tidak bisa membawa Juventus dalam persaingan gelar juara liga.

Perolehan poinnya pun tidak lebih baik dibandingkan dengan Allegri. Setelah 15 laga menangani Juventus, Motta hanya bisa mengumpulkan 27 poin. Dengan jumlah laga yang sama, Allegri mampu mencatatkan 36 poin. Pelan tetapi pasti, kepercayaan tinggi yang melekat pada Motta di awal kedatangannya mulai tergerus.

Kekecewaan pendukung Juventus tidak terbendung lagi saat menyaksikan tim mereka dibantai empat gol tanpa balas oleh Atalanta di markas sendiri. Saat itu, banyak pendukung Juventus yang terlihat meninggalkan Stadion Allianz meski laga belum usai.

Igor Tudor dalam arsip foto tanggal 30 Maret 2024. Igor Tudor ditunjuk menjadi pelatih sementara Juventus menggantikan Thiago Motta.

Selain kurang bisa bersaing di Liga Italia, Motta juga gagal membawa Juventus melaju lebih jauh di Liga Champions setelah kalah dari PSV Eindhoven pada play off babak 16 besar. Di laga puncak Piala Super Italia, Juventus harus mengakui keunggulan Milan. Motta turut gagal di Piala Italia seusai kalah adu penalti dari Empoli.

Sederet kegagalan itu yang kemudian meyakinkan pengambil keputusan penting di internal Juventus kian meyakini bahwa mempertahankan Motta adalah sumber bencana di masa depan. Juventus selama ini tidak punya kebiasaan memecat pelatih di pertengahan musim, apalagi saat Liga Italia tinggal menyisakan sembilan pekan.

Dari sana sudah terbaca jelas bahwa para petinggi Juventus sudah tidak lagi melihat harapan dalam diri Motta. Malahan, pemecatan Motta diyakini menyelamatkan klub dari kemungkinan terburuk, gagal bermain di Liga Champions pada musim depan.

Perselisihan

Kegagalan Motta mengangkat performa Juventus bisa dilihat dari berbagai macam perspektif, salah satunya akibat perselisihan dengan para pemain. Ia sempat bertikai dengan Danilo yang merupakan figur pemimpin ruang ganti Juventus. Danilo kemudian memutuskan hengkang pada pertengahan musim ke klub Brasil, Flamengo.

Kepergian Danilo membuat Juventus kehilangan pemain berpengalaman setelah Wojciech Szczesny dan Federico Chiesa juga pergi di awal musim ini karena tidak masuk rencana Motta. Setelah kepergian para pemain senior itu, Juventus terkesan kekurangan pemimpin di atas lapangan. Ini terlihat dari kelambanan Motta memilih kapten definitif setelah Danilo pergi.

Arsip foto tanggal 11 Januari 2025 menampilkan Pelatih Juventus Thiago Motta sebelum pertandingan Liga Italia antara Torino dan Juventus di Stadion Olympic Grande Torino, Turin.

Ban kapten Juventus kemudian berpindah-pindah. Dari Danilo kemudian menjadi milik Federico Gatti. Manuel Locatelli, Teun Koopmeiners, dan Weston McKennie juga sempat mengemban jabatan tersebut.

Langkah Motta membuat sejumlah pemain kurang senang. Apalagi mengingat perlakuannya terhadap Danilo dan Fagioli. Ketidakpuasan semakin menguat akibat kebijakan rotasi Motta pada paruh kedua musim.

Pencetak gol terbanyak Juventus, Dusan Vlahovic, menjadi korbannya. Ia hanya menjadi pemain mula pada satu pertandingan Liga Italia sejak awal tahun ini menyusul kedatangan Randal Kolo Muani dari PSG. Keduanya tertangkap kamera pernah berdebat selama jeda istirahat saat Juventus menghadapi AC Milan di final Piala Super Italia.

Hubungan yang kurang harmonis dengan sejumlah pemain menjerumuskan Motta dalam penderitaan. Koleksi 18 kemenangan di seluruh kompetisi menjadikannya salah satu pelatih Juventus dengan rasio kemenangan terendah, yakni hanya 43 persen. Sepanjang sejarah klub, hanya Luigi Delneri (40 persen) dan Sandro Puppo (24 persen) yang mencatatkan rasio kemenangan lebih buruk sejak 1929-1930.

Dari yang awalnya dianggap sebagai sumber harapan, Motta dalam sekejap menodai karier cemerlangnya di Bologna dengan menerima tawaran Juventus.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata